
...292💛...
"Aku tidak percaya, kamu lebih memilih berangkat bersamaku dari pada Agara," celetuk Dion memulai percakapan. Sembari terus menatap lurus ke arah jalanan di depannya.
Raehan tersenyum kecut, ia pun tidak menyangka jika dirinya melakukan hal itu. Jika di ingat-ingat, dulu ia rela mengejar Agara dan menggagalkan kencan Lessia dan Agara. Tapi jika boleh jujur, hatinya merasa terluka. Meski bibirnya mengatakan hal itu, namun hatinya menginginkan hal yang sebaliknya.
"Aku salut padamu Rae, kamu memutuskan sesuatu dan kamu membuktikan hal itu. Kehadiran Agara sama sekali tidak menggoyahkan keputusan yang sudah kamu ambil."
"Kau mempertanyakan prinsipku, sekali aku memutuskan maka aku akan melakukannya," jawab Raehan dengan mantap.
"Kamu memang gadis yang sangat berbeda, wajar bukan jika aku sampai jatuh hati padamu."
"Bukankah kak Dion sudah kalah? Aku masih ingat jika dengan percaya dirinya kamu mengatakan tidak akan pernah mencintai gadis dengan tipe seperti aku," ledek Raehan dengan ekspresi wajah merendahkan.
"Kamu memang benar, kali ini kamu menang Rae. Tapi siapa yang tidak akan jatuh hati pada gadis sepertimu, bahkan Felix si playboy cap kadal itu juga jatuh hati padamu," balas Dion tak mau kalah dengan menggoda Raehan.
Raehan mengerucutkan bibirnya ke depan. Ingatannya kembali mengingatkan dirinya dengan kekonyolan yang di lakukan Felix.
"Ahh sudahlah, aku tidak ingin membahas tentang perasaan. Aku dengar Kak Dion membiarkan Kazuya tinggal di rumah kak Dion?"
"Iya."
"Oh ya kak, pendaftaran untuk beasiswa selalu di buka bukan?"
"Iya."
"Kenapa kita tidak menyuruh Kazuya untuk ikut mendaftar. Sayang sekali jika pria setampan dia tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Apalagi yang aku tahu dia itu berhenti sekolah saat mau masuk ke jenjang sekolah menengah ke atas. Jadi aku pikir, dia bisa masuk ke sekolah Milver dan mengejar pelajaran untuk tingkat sebelas. Jadi nanti dia bisa satu kelas denganku," ujar Raehan panjang lebar. Bahkan ia mengatakan hal itu dengan sangat bersemangat, sehingga membuat Dion sedikit merasa cemburu. Pasalnya Raehan terlihat sangat senang saat mengatakan jika dia akan sekelas dengan Kazuya.
"Dasar buaya betina, kamu tidak bisa melewatkan sesuatu jika itu tentang pria tampan. Apa Kazuya lebih tampan dariku? Sehingga kamu begitu semangat membuat Kazuya satu kelas denganmu," cibir Dion dengan menekuk wajahnya.
__ADS_1
Kini, ia tidak lagi harus menyembunyikan perasaannya pada Raehan. Toh, gadis di sampingnya sudah tahu semua perasaannya. Meski perasaannya tidak terbalas.
Raehan tersenyum geli, melihat Dion menunjukkan kecemburuannya. Ia sama sekali tidak merasa canggung atau sejenisnya. Karna, perasaan yang di miliki oleh Dion bukan salah dirinya. Perasaan itu hadir dengan sendirinya, jadi ia sama sekali tidak bertanggung jawab akan perasaan Dion yang tumbuh. Dion bisa menghapus atau membiarkan rasa itu. Tapi baginya Dion hanya teman sekaligus kakak tingkat tidak lebih dari itu.
"Astaga, lihatlah pesona seorang Raehan Angelina. Tiga pria most wanted Milver High School berhasil ku taklukkan!" seru Raehan dengan percaya diri, sembari terkekeh ringan penuh kemenangan.
Melihat tawa Raehan, Dion juga ikut tertawa. Seakan tawa Raehan begitu menular untuknya. Melihat Raehan yang begitu ceria dengan wajah berseri-seri. Membuat hati Dion meleleh menjadi cairan.
Tanpa terasa, akhirnya Dion memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Karna terus bercanda dengan Raehan, perjalanan dari rumah menuju sekolah terasa begitu cepat dan tidak membosankan. Untuk beberapa jam bibirnya tak henti untuk tertawa dan tersenyum. Sejarah baru dalam hidupnya, dimana ia tertawa dan tersenyum dalam kurun waktu yang lama.
Raehan seperti aura postif, yang selalu membuat orang-orang yang ada di sekitarnya bahagia. Pantas saja jika Agara yang terkenal dengan hatinya yang dingin luluh oleh seorang gadis pendek dengan tubuh mungil.
Dion segera turun dari mobil, dan berlari memutar membukakan pintu untuk Raehan. Namun, sepertinya ia kurang cepat, karna Raehan sudah membuka pintu mobil sendiri dan turun dengan memandang bangunan sekolah yang selama beberapa hari tidak ia lihat.
"Lain kali aku harus lebih cepat. Rae bisakah kamu menunggu sebentar, sampai aku membukakan pintu untukmu?" protes Dion yang mulai memasuki mode menyebalkan.
"Baiklah, aku mengalah. Jadi jangan menatapku seperti itu."
"Rae!!" teriak suara Miya, bahkan saking cemprengnya. Membuat Raehan dan Dion menutup kedua telinga mereka.
Mobil Miya berhenti tepat di samping mobil Dion, Miya segera turun begitu pula dengan Fir. Raehan menautkan kedua alisnya, ketika melihat Fir keluar dari mobil Miya.
Tentu saja itu adalah pemandangan yang aneh, karna selama ini Fir selalu membawa mobil atau motor sendiri.
Dion memutar ke dua bola matanya kesal. Karna kebersamaannya dengan Raehan harus berakhir dengan kehadiran dua makhluk yang tidak diinginkan sama sekali.
"Loh Fir, tumben berangkat sama Miya?" tanya Raehan heran.
"Astaga Rae, kamu belum tahu ya." Miya menepuk jidatnya sendiri, melihat Raehan kebingungan.
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak tahu, kamu kan belum memberi tahuku."
Miya memasang wajah bodoh. Betul juga apa yang dikatakan Raehan. Ia dan Fir sama sekali belum memberi tahu Raehan, jika Fir di usir oleh ayahnya karna meminjam jet perusahaan.
"Sudahlah, aku akan menceritakannya di kelas saja Rae." Fir melirik ke arah Dion dengan sudut matanya. Memberi isyarat pada Raehan jika hal ini tidak boleh di ketahui oleh orang lain selain mereka bertiga.
"Baiklah." Raehan langsung menggangguk menyetujui lalu menatap ke arah Dion yang sudah memasang wajah juteknya.
"Kak Dion, aku ke kelas dulu ya. Dah!" Raehan melambaikan tangannya, sebelum tangannya di geret kasar oleh Miya.
Ketiga sahabat itu berjalan beriringan, sembari melempar candaan dan guyonan jenaka yang berhasil mengocok perut mereka.
Tawa nyaring terus berdendang dari bibir mereka. Momen yang selalu mereka rindukan, saat salah satu dari mereka tidak ada. Mereka merasa senang karna kini Raehan sudah kembali sehat dan bisa berbagi tawa seperti sedia kala.
Raehan meletakkan ranselnya, sedangkan bibirnya masih tertawa ringan.
"Oh ya, kalian katanya mau cerita kan!" seru Raehan saat mengingat, sesuatu yang membuat dirinya penasaran.
Fir langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Raehan, sebuah meja menjadi sekat di antara mereka. Sedangkan Miya langsung merebahkan bokongnya di samping Raehan.
"Aku nebeng pergi dan pulang sekolah sama Miya karna aku di usir dari rumah, semua fasilitas di tarik oleh papaku," desah Fir frustasi, jika di ingat hidup sebatang kara seperti ini sangatlah susah dan sulit. Ia harus mengirit uang sakunya yang tidak seberapa untuk bertahan hidup. Sungguh miris dan menyedihkan.
...----------------...
...****************...
Haduh Rae, kamu itu enak banget di taksir tiga cowok tampan. Eh malah ngak mau sama si Agara. Kalau ngak mau Rae kasi othor aja tiga-tiganya juga Othor embat kok😆
Yok jangan lupa like, koment, gift, anda vote. author maksa nih😆
__ADS_1