Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Sandiwara Agara


__ADS_3

...315🥶...


"Ion, udah jangan di bolak-balik terus kertasnya. Nama Raehan ngak bakal ketemu," ujar Niel yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Dion.


"Ya gimana ngak di bolak-balik. Orang nama Raehan belum aku panggil. Kok bisa nama Raehan ngak ada, padahal udah aku masukin kemarin," balas Dion dengan kesal.


"Sampai hari kiamat, atau ikan sampai beranak pun kamu ngak akan nemu nama Raehan di sana. Noh, Raehan udah naik ke Bis empat."


"Kok bisa?"


"Mana aku tahu, makanya Ion, jangan curang pilih-pilih anggota tim. Nah, sekarang kena karma kan," ejek Niel sambil tertawa sumbang.


"Ini pasti gara-gara kamu kan Niel, kamu pasti yang sudah memindahkan nama Raehan," tuduh Dion dengan bau asap keluar dari tubuhnya.


Niel melebarkan kedua matanya. Ia tidak salah dengar bukan?


"Sorry ya, Ion, ngak ada kerjaan banget aku, kalau mindahin nama Raehan, dahlah aku mending naik ke Bis. Cepetan naik, kita mau berangkat." Niel segera melenggang pergi dari hadapan Dion yang terbakar kekesalan. Kasihan sekali nasib sahabatnya itu, sudah merencakan semuanya dengan susah payah. Eh, ternyata gagal.


Dion menatap lekat ke arah Bis keempat. Kedua tangannya mengepal dengan sangat erat, dimana rahangnya mengetat dengan sempurna. Saat melihat siapa pria yang duduk di samping Raehan, yang tak lain adalah rivalnya Agara.


Sekarang ia tahu, siapa yang membuat nama Raehan menghilang dari timnya. Itu pasti ulah Agara.


"Sial, dia memang licik. Aku yakin, dia yang sudah mengubah daftar timku," gumam Dion dengan kabut amarah yang menyelimuti dirinya.


"Kak Dion, ayo naik!" seru Kiara dari pintu Bis. Terlihat wajah Kiara begitu bahagia. Tentu saja karena ia berada satu tim dengan Dion. Pria tampan yang menjadi incarannya, tetapi terhalang oleh kehadiran Raehan.


Dion segera naik ke dalam Bis, melewati Kiara begitu saja dan duduk di kursi barisan ke empat. Ia masih sangat kesal dan marah karena rencananya berhasil digagalkan oleh Agara.


Akan tetapi, ia tidak akan menyerah semudah itu. Kali ini Agara mungkin menang, tapi saat sampai di puncak ia akan membuat Raehan selalu berada sisinya.


"Wah, selain satu Bis kita juga satu tempat duduk ya," ujar Kiara sangat senang, ketika melihat ternyata teman satu kursinya adalah Dion.

__ADS_1


"Sial, kenapa harus dia sih," umpat Dion. Sungguh perjalanan kali ini baginya sangat sial. Pertama, ia tidak jadi duduk dengan Raehan, dan sekarang teman satu kursinya adalah Kiara. Gadis jadi-jadian seperti ulat gatal.


Kiara segera duduk di samping Dion. Dengan berani ia mengamit lengan Dion yang langsung mendarat tepisan kasar dari pria berwajah dingin tersebut.


"Jangan berani menyentuhku!" tegas Dion memperingatkan Kiara. Jujur, di sentuh oleh gadis seperti Kiara membuat bulu kuduknya berdiri.


"Galak banget sih, tampan," balas Kiara cekikikan sembari mencolek dagu Dion.


"Aku bilang jangan sentuh, atau mau ku tendang keluar dari Bis," ancam Dion dengan mata melotot.


"Ahhh, ya udah deh ngak sentuh-sentuh lagi. Tapi, pinjem pundaknya buat nyender ya," pinta Kiara dengan manja, lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Dion.


Dion memejamkan kedua matanya, menahan kekesalan yang semakin membuncah dalam dirinya. Seharusnya saat ini Raehan yang menyender di bahunya, tapi sayangnya ia malah terjebak bersama dengan Kiara, dan ini disebabkan oleh Agara.


Keempat Bis mewah itu mulai melaju menuju puncak. Perjalanan akan memakan cukup banyak waktu karena jarak tempuh antara kota dan puncak sangat jauh. Mungkin, membutuhkan waktu 10 jam. Sehingga di perkirakan seluruh peserta akan sampai saat sore menjelang malam.


Acara pelantikan Anggota Osis baru ini akan di selenggarakan selama tiga hari. Selain untuk pelantikan, mereka juga akan mengadakan acara perpisahan dengan Alumni Osis saat malam terakhir.


Lampu-lampu indah di pinggir jalan yang selalu menyala setiap malam kini tidur menyembunyikan sinar orange miliknya.


Agara melirik ke arah Raehan, tetapi gadis di sampingnya masih dengan posisi awal. Tidak ingin menoleh ke arahnya barang sedetik pun.


"Kau akan tetap diam?" tanya Agara memecah kesunyian di antara dirinya dan Raehan.


"Memangnya apa yang harus aku bicarakan, tidak ada," jawab Raehan dengan nada jutek. Gengsi dan Egonya masih sangat tinggi.


Agara melipat bibirnya dan menganggukkan kepala ringan. Ia harus mencari cara untuk membuat Raehan perhatian padanya. Hanya satu yang akan membuat Raehan melirik ke arahnya, yaitu dengan bersandiwara jika ia terluka. Ia yakin, senjatanya kali ini tidak akan gagal.


"Auuh, kenapa penglihatanku semakin buram ya? Bola matanya juga terasa perih. Mungkin karena infeksi bumbu keripik tadi. Aku harap kedua mataku tidak menjadi buta," ucap Agara berbicara pada dirinya sendiri. Memulai sandiwaranya dengan dramatis.


Mendengar mata Agara yang kembali sakit, bahkan bisa menjadi buta. Raehan segera menoleh ke arah Agara, di mana pria di sampingnya itu terlihat mengucek-ngucek kedua matanya.

__ADS_1


Dia tidak sedang bersandiwara bukan? tapi bagaimana jika mata Kak Aga benar-benar sakit dan jadi buta. Astaga, aku tidak mau sampai hal itu terjadi. Batin Raehan mulai panik.


Dengan cepat, Raehan menarik kedua tangan Agara agar pria itu berhenti mengucek kedua matanya.


"Jangan terus dikucek, nanti tambah infeksi!" seru Raehan dengan nada sedikit panik.


Untuk sejenak, Agara terdiam. Lihat, senjatanya dengan pura-pura sakit selalu berhasil. Sekarang Raehan bersikap hangat padanya, tidak seperti sebelumnya. Agara tersenyum dalam hati, ia benar-benar sangat senang.


"Tapi, mataku terasa sangat perih dan gatal." Agara mencoba menarik tangannya dari Raehan, di mana kedua matanya berkedip-kedip tidak beraturan.


"Sudah aku bilang, jangan dikucek. Jadi plese jangan keras kepala. Kemarilah, aku akan meniupnya. Supaya sisa-sisa bumbunya keluar." Raehan menarik tengkuk Agara, hingga jarak antara wajahnya dengan Agara terkikis sangat dekat, hanya tinggal dua centimeter lagi maka wajah mereka akan menempel.


Raehan meniup kedua mata Agara dengan hati-hati, berharap jika kedua mata Agara akan terasa lebih baik. Sedangkan Agara, mengunci tatapannya pada wajah Raehan yang terlihat cantik dengan posisi sedekat ini.


Bibir pich gadis itu maju kedepan, meniupkan nafas dengan aroma bumbu keripik. Lalu, pipi chuby Raehan terlihat mengembung dan mengempis. Sungguh pemandangan yang begitu indah dan eksotis. Ia sama sekali tidak mampu untuk sekedar berkedip, takut jika wajah Raehan akan menghilang dari jangkauannya.


Setelah merasa cukup, Raehan melepas tengkuk Agara. Ia manatap lekat wajah tampan yang masih menatapnya dengan penuh damba.


"Bagaimana apa sudah terasa lebih baik?" tanya Raehan dengan menautkan alisnya.


...----------------...


...****************...


Romantis banget sih❤️❤️❤️


jangan lupa like


koment


gift

__ADS_1


vote


__ADS_2