Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Kazuya lulus


__ADS_3

...359...


Dari kejauhan terlihat Kazuya, Fir, dan Miya berjalan ke arah Raehan yang masih menunduk dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Rae!" panggil Kazuya dengan senyum mengembang. Di mana Raehan lansung menoleh ke arah sumber suara dan bangkit dari duduknya.


Ia tersenyum melihat Kazuya yang sudah selesai dengan tesnya. Kazuya segera berlari ke arah Raehan dengan cepat dan tidak sabaran. Di mana Kazuya lansung memeluk Raehan saat ia sampai di depan gadis itu.


Deg!


Hati Miya hancur dan terasa sangat sakit melihat Kazuya memeluk Raehan dengan wajah bahagia. Miya meremas jahitan rok seragamnya dengan erat. Meredam rasa cemburu yang bergejolak dan amarah yang ingin segera meledak. Buliran bening merembes begitu saja tanpa hambatan dari kedua sudut matanya. Di mana hatinya terasa diremas dengan sangat kuat.


Tanpa disadari oleh Fir, Kazuya, atau pun Raehan. Miya berlari pergi membawa luka hati dan kecemburuan yang tengah membara dalam hatinya. Meninggalkan pemandangan yang sangat menusuk mata hingga ke hati kecil miliknya.


Ia sudah meluangkan banyak waktu untuk Kazuya. Memberikan semua perhatian pada pria yang sangat ia cintai itu. Namun, kenapa sikap Kazuya pada Raehan sangat berbeda, dibandingkan dengan dirinya.


"Gimana tesnya lancar?" tanya Raehan mengurai pelukan Kazuya. Ia mengulum senyum di bibirnya. Menyembunyikan masalah yang membuat kepalanya pusing.


Kazuya menunjukkan kertas yang ada di tangannya pada Raehan dengan begitu antusias. Persis seperti seorang anak yang menunjukkan hasil raportnya pada sang ibu. Fir segera berpindah posisi ke samping Raehan. Ia juga penasaran dengan hasil tes Kazuya.


Raehan dan Fir melihat nilai tes Kazuya dengan kedua mata melebar. Lalu, turun pada keterangan yang menyatakan lulus dengan nilai yang hampir sempurna.


Sontak hal tersebut membuat Fir dan Raehan berteriak histeris saking senangnya karena ternyata Kazuya lulus. Dan itu artinya pria berwajah Jepang itu sekarang resmi menjadi murid Milver High School.


"Aaaa, Kazuya lulus!" teriak Fir dan Raehan bersamaan. Bahkan, keduanya berjingkrak dan saling merangkul satu sama lain. Mengekspresikan perasaan bahagia atas kabar ini. Terutama Raehan yang merasa paling bahagia karena usahanya sebagai mentor Kazuya membuahkan hasil yang sesuai dengan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


"Bro, kamu karena banget. Selamat buat keberhasilan kamu," ucap Fir mengucapkan selamat pada Kazuya sembari merangkul gemas bahu pria itu.


"Sudah aku bilang, kamu pasti bisa. Lihat, sekarang kamu resmi menjadi murid Milver High School. Welcome Kazuya!" seru Raehan senang dengan merentangkan tangannya lebar-lebar. Seolah-olah sedang menyambut kedatangan Kazuya.


"Ini semua berkat kamu, Rae. Terimakasih sudah menjadi sinar terang dalam hidupku yang gelap." Sekali lagi, Kazuya meraih tubuh mungil Raehan dan memeluknya dengan erat. Ia sungguh sangat berterimakasih pada gadis mungil ini. Ia juga bersyukur karena bisa bertemu dengan Raehan. Jika tidak, mungkin sekarang ia masih menjadi pengamen di jalanan.


"Sama-sama. Kamu juga ikut andil di sini Kazuya. Semua ini bisa terjadi karena dirimu juga. Aku hanya mendukung apa yang seharusnya memang kamu dapatkan," balas Raehan dengan menepuk bahu pria itu.


"Di mana Miya?" ujar Fir mengedarkan pandangannya ke belakang. Mencari sosok gadis yang paling penasaran dengan hasil tes Kazuya. Namun, sosok Miya hilang begitu saja seperti ditelan bumi.


Raehan dan Kazuya mengurai pelukan mereka dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Miya. Astaga, mereka sampai lupa pada Miya karena saking senangnya mendengar keberhasilan Kazuya.


"Bukannya Miya sama kamu Fir, nungguin Kazuya di depan ruang tes!" seru Raehan menimpali.


"Tidak terjadi apa-apa kan tadi?" tanya Raehan menyelidik.


"Ngak kok, ngak ada apa-apa."


"Kita ke kelas Dion, sama Agara aja yuk. Aku juga ingin kasi tahu mereka tentang ini. Pasti mereka seneng," sela Kazuya yang tidak ingin ambil pusing dengan kepergian Miya. Kehadiran gadis itu di sisinya membuat ia kewalahan dan jengkel. Sikap Miya yang terus menempel dan terus mencecar dirinya dengan perasaan gadis itu membuat ia merasa sangat tidak nyaman.


Ia ingin sekali mengatakan isi hatinya pada Miya, dan mengatakan jika ia tidak suka dengan semua yang dilakukan gadis itu. Namun, ia tidak enak hati dengan Raehan karena Miya adalah sahabat dari gadis yang sudah banyak membantu dirinya.


Bukannya ia tidak ingin jatuh cinta. Namun, luka yang ditorehkan Jiya di masa lalu masih membekas dan sangat sulit untuk dilupakan. Ia pernah mencintai dengan begitu buta. Namun, dikhianati dan ditelantarkan begitu saja. Untung ada dua tangan mungil Raehan yang menarik dirinya hingga keluar dari zona menyakitkan itu.


"Ide, yang bagus, ayo!" seru Raehan setuju. Di mana ketiga remaja itu berjalan dengan beriringan menuju kelas Agara dan Dion.

__ADS_1


Raehan menyingkirkan kesedihan dan kebimbangan yang tengah mengganggu pikirannya. Ia tidak ingin dengan masalahnya membuat kebahagian Kazuya terganggu. Ia tidak ingin membuat semua orang kepikiran. Sudah cukup untuk teman-temannya selalu mengkhawatirkan dirinya.


Di tempat lain, tepatnya di taman sekolah. Miya duduk di bangku panjang taman dengan isakan tangis yang belum reda. Ia masih sakit hati dengan apa yang ia lihat barusan. Rasanya, ada sesuatu yang menghantam hatinya yang lembut hingga hancur berkeping-keping.


Dari arah lain, terlihat Anet yang sejak tadi memperhatikan Miya. Mulai dari gadis malang itu melihat Kazuya memeluk Raehan dan pergi sambil menangis. Ia tentu tahu, jika Miya sangat menyukai Kazuya. Gadis itu selalu mencoba ada dan menunjukkan perhatian pada Kazuya. Namun, sepertinya perasaan Miya sama seperti dirinya bertepuk sebelah tangan.


Ide jahat dan licik tiba-tiba muncul di kepala Anet. Kejadian terakhir saat pulang dari puncak membuat ia membenci Raehan. Ia masih sangat sakit hati dengan penolakan Dion terhadap dirinya. Berusaha berdamai dan menerima kenyataan membuat ia semakin sakit hati. Apalagi, melihat Dion yang selalu menempel pada Raehan walaupun dia tahu Raehan sudah bersama Agara. Akan tetapi, yang paling ia benci adalah Raehan yang tidak menjauhi Dion meskipun dia sudah memiliki Agara. Gadis itu terus menempel pada Dion. Bukankah, Raehan sangat serakah?


Ia juga masih ingat bagaimana Raehan menolak untuk membiarkan Dion bersandar dibahunya. Padahal saat itu Raehan sangat letih karena dua kepala pria menyender pada masing-masing bahunya. Namun, tetap saja Raehan tidak memberi ia kesempatan untuk mendekati Dion.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2