
...289š...
Raehan mengedarkan pandanganya, menatap kagum pada taman yang sudah dihias dengan begitu indah. Lampu-lampu kecil tergantung begitu banyak, terlihat seperti taburan bintang yang ada di bumi.
Tatapan Raehan terhenti pada sebuah bangunan hall yang terletak di tengah-tengah taman, lalu ada meja makan dengan lilin di yang berdiri dengan tegak.
Raehan tersentak kaget, saat merasakan tangannya di genggam. Ia menoleh ke arah Dion yang kini menatapnya dengan intens dan sangat dalam. Bahkan ia merasa salah tingkah dengan tatapan tersebut.
Dion menarik Raehan, dan membawa Raehan menuju hall yang sudah di hias dengan sangat romantis. Dion menarik kursi di depan Raehan, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Raehan memaksakan senyumnya, ia tidak ingin membuat Dion kesal ataupun marah. Ia tahu jika Dion sudah bersusah payah untuk membuat semua hal yang begitu indah di taman ini.
Raehan duduk dengan manis di kursi, lalu Dion menarik kursinya sendiri dan duduk.
"Kau suka tempat ini?" tanya Dion dengan tersenyum pada Raehan. Menatap wajah Raehan dari bawah sinar lilin benar-benar sesuatu yang sangat langka.
"Tempat ini sangat indah kak, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Raehan masih menelisik setiap pemandangan taman yang di hias dengan sangat indah.
"Tidak, untuk gadis spesial seperti mu," Dion membuka tudung saji yang ada di depan Raehan. Bersamaan dengan itu, suara melodi piano mulai terdengar.
Lagi-lagi Raehan terpana dengan apa yang sudah di siapkan oleh Dion. Melodi piano yang sedang di mainkan benar-benar memanjakan telinganya.
Belum lagi, dihadapannya ada sepiring stik yang terlihat enak. Bahkan ia bisa mencium bau dari daging sapi yang di panggang.
"Apa aku bisa memakannya?" celoteh Raehan dengan menyegir ala kuda. Melihat makanan, membuat perutnya terasa lapar.
"He ... he ... ini memang untukmu," balas Dion dengan terkekeh lucu. Ia benar-benar sangat gemas dengan sikap Raehan. Malam ini ia merasa sangat senang, karna bisa makan malam romantis dengan gadis pujaannya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi, Raehan mulai memotong stik lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Raehan terpejam dalam, saat merasakan lidahnya di goyang hebat dengan rasa stik yang benar-benar gurih dan lezat.
"Hmmm, ini sangat enak." Raehan mengangkat tangannya, menyatukan telunjuk dan jari jempol hingga berbentuk bulat.
Dion meraih sebelah tangan Raehan, mengelus punggung tangan gadis yang selama ini selalu ia dambakan. Seketika raut wajah Raehan menjadi canggung, saat melihat tatapan Dion yang begitu intens dan dalam.
"Aku ingin mengatakan sesuatu!" seru Dion dengan memasang wajah serius.
"Mengatakan apa?" balas Raehan dengan meletakkan garpu di atas piring. Perasaannya saat ini tidak enak, ia merasakan jika Dion akan mengungkapkan perasaannya.
Jika hal itu sampai terjadi, apa yang harus ia jawab? Dion sangat baik padanya, bahkan laki-laki di depannya sudah banyak melawan luka untuknya. Apakah dirinya tega untuk menolak perasaan Dion? Tapi, hatinya masih di miliki oleh orang lain. Pikir Raehan berusaha memaksakan senyumnya pada Dion.
"Mungkin pertemuan awal kita sangat menyebalkan. Tapi, semakin aku mengenalmu. Semakin aku melihat sesuatu yang tidak dimiliki oleh gadis yang pernah ku temui," Dion menjeda kalimatnya, berdiri dan menarik Raehan untuk berdiri tepat di depannya. Perlahan tapi pasti, Dion merendah dan berlutut di depan Raehan.
"Untuk pertama kali, aku jatuh cinta pada seorang gadis. Dan gadis itu, adalah kamu Rae." Dion menarik tangan Raehan yang di genggamnya, mendaratkan sebuah kecupan dalam pada punggung putih mulus gadis itu.
Dion tersenyum menatap wajah Raehan yang terlihat sedih sekaligus bingung. Perlahan ia pun berdiri dan mengikis jarak di antara dirinya dan Raehan.
"Jangan terbebani, dengan perasaanku. Aku tidak menuntut dirimu untuk menerima perasaanku. Aku tahu jika hatimu, bukan untukku. Tapi untuk Agara. Aku paham dan aku mengerti akan hal itu. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, saat air mata jatuh dari matamu yang indah, hatiku terasa sakit. Aku tidak menuntut dirimu menjadi milikku. Aku hanya ingin, biarkan aku ada di sekitarmu. Melihatmu dari dekat, dan menjagamu. Cukup itu saja, aku sudah merasa sangat bahagia Rae---"
Srapp !!!
Raehan langsung memeluk Dion dengan erat. Ia benar-benar terenyuh dan sedih mendengar apa yang dikatakan Dion. Ia tidak percaya, jika Dion sama sekali tidak menuntut balasan perasaan darinya. Malah meminta sesuatu yang pastinya akan membuat hati pria ini terluka.
Dion membalas pelukan Raehan tak kalah erat, pelukan yang selalu ia inginkan. Pelukan yang begitu hangat, pelukan yang membuat dunianya terasa bersinar.
"Hiks ... Hiks..." Tangis Raehan pecah begitu saja, Dion benar-benar pria yang sangat baik. Ia tidak pantas bersanding di samping seorang Dion pratama.
__ADS_1
Dion merasa lega, sudah mengatakan rasa yang mengganjal di lubuk hatinya. Meski ia tahu jika hati Raehan bukan untuknya. Tapi, ia tetap memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Raehan. Ia tidak ingin egois dengan memaksa Raehan menerima perasaannya, ia mencintai Raehan bukan menyakiti. Mungkin di mata semua orang ia adalah pria paling bodoh, karna bertahan dan berada di samping perempuan yang begitu di cintai. Namun, tak bisa untuk memiliki.
Raehan dan Dion masih berpelukan dalam suasana yang begitu romantis, tanpa mereka sadari sejak tadi ke dua mata merah menatap mereka dengan tajam dari balik pohon tak jauh dari hall.
Mata merah itu terlihat marah dan cemburu, bahkan rahangnya mengeras dengan jelas.
"Ssshhhh," desis Agara menahan amarah yang sedang terbakar dengan hebat di dalam dirinya, melihat gadis yang sangat di cintainya berpelukan dengan pria lain. Hatinya terasa panas dan pecah menjadi keping-kepingan. Rasanya begitu sakit, bahkan menyesakkan dada.
Agara meninju pohon di sampingnya dengan keras, hingga punggung tangannya terluka dan berdarah. Sebenarnya malam ini, ia datang ke rumah Raehan karna merasa rindu untuk bertemu. Namun, saat ia tiba di rumah Raehan, Lion mengatakan jika Raehan baru saja pergi dengan Dion.
Dengan gerakan langkah seribu, Agara segera bergegas dan mengikuti kemana perginya mobil Dion membawa gadisnya. Dan kini, dirinya berakhir dengan melihat adegan romantis antara keduanya.
"Apa Raehan sudah tidak mencintaiku lagi?" lirin Agara dengan ke dua matanya yang merasa panas.
Tidak ingin menyaksikan keromantisan Raehan dan Dion, Agara memilih pergi dengan hati yang benar-benar kacau.
Srakk !!!
Suara ranting patah yang terinjak, membuat Raehan dan Dion mengurai pelukannya. Raehan langsung menoleh ke arah sumber suara. Dirinya terdiam seribu bahasa, saat melihat punggung pria yang sangat familiar berjalan menjauh meninggalkan taman.
"Kak Aga!" batin Raehan.
...----------------...
...****************...
Ck... Ck... Kasihan banget si Agara harus lihat Raehan pelukan. Mampus kan.. Raehan aja lihat kamu tunangan di depan matanya Ga, rasakan karmamu ya gantengš¤£
__ADS_1
Yok, jangan lupa like, koment, gift, anda vote ya.