Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Jangan mencurigai sahabat sendiri


__ADS_3

...356...


Raehan, Miya, dan Fir duduk di kursi panjang yang disediakan di depan ruangan. Mereka akan menunggu Kazuya hingga selesai melaksanakan tes. Sejak tadi, Miya terus saja gelisah dan khawatir tidak jelas. Dia bahkan tidak bisa diam dan terus saja bergerak seperti cacing kepanasan. Raehan yang duduk di sebelahnya terasa terganggu. Melihat Miya yang terus bergerak dan tidak bisa diam membuat Raehan kesal sendiri.


"Mi, bisa diam ngak sih," tegur Raehan menghancurkan keheningan.


"Aduh, Rae. Gimana aku bisa tenang kalau Kazuya sedang memutar otaknya yang tampan itu. Dia pasti sangat kesusahan menjawab soal itu. Ini salah pihak sekolah kenapa mereka membuat soal yang sangat sulit," geram Miya dengan mengetatkan rahangnya.


Raehan menghembuskan nafasnya kasar. Otak bodoh Miya sepertinya sedang on. Lihatlah, betapa konyol sahabatnya itu, menyalahkan pihak sekolah yang membuat soal.


"Ehh, tolol. Otak Kazuya itu jangan kamu samain sama otak kamu. Otak Kazuya itu pinter jadi dia pasti bisa jawab soal kacang kayak gitu. Ngak kayak kamu materi sekolah dasar aja kamu ngak bisa," olok Fir dengan memasang wajah jelek.


"Ck, sok pinter deh kamu. Kalau otak kita sebelas dua belas ngak usah nyela. Wajar kalau aku ngak bisa ngerjain materi sekolah dasar orang aku udah lupa. Lah, kamu emang bisa ngerjain materi sekolah dasar?" balas Miya tak kalah menghina.


"Ngapain aku susah-susah ngerjain materi sekolah dasar orang aku udah SMA," kilah Fir dengan begitu mulus.


"Haduh, pada ngak bisa ngerjain materi sekolah dasar aja kalian udah saling ngeledek kayak gini. Seharusnya kalian itu belajar yang rajin. Jangan pinter ada mulut doang tapi otak nol besar," sindir Raehan yang ikut nimbrung dengan perdebatan kedua sahabatnya.


"Haduh, perkataanmu itu loh Rae. Nembus sampe ke ubun-ubun," balas Fir dengan candaan sembari memegang dadanya.

__ADS_1


"Ubun-ubun di sini, sejak kapan pindah ke jantung." Raehan menunjuk kepalanya sendiri dengan memutar kedua bola matanya malas.


"Rae, kamu udah ngajarin Kazuya dengan bener kan kemarin?" tanya Miya dengan serius.


"Kamu kok nanyaknya kayak gitu sih, Mi? Mana mungkin Raehan ngajarin Kazuya pelajaran yang salah," sahut Fir dengan nada tidak suka. Ia tidak suka dengan Miya yang mencurigai sahabat sendiri.


"Ya, aku ngajarin Kazuya sesuai dengan kisi-kisi yang dikasih sama Kak Dion." Raehan menjawab dengan yakin.


"Tapi kok Kazuya belum keluar?" tanya Miya lagi dengan wajah semakin cemas. Pasalnya, ini sudah hampir satu jam tapi pujaan hatinya itu tak kunjung keluar dari ruangan.


"Sabar, Mi. Kazuya pasti lagi berusaha. Percayalah Kazuya pasti akan lulus." Raehan berusaha menyakinkan Miya. Ia sangat mengerti dengan kecemasan sahabatnya itu. Wajar jika Miya begitu khawatir pada pria yang dia sukai.


"Kalau tidak?"


"Fir, kamu jangan terus menghina Kazuya!" sentak Miya marah.


"Lagian kamu selalu membela Kazuya. Bahkan kamu sampai mencurigai Raehan mengajari Kazuya materi yang salah. Kamu tahu, kamu mencurigai sahabatmu sendiri. Belum tentu Kazuya juga mencintaimu, Mi. Jangan sampai persahabatan kita rusak gara-gara seorang pria," balas Fir tak kalah dengan oktav suara yang tinggi.


"Aku sangat mencintai Kazuya dan aku bisa melakukan apapun untuk cintaku. Aku hanya bertanya pada Raehan kenapa kamu perlu marah!"

__ADS_1


"Raehan, kamu dipanggil ke ruang BK tuh!" seru suara seorang murid yang tiba-tiba datang sehingga menghentikan perdebatan antara Miya dan Fir.


"Untuk apa?" tanya Fir dengan cepat.


"Palingan kasus Kiara." Bukan murid itu yang menjawab melainkan Raehan.


"Ya udah, aku pergi dulu ya. Jangan bertengkar lagi." Pesan Raehan sebelum pergi bersama murid tersebut.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2