
...12...
Langkah Dion berhenti tepat di depan Raehan , dengan ke dua tangan nya memegang dua botol minuman.
Raehan dan Anet mendongak, menatap Dion dengan bingung.
Kenapa si ketua Osis menyebalkan ini berada di sini?.
Dion menyodorkan salah satu minuman yang di bawa nya ke arah Raehan, yang semakin membuat Raehan memicing kan mata nya bingung.
"Lah... Tumben- tumben nan si cowok rombeng ini kasi aku minum... Apa ngak salah..?" Tanya Raehan dalam hati.
Ia belum habis pikir dengan tingkah pria di depan nya. Kadang membuat nya kesusahan, tapi terkadang begitu peduli dengan diri nya.
"Aku tidak sejahat itu, untuk menambahkan racun dalam minuman ini.." Ujar Dion ketus, melihat Raehan yang diam membisu.
Tangan nya sudah sangat pegal, sejak tadi menyodorkan minuman ini pada gadis polos di depan nya.
"Untuk ku..??" Tanya Raehan memastikan, dengan menujuk diri nya sendiri.
"Dasar kuda... Ngak di pacu ngak jalan..." Celetuk Dion, memutar bola mata nya malas.
Raehan mengambil minuman yang di tawarkan Dion, tapi jangan harap dia mengucapkan kata suci terimakasih pada Dion.
Ia tidak akan melakukan nya. Karna diri nya bisa seperti ini, karna ulah Dion si cowok rombeng.
Dion langsung duduk di samping Raehan. ikut menselonjorkan kaki nya yang panjang.
Anet mendengus miris, melihat sikap Dion yang sangat pilih kasih.
Ia juga sama lelah nya dengan Raehan. Tapi yang di berikan minum cuma gadis di samping nya.
"Minuman untuk ku mana..??" Ujar Anet dengan kesal, ia berpikir minuman satu nya lagi yang di bawa Dion akan di berikan pada nya.
Ternyata itu cuma khayalan nya. Dion malah membawa minuman itu untuk diri nya sendiri.
Raehan menatap Anet yang memasang wajah masam, lalu melirik Dion yang hendak membuka tutup minuman yang masih tersegel rapi.
Sebelum tangan kekar itu bisa membuka segel botol, dengan cepat dan lihai, Raehan merampas minuman tersebut dari tangan Dion.
"Hei... Apa- apaan ini..." Marah Dion menatap Raehan , dengan ke dua tangan nya memegang minuman.
"Kak Dion kan ngak ngisi tangki Air.. Jadi ngak lelah.. Jadi untuk apa kakak minum.. Minuman ini lebih baik di berikan buat kak Anet... Ini kak..." Balas Raehan dengan cengiran puas, melihat wajah menyebalkan Dion semakin sebal.
Lalu memberikan satu minuman pada Anet.
"Thank you Rae..." Cicit Anet bahagia.
__ADS_1
"Sama- sama kak..." Balas Raehan.
Dion membuang wajah nya ke sembarang arah. Gadis di samping nya benar- benar sangat menyebalkan. Di kasi hati malah minta jantung.
Ia sudah berbaik hati memberikan minuman untuk Raehan. Tapi dengan sesuka hati, gadis pendek ini malah merampas minuman nya. Menyebalkan sekali, pikir Dion.
Raehan mencoba membuka tutup botol yang masih tersegel rapi. Tapi segel nya terlalu kuat, membuat jemari putih nya memerah.
Dion langsung menyambar minuman Raehan, membuat sang puan terbelalak.
"Kak Dion minuman ku..." Pekik Raehan terkejut.
Dengan sekali putaran tangan besar nya. Tutup botol tersebut terbuka dengan sempurna.
"Dasar lemah..." Cicit Dion, menyodorkan minuman yang sudah terbuka.
Raehan langsung tersenyum sumringah. Dia pikir pria di samping nya, mengambil kembali minuman yang di berikan nya.
Tapi, ternyata Dion malah membantu nya. Kenapa tiba- tiba cowok rombeng ini manis sekali pada nya ya?. Pikir Raehan.
"Terimakasih...." Ucap Raehan, lalu meneguk minuman nya.
Rasa nya, teronggokan nya terasa begitu segar, saat minuman ini mengalir dengan mulus di dalam kerongkongan nya.
Dahaga dan haus yang ia rasakan, berkurang begitu saja.
...----------------...
Raehan merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur. Yang langsung memanjakan tubuh nya dengan tekstur yang empuk dan hangat.
Setelah setengah hari berkegiatan di sekolah, akhirnya Raehan bisa pulang dan bisa menikmati waktu istirahat tanpa ada suruhan dari Dion.
Dring...
Dring...
Dring...
Suara ponsel Raehan berdering, yang langsung di ankat dan di dekatkan ke daun telinga.
"Rae... Apa kamu sudah pulang nak..?? Sudah makan?? sudah mandi?? sudah gosok gigi? sudah tidur? belum?.." Cecar suara perempuan dengan pertanyaan- pertanyaan nya.
Raehan langsung tertawa terbahak- bahak. Saat mendengar deretan pertanyaan yang di sebut secara berurutan oleh sang ibu.
"Kenapa kamu tertawa Rae.. Apa kamu sedang sakit tertawa??"
"Ha... Ha... Momsy aku merindukan mu..." Pangkas Raehan dengan mata yang mulai berkaca- kaca.
__ADS_1
Tinggal berjauhan dari keluarga nya, tidak se enak yang ia pikirkan.
Setiap malam ia harus menahan rindu pada keluarga nya yang berada di desa.
Merindukan setiap candaan dengan momsy dan popsy, atau merindukan pertengkaran antara diri nya dan adik nya.
"Momsy tidak perlu khawatir... Aku sudah makan mandi dan semua nya... Kapan Momsy akan kemari untuk menjenguk ku...?" Tanya Raehan , mengusap ujung ekor mata nya yang sudah berair.
"Momsy juga ingin segera menemui mu Sayang.. Tapi Popsy mu sangat sibuk... "
"Hmmm Aku mengerti Momsy... Jangan khawatir aku baik- baik saja di sini.."
"Ingat jangan sampai kamu terjerumus pergaulan bebas ya sayang... Jaga diri mu baik- baik.. Apa lagi dari pria hidung belang..." Pesan sang ibunda.
"Iya Mom... Lagi pula siapa juga yang naksir sama aku.. Udah pendek ngak cantik lagi... Itu sudah cukup menjadi tameng ku mom... Aku pastikan tidak ada yang akan melirik anak mu ini..."
"Hei... Siapa bilang begitu,,, Kamu ini gadis yang unik... Jangan berkecil hati seperti itu sayang... Semua orang ada kekurangan nya... Tapi semua orang juga punya kelebihan... Cantik itu relatif sayang...
Jangan mengolok- ngolok diri mu sendiri... Momsy jadi tersindir, karna momsy yang melahirkan mu...
Ingat Rae... Kamu cantik di mata pria yang mencintai mu..." Jelas Momsy panjang lebar.
"Baiklah Mom... Aku mengerti... Aku tutup telpon nya ya ... By Momsy..."
Tut...
Tut...
Tut..
Panggilan telpon terputus, bersamaan dengan pikiran Raehan yang melayang, mengingat kejadian saat diri nya bertemu dengan Agara.
"Aku tidak bisa tenang kalau begini...??? Wajah tampan nya selalu terbayang- bayang... Ohhh apa aku cari nomer ponsel nya di group sekolah ya... Pasti ada..." Gumam Raehan berbinar, dan langsung melancarkan aksi nya.
Memilah nomer yang berjejer di layar ponsel nya.
Raut wajah ceria nya semakin memudar, ketika netra hitam nya, tidak menemukan nomer ponsel yang ia cari.
"Ternyata tidak ada... Kak Aga sangat tertutup... Lalu bagaimana aku bisa mendekati nya...??? " Pikir Raehan dengan keras. Ia harus menemukan cara untuk mendapatkan nomer ponsel pria tampan itu.
Jari nya, berhenti bergerak. Saat melihat nama Dion.
"Seperti nya ini jalan satu- satu nya... Aku harus meminta nya pada si Dion rombeng... Meski aku harus membayar dengan mahal..." Ujar Raehan lagi, menghembuskan nafas nya pelan.
...----------------...
...****************...
__ADS_1