
...294💛...
Bel istirahat berbunyi, membuat seluruh siswa maupun siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Wajah sumringah dan ceria terlihat begitu jelas pada masing-masih wajah mereka.
Terlihat mereka telah menghadapi beban yang sangat berat, seperti rantai besar mengikat tubuh mereka dengan kuat. Alunan melodi nyaring, pertanda jika kebebasan mereka telah tiba.
"Mau ke kantin?" pekik Miya dengan bersemangat, bahkan ia sampai melompat di tempat layaknya seekor kodok yang tengah menari di bawah bulan. Raehan terkekeh lucu melihat tingkah Miya.
Tapi berbanding terbalik dengan ekspresi Fir yang malah tertekuk dalam. Bagaimana tidak? ketika semua orang sibuk dan sangat senang untuk pergi ke kantin. Tapi, ia malah berpikir tentang kantungnya yang akan ludes jika ia pergi ke kantin. Nasibnya benar-benar sangat miris, ini benar-benar bukan gayanya.
Srekk!
Suara gemerisik antar besi, mengalihkan pandangan Fir yang langsung menautka kedua alisnya saat melihat beberapa kunci di depan matanya.
Fir mengangkat wajahnya, dimana netranya langsung menatap pada Raehan yang tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.
"Jangan khawatir, selama sebulan kamu tidak perlu menyewa kamar hotel. Kamu bisa pakai kontrakanku, sayang jika kontrakanku tidak ditempati. Karna, popsy sudah membayar untuk satu tahun." Raehan menjatuhkan kunci tersebut tepat di hadapan Fir.
Wajah Fir seketika berubah bahagia, bibirnya melengkung dengan sempurna bahkan kini terlihat seperti joker yang sedang tersenyum jahat.
Ia sangat senang, karna untuk sebulan ke depan ia tidak perlu lagi pusing-pusing memikirkan nasib dirinya yang akan tidur dimana. Sebuah keberuntungan kini menghampirinya.
"Aaaaa!!!" teriak Fir dengan histeris, bahkan beberapa murid memandang dirinya aneh.
Sementara Miya dan Raehan tertawa senang, melihat Fir yang terlihat seperti cacing kepanasan.
"Kamu memang yang terbaik Rae!" seru Fir langsung memeluk Raehan erat. Ia benar-benar beruntung memiliki Raehan sebagai sahabat.
"Lepaskan Fir, nanti ada yang cemburu," ledek Raehan dengan mencebikkan bibirnya.
"Aku tidak peduli, persetan dengan siapapun yang cemburu," sahut Fir dengan lantang, bahkan kini dia mencium kunci kontrakan Raehan. Kunci itu sangat berharga bagi dirinya, Fir seperti memenangkan sebuah lotre.
"Huh, tapi sekarang aku benar-benar lapar!" seru Fir lagi dengan mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Kalau begitu ayo kita ke kantin!" ajak Miya.
"Traktir ya," selosor Fir dengan cepat, yang berhasil membuat wajah Miya berubah masam.
__ADS_1
"Kau ini pelit sekali Mi, Raehan sudah memberikan kontrakan padaku. Sekarang giliranmu untuk mentraktirku," lanjut Fir dengan nada sedikit memaksa. Kali ini ia tidak akan melepaskan Miya. Yah, itung-itung pengiritan untuk jaminan keberlangsungan hidupnya untuk beberapa hari ke depan.
Miya menghembuskan nafasnya kasar, lalu menatap Fir dengan sinis.
"Baiklah, untuk kali ini saja." Pasrah Miya yang langsung menarik pergelangan tangan Raehan dan berjalan meninggalkan Fir yang langsung berlari mengejar dua gadis itu.
"Ayolah, jangan menekuk wajahmu seperti itu Mi. Jika kamu tidak ingin mentraktir Fir. Biar aku saja," ujar Raehan yang merasa terganggu dengan ekspresi wajah Miya yang terlihat seperti udang rebus.
"Ck, bukannya seperti itu. Fir selalu saja memalak diriku Rae---"
"Hei, siapa yang memalakmu Mi. Jangan fitnah kamu!" sosor Fir dengan cepat sambil merangkul pundak Miya.
Fir mendekatkan wajahnya tepat di telinga Miya.
"Jika sampai kamu mengatakan apapun pada Raehan. Rahasiamu yang menyukai Kazuya akan terbongkar," ancam Fir dengan berbisik pada Miya.
Bibir bawah Miya seketika maju ke depan. Ingin sekali rasanya saat ini ia mencekik leher Fir dan menghantam sahabat laknatnya ini hingga masuk ke dasar bumi. Sahabat macam apa yang berani mengancam sahabatnya sendiri.
Raehan sedikit merasa risih, dengan tatapan semua siswa dan siswi yang menatapnya dengan aneh. Tatapan mereka seperti sedang melihat seorang pelaku kriminal. Karna hal itu, membuat Raehan tidak fokus dengan apa yang sedang di bicarakan Fir dan Miya.
Raehan mencoba mengulas senyum ramah, tapi senyumnya malah di balas dengan wajah sinis. Bahkan ada pula yang secara terang-terangan berbisik dengan sorot mata melirik ke arah Raehan.
Byurrr.
"Aaaaa!!"
"Astaga!"
Namun belum sempat Raehan menemukan jawaban dari pertanyaannya. Tubuhnya sudah di siram oleh air hingga kini seluruh tubuhnya basah kuyup.
Raehan benar-benar terkejut dengan apa yang sedang terjadi padanya.
Pluk!
Pluk!
Pluk!
__ADS_1
Lagi-lagi Raehan terkejut bukan kepalang, saat tubuhnya di lempar dengan telur yang langsung pecah saat menghantam tubuhnya. Bahkan aroma busuk kini menguar dan menusuk semua hidung.
"Apa-Apaan ini!" pekik Raehan membersihkan bekas telur yang ada di bahu kirinya. Rasanya isi perutnya akan keluar dengan aroma busuk dari telur yang sialnya kini menempel di baju dan tubuhnya.
Fir dan Miya mematung tak kalah kaget, mereka juga belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.
"Perhatian semuanya!!!" teriak suara nyaring, yang sangat familiar di telinga Raehan.
Tepat lima meter dari Raehan berdiri, terlihat Kiara tengah memfokuskan perhatian semua orang ke arahnya. Tapi satu hal yang membuat Raehan bingung, kali ini batang hidung Lessia tidak terlihat. Padahal dua pengganggu dan pembuat onar dalam hidupnya itu selalu terlihat bersama, layaknya sepasang dua sejoli yang tak terpisahkan.
Teriakan Kiara kini mengundang banyak mata. Beberapa murid sudah mulai berkerumun di sekitar mereka. Hal itu membuat Kiara tersenyum lebar.
"Lihatlah gadis yang menjadi idola kalian. Gara-gara dia Lessia harus pergi dari sekolah kita. Gara-gara gadis genit, yang selalu mengejar tunangannya membuat Lessia memutuskan untuk pergi dari sekolah kita. Seharusnya bukan Lessia yang pergi, tapi gadis pendek ini," oceh Kiara menyulut api pada penggemar Lessia, yang kini terlihat menatap Raehan dengan tatapan bermusuhan.
Byur!
Siraman jus dari salah satu siswi melayang tepat dikepala Raehan. Lelehan cairan jus tersebut terjatuh melewati sela-sela rambut hitamnya.
"Dasar pelakor, aku pikir dia adalah kekasihnya Agara. Tapi ternyata dia adalah perampas kekasih orang lain!" cela siswi tersebut yang sudah termakan hasutan Kiara.
Tak berselang lama, para murid mulai melempari Raehan dengan apapun yang mereka bawa. Mulai dari tanah, kerikil kecil, makanan, serta minuman kini terlempar ke arah Raehan.
Raehan berusaha menutupi wajahnya agar tidak terkena oleh lembaran massa. Bahkan Fir dan miya yang ingin menolong Raehan malah tersingkirkan dan terjungkal karna di tahan oleh murid-murid yang menyerang Raehan.
Kiara tersenyum puas, melihat Raehan yang menjadi sasaran empuk para fans Lessia. Reputasi Raehan berhasil ia hancurkan. Ia tidak perlu mengotori tangannya untuk memberikan Raehan pelajaran. Kepergian Lessia sudah cukup menjadi pemicu api kehancuran untuk Raehan.
"Hentikan!!" teriak Raehan mencoba menangkal lemparan yang tertuju padanya. Tapi ayolah, tangannya hanya dua mana mungkin bisa menahan serangan sebanyak ini.
Cacian dan umpatan terus terlontar dari bibir para murid. Menjatuhkan dan menghina Raehan dengan kata-kata yang begitu kasar dan kejam. Menyalahkan gadis malang itu atas kepergian Lessia sang model pujaan.
Raehan terus menutupi area wajahnya, hingga detik berikutnya. Tubuhnya tidak lagi merasakan lemparan benda-benda ke tubuhnya.
"Apa mereka sudah berhenti?" batin Raehan dengan menurunkan kedua tanganya. Seketika tatapan Raehan terkunci saat melihat siapa yang kini ada di hadapannya.
...----------------...
...****************...
__ADS_1
Haduh Rae.. Kasihan banget jadi korban bulli murid. Emang si Kiara minta di patahin lehernya Rae. Awas kamu Kiara udah berani ganggu karakter kesayangan othor. Tak bikin jadi debu kamu baru tahu rasa😬
yok jangan lupa like, koment, gift anda vote❤️