
...337...
Raehan berjalan mendekat ke arah Agara dan Dion yang terlihat sedang terlibat perang dingin. Meski duduk dengan posisi berjauhan, tetapi aura bermusuhan dan ingin saling mengalahkan bisa ia rasakan.
Atmosfer di sekitar Raehan pun terasa sangat dingin, seolah-olah ia sedang berada di Kutub Utara. Raehan memandang ke arah Agara yang terlihat memasang wajah kesal dan dingin. Lalu, ia memandang ke arah Dion yang memilih menatap ke arah luar Bis. Akan tetapi, tatapan Raehan menatap nanar pada nasib teko yang ada ditangan Dion yang sudah penyok. Sungguh malang nasib teko tersebut.
"Kak Aga, ini bajumu." Raehan menyerahkan sebuah kaos berwarna maroon pada Agara dengan gaya trandy jaman kekinian. Agara segera meraih kaos tersebut sambil tersenyum manis.
"Makasih, Sa---"
"Ekhhem." Raehan lansung berdehem saat Agara akan memanggilnya dengan sebutan Sayang. Ia melirik ke arah Dion memberikan kode pada Agara untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Sayang. Agara memutar bola matanya kesal, sementara Raehan tersenyum lucu.
Raehan kembali duduk di antara dua pria yang tengah bersitegang akibat dirinya. Siapapun tolong foto mereka, pasti foto tersebut bisa dijadikan sebuah cover novel dengan judul 'Cinra Segitiga'. Raehan terkekeh lucu dengan pemikirannya sendiri yang terkesan alay bin lebay.
Setelah beberapa menit menunggu semua peserta naik semua. Bis akhirnya berangkat, di mana sebelumnya Dewan Guru suda membimbing para peserta untuk berdoa terlebih dahulu.
Empat Bis mewah yang seharusnya pulang ke kota besok pagi, kini malah pulang di hari kedua. Raehan mengedarkan pandangannya melihat pemandangan jalanan yang sayangnya tida bisa ia lihat dengan jelas karena tempat duduknya yang berada di antara dua pria tampan. Akan tetapi, tidak apa-apa setidaknya saat ia menoleh ke samping akan ada wajah tampan Agara dan Dion yang bisa ia lihat sehingga matanya bisa cuci mata.
"Apa kamu membutuhkan sesuatu, Rae?" tanya Agara saat melihat kepala Raehan yang terus menoleh ke sana-ke mari seolah sedang mencari sesuatu.
"Ahh, tidak, aku tidak membutuhkan apapun," timpal Raehan dengan gelengan kepala.
"Apa kamu lapar? Aku bisa ambilkan jika kamu mau?" tanya Dion dengan wajah tulus.
"Tidak, aku masih kenyang Kak. Hanya saja, aku merasa bosan." Raehan mengerucutkan bibirnya ke depan, dan hal itu membuat Dion dan Agara gemas dengan gadis mungil di samping mereka.
"Oh aku tahu, bagaimana jika kamu mendengarkan lagu. Aku punya banyak lagu yang bagus," tawar Dion dengan mengeluarkan ponselnya dan mencolokkan handsheet pada ponsel serta telinga Raehan, kemudian salah satu handsheet lainnya ia pasangkan pada telinga sendiri.
"Bagaimana? Bagus ngak?" tanya Dion lagi.
"Iya, Bagus. Nanti Kakak kirim lagunya ke aku ya?" pinta Raehan.
"Tentu saja, aku punya banyak versi. Aku akan mengirimkan semuanya padamu."
__ADS_1
Agara melirik sinis ke arah Dion. Ia rasanya menjadi kacang yang sedang tumbuh di ladang yang sepi. Raehan begitu antusias membahas masalah lagu dengan Dion sehingga kekasihnya yang manis itu malah melupakan dirinya.
Rasanya ia ingin marah tapi apalah daya ia tidak tega dan tidak sanggup untuk memarahi Raehan. Agara memutar otak untuk menemukan ide agar Raehan berpaling ke arahnya. Senyum Agara lansung terbit saat lampu ide yang begitu terang menyala di atas kepalanya.
"Rae!" panggila Agar tepat di samping telinga Raehan.
"Iya." Raehan lansung menoleh ke arah Agara dengan kepala diangguk-anggukkan karena menikmati alunan musik pada sebelah telinganya.
"Kamu sengaja jadiin aku penjual kacang," dengus Agara, yang berhasil membuat bulu kuduk Raehan berdiri karena hembusan nafas Agara yang tepat di daun telinganya. Hal itu, tentu saja memecah fokus Raehan hingga ia tidak lagi menikmati lagu yang ia dengarkan.
"Apa yang Kak Aga katakan? Aku tidak kacangin Kak Aga. Ayolah, jangan memulai pertengkaran, Kak. Sekali saja, Kak Aga harus akur dengan Kak Dion," ujar Raehan mengingatkan sembari menggengam tangan Agara yang diletakkan di sela-sela paha antara dirinya dan Agara.
"Iya, aku akan melakukannya. Apapun akan kulakukan untukmu. Bahkan, aku siap harus menyebrangi samudra, menuruni jurang yang sangat dalam hanya untukmu,"gombal Agara dengan memainkan jari-jari imut milik Raehan.
"Cih, kalau aku minta Kak Aga mencari Lessia, bagaimana?"goda Raehan dengan jahil. Wajah Agara lansung berubah pias dan tidak bersemangat. Lagi-lagi Raehan mengungkit Lessia. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pepatah. Jika seorang perempuan tidak akan pernah lupa dengan kesalahan yang diperbuat seorang pria. Sungguh, ingatan perempuan sangat tajam saat membahas kesalahan dari seorang pria.
"Kenapa diam?" Raehan mencubit tangan Agara yang sedang ia genggam.
"Untuk yang satu itu sepertinya aku tidak bisa." Agara menyenderkan kepalanya pada kepala Raehan.
"Kecuali yang satu itu. Ya kali aku mencari bangkai, bisa-bisa serigala betina akan menerkam aku detik itu juga."
Raehan tertawa mendengar istilah yang digunakan oleh Agara. Sangat lucu, tetapi juga membuat hatinya berbunga-bunga. Itu artinya, Agara tidak menginginkan kehadiran Lessia.
Dion yang melihat Agara dan Raehan yang tengah asik berbisik dengan tawa ringan, memilih untuk memejamkan kedua matanya. Ia sangat berharap jika rasa kantuk segera menyapa pria patah hati ini sehingga ia tidak perlu melihat interaksi antara Agara dan Raehan yang membuat ia terbakar api cemburu.
Dion mengangkat tangannya hendak meletakkan dibawah kepala sebagai bantalan. Namun, besi tiang yang menyembul keluar menggores jari Dion hingga terluka.
"Aaauuu!" pekik Dion dengan menarik tangannya kembali.
Raehan segera menoleh ke arah Dion, di mana ia bisa melihat jari tangan Dion yang terluka. Dengan cepat Raehan meraih kotak p3k yang memang tidak jauh dari tempat duduknya. Lalu, meraih tangan Dion untuk di obati.
Seperti mendapat berlian dalam samudra yang dalam, hati Dion terasa menghangat saat ia melihat Raehan yang sigap mengambil kotak p3k untuk mengobati lukanya. Bagaimana bisa ia tidak jatuh cinta dengan gadis seperti Raehan yang begitu manis.
__ADS_1
Cih, demi mendapatkan perhatian Raehan, parasit ini melukai jarinya sendiri. Umpat Agara membatin dengan tatapan tidak suka. Dion kembali berhasil mengalihkan perhatian Raehan dari dirinya.
Raehan meniup luka Dion untuk mengurangi rasa sakit. Ia membalut luka Dion dengan perlahan dan hati-hati. Seolah-olah tangan Dion seperti kaca yang sangat rapuh, yang jika terbentur sedikit pasti akan hancur.
"Kak Dion, kenapa bisa luka?" tanya Raehan dengan mimik wajah khawatir.
"Jariku tidak sengaja menggores tiang besi yang tajam itu." Dion menunjuk ke arah tiang besi yang sudah membuat ia mendapatkan perhatian Raehan.
"Lain kali, hati-hati," pesan Raehan.
"Aku tidak keberatan harus terluka jika itu membuat kamu mengobati lukaku."
"Sssttt, jangan katakan itu, aku tidak suka."
"Tapi aku suka kamu."
"Kak Dion berhenti menggombal."
"Baiklah, sesuai perintah Raehan cantik."
Raehan terkekeh geli mendengar panggilan dari Dion, terdengar sangat absurd tapi memang benar adanya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
__ADS_1
vote
tips