
...10...
Ember yang di pegang Raehan , jatuh ke tanah . Tanpa ia sadari.
Langkah kaki nya mengayun dengan sendiri nya. Mendekat ke arah ciptaan tuhan yang begitu sempurna.
Pandangan Raehan tidak dapat teralihkan sedetik pun. Bahkan kelopak mata nya tidak berkedip sama sekali.
Mungkin ini yang di sebut jatuh dalam pesona pria tampan.
Raehan berhenti tepat di depan pria yang tengah bersender dengan mata terpejam. Sementara telinganya di pasang Earphone berwarna biru langit.
DEG...
DEG...
DEG...
Jantung Raehan berdegup dengan sangat kencang. Bahkan rasanya jantung nya akan meledak karna pesona pria di hadapan nya.
Garis wajah yang jelas, Bentuk wajah yang oval, Bibir yang begitu sensual dan berwarna merah, alis yang tebal dan tajam. Dan bulu mata yang begitu lentik melengkung ke atas. Belum lagi bahu kekar dengan perpaduan warna kulit putih.
Sangat sempurna, benar- benar ketampanan yang hakiki. Pikir Raehan.
Tubuh nya bagai di sihir dengan pesona ketampanan pria di depan nya. Hingga ia bahkan tidak bisa menggerak kan tubuh nya sedikit pun.
Seakan tubuh nya, di paku di atas tanah ini. Bahkan Raehan mengusahakan nafas nya berhembus dengan halus. Agar pria tampan ini tidak terganggu dengan keberadaan nya.
"Ya tuhan... Kakak ini... Dia adalah orang yang sama yang ku lihat saat hari pertama MPLS.. Aku tidak pernah menduga, jika aku bisa melihat nya sedekat ini. Bahkan bisa menikmati wajah nya yang tampan... Jika ada bidadari pria... Maka dia adalah salah satu nya.
Hhhh jantung ku... Apa kamu baik- baik saja di saja.. Jangan berhenti berdetak dulu... Aku belum ingin mati.. karna melihat ketampanan ini..."
Agara mengkerut kan dahi nya. Pandangan nya terasa terganggu. Seperti ada sesuatu yang menghalangi sinar matahari, membuat nya menjadi teduh.
Raehan semakin terpaku, dengan tangan nya yang mengepal erat. Pria tampan di depan nya bergerak dan akan segera membuka mata.
Ia ingin kabur saat ini juga. Tapi rasa nya kaki dan tubuh nya sama sekali tidak mendengar perintah dari otak nya. Membuat Raehan semakin membatu di tempat.
Agara mengerjap kan kelopak mata nya perlahan. Netra nya menangkap sosok gadis yang mematung di hadapan nya.
"Astaga dia bangun... Ohh tuhan dia semakin tampan jika seperti itu, rasa nya aku ingin pingsan saat ini juga..." Batin Raehan bersorak riang di dalam hati.
Agara menatap Raehan dengan muka datar. Lalu beranjak dari duduk nya.
Tinggi tubuh Raehan hanya sebatas dada nya. Membuat Raehan harus mendongak ketika menatap Agara.
__ADS_1
..."*Aku harus bisa mendapatkan nomer telpon nya..." Batin Raehan yang terus mengagumi ketampanan Agara....
"Cih... Gadis ini,, menatap ku dengan tatapan menjijik kan itu... Apa para gadis tidak bisa tidak terpesona dengan ketampanan ku..." Batin Agara menatap Raehan dengan tatapan tidak suka*.
Ia adalah idola di sekolah ini. Siswa paling tampan di sekolah Milver tersemat di belakang nama nya.
Agara sangat tahu, apa arti tatapan Raehan. Memuja dan terpesona itu lah yang terlihat pada ke dua manik hitam mata Raehan.
Hal itu membuat Agara muak. Ia sangat tidak suka dengan semua cara gadis menatap nya, bahkan merayu untuk meminta di jadikan kekasih oleh nya.
Tapi ia sama sekali tidak tertarik . Jangan kan cinta, rasa sayang dari ke dua orang tua nya saja. Ia tidak pernah merasakan rasa itu. Membuat diri nya menutup hati dan mata untuk mendekati hal- hal yang berbau kasih sayang atau pun cinta.
Bagi nya kesendirian adalah kawan nya. Yang tidak akan pernah meninggalkan diri nya.
Agara melangkah pergi dari hadapan Raehan, sebelum tubuh mungil itu menghadang langkah nya tepat di depan nya.
Raehan merentangkan ke dua tangan nya lebar. Ia tidak ingin menyia- nyiakan waktu saat diri nya bertemu dengan Agara. Setidak nya ia tahu sesuatu atau bisa mendapat kan nomer ponsel dari pria tampan yang sudah mencuri hati dan ketenangan nya.
Agara menatap Raehan dengan tajam. Mengisyaratkan untuk segera menyingkir dari jalan nya.
"Tu... Tu... Tu... " Suara Raehan, terbata- bata. Diri nya ingin mengatakan sesuatu tapi, rasa nya lidah nya kelu untuk berbicara.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Pikir Raehan dengan mengontrol perasaannya yang sedang meluap- luap gembira.
Raehan menghembuskan nafas nya kasar. Memantap kan diri nya untuk berbicara dengan pria tampan ini.
Ia tidak bisa menyia- nyiakan waktu lagi, pikir nya.
"Kak boleh ku tahu siapa nama mu???" Ujar Raehan dengan satu tarikan nafas.
Kalimat itu keluar dengan begitu lancar dari mulut kecil nya.
Sungguh Raehan merasa sesuatu yang mengganjal di kerongkongan nya menghilang begitu saja, bersamaan dengan keluarnya pertanyaan sederhana itu dari mulut nya.
Agara memicing kan alis nya. Menatap lekat gadis di depan nya.
Ia berpikir gadis ini, akan mengatakan sesuatu yang lain, sampai - sampai buliran keringat mengalir turun di samping pipi putih nya.
Tapi, dia hanya menanyakan sesuatu yang bahkan tidak penting seperti ini. Pikir Agara dengan menghembuskan nafas nya.
Tidak ingin mendengarkan omong kosong gadis tidak jelas asal usul nya. Agara mengambil langkah di samping Raehan, dan melewati Raehan tanpa menjawab pertanyaan gadis pendek itu.
"Omong kosong...." Batin Agara bosan. Lalu melangkah pergi, sebelum sebuah cengkraman di tangan nya menarik nya untuk menghentikan langkah nya.
Agara menatap kesal, jari jemari kecil yang melekat di pergelangan tanga nya.
__ADS_1
Ia segera menghempaskan tangan Raehan dengan kasar. Membuat tubuh mungil Raehan terjengkang ke belakang karna dorongan tenaga Agara.
"Jangan berani menyentuh ku...!!" Hardik Agara geram.
Raehan segera menganggkat ke dua tangan nya ke udara. Seperti sedang di todong pistol oleh seorang polisi.
Raehan menggelengkan kepala nya cepat. Mengerti apa perintah dari Agara.
Bukan merasa ciut dengan hardikan Agara. Raehan malah merasa sangat di berkati, karna bisa mendengar suara semerdu itu. Rasa nya ia ingin memiliki suara itu.
Raehan kembali mendekat ke arah Agara. Membuat tatapan Agara tertunduk pada Raehan, di karnakan postur tubuh Raehan yang pendek.
"Kak... Bisa kah aku meminta nomer ponsel mu??" Cecar Raehan lagi, kini dengan cengiran khas nya.
Agara kembali geram dengan tingkah gadis di depan nya. Semua gadis ternyata sama saja. Pikir Agara dengan emosi yang mulai tersulut.
"*Aku sudah membuang waktu, dengan rubah betina ini.. Dasar tidak tahu malu..." Batin Agara jenggel, dengan guratan kekesalan di ke dua manik mata merah nya.
"Ya ampun, kakak ganteng ini juga harum sekali... Bahkan aku bisa menghirup aroma tubuh nya.. Air liur ku rasa mau menetes..." Batin Raehan dengan perasaan yang meronta- ronta*.
Tidak ingin berlama- lama dengan gadis pendek ini, Agara segera melanjutkan langkah kaki nya yang sempat berhenti. Hanya untuk mendengar pertanyaan yang tidak berbobot dari gadis yang di sebut nya Rubah.
"Kak... !!" Panggil Raehan, pada Agara yang berjalan semakin menjauh dari nya.
"Selain tampan dia pelit juga.. Nama nya saja tidak mau di beri tahu kan... Ahh tapi sudah lah,,, apa pun sifat nya ... Aku menyukai semua nya..." Kekeh Raehan tanpa mengalihkan pandangan nya pada punggung Agara yang semakin mengecil dan menghilang.
"Woiii... Ngelamunin apa...??" Sentak Anet yang tiba- tiba menyenggol bahu Raehan.
...----------------...
...****************...
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
__ADS_1