
...57...
Tampak di kontrakan kecil dan sederhana, suasana begitu tegang dengan kecemasan yang terlihat di wajah sepasang suami istri yang sedang duduk berhadapan, dengan sebuah meja kecil yang menjadi sekat antara mereka.
"Ada apa Pop... Sungguh ekspresi wajah Popsy benar- benar membuat Momsy juga ikut khawatir...." Ujar Ny. Marissa dengan terkekeh getir.
Sembari tatapan nya tidak pernah lepas dari sosok pria yang sudah puluhan tahun berstatus sebagai suami nya.
Pak Levi menarik nafas nya pelan, memandang istri nya yang cantik kini semakin khawatir dan cemas.
Pak Levi meraih tangan Ny. Marissa, menumpuk tangan yang sudah puluhan tahun melayani nya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Pelanggan kita ingin segera memanen singkong yang di beli dari ladang kita Mom... Jika hari ini kita tidak kembali ke desa, kita tidak akan bisa menjual hasil panen singkong kita...
Momsy sangat tahu jika panen singkong kita sudah saat nya untuk di panen, pelanggan kita membutuh kan singkong itu ... Jika kita terus menunda ia akan mencari petani singkong yang bisa menjual singkong nya.
Jika kita terus menunda, singkong kita bisa berubah menjadi akar. Dan kita akan gagal panen tahun ini..." Jelas sang suami sembari menepuk- nepuk punggung sang istri.
"Tapi kita tidak bisa meninggalkan Raehan sendiri di sini Popsy... Dia sedang sakit, tegakah kita untuk membiar kan nya dalam keadaan sakit di tengah kota asing ini...
Entah apa yang akan terjadi pada diri nya,, jika kita meninggalkan nya..." Timpal Ny. Marissa dengan sedikit terisak, mengingat keadaan sang putri satu- satu nya yang kini sedang sakit dan tak bisa untuk di tinggal kan.
Tapi, bagaimana dengan singkong- singkong mereka yang ada di desa. Harus kah mereka merugi tahun ini?.
Pak Levi mengangguk mengerti, setuju dengan pendapat Ny. Marissa.
Bagaimana pun ia tidak bisa meninggal kan putri nya sendiri dalam kondisi seperti ini.
"Momsy benar, tidak ada yang lebih penting dari putri kita..." Lirih pak Levi dengan senyum di paksa kan. Tangan nya terulur menangkup wajah sang istri, menghapus air mata sang istri.
"Jangan khawatir dan menangis lagi Momsy. Kita bisa mencari uang lagi... Jangan memikir kan masalah panen.. Kita akan pulang setelah Raehan sehat..." Hibur pak Levi dengan mengangguk kan kepala nya.
Memberi kan pengertian kepada Ny. Marissa untuk tidak terlalu memikir kan masalah panen. Meski diri nya sendiri begitu memikir kan akan hal itu.
__ADS_1
Raehan langsung menutup pintu kamar nya sepelan mungkin, sehingga tidak menimbulkan suara apapun.
Ke dua mata bulat nya, berkaca- kaca dengan bahu sedikit bergetar.
Apa yang di dengar nya tadi, dari pembicaraan Pak Levi dan juga Ny. Marissa, membuat diri nya benar- benar kecewa pada diri nya sendiri.
Menyalah kan diri nya sendiri atas kebohongan yang ia buat, untuk menutupi masalah nya.
Kebohongan yang membuat ke dua orang tua nya merugi panen.
Astaga, betapa keji nya diri nya.
"Astaga apa yang sudah ku lakukan... Karna pura- pura sakit Momsy dan Popsy tidak jadi pulang ke desa untuk memanen singkong... Aku sudah membuat mereka merugi untuk menutupi kebohongan ku... Apa yang bisa ku lakukan sekarang...." Sesal Raehan membatin.
Menghampaskan tubuh nya dan menangis sesegukan.
Bagaimana bisa diri nya membuat ayah dan ibu nya bersedih seperti itu?
Apa ia harus menghenti kan kebohongan ini, lalu bagaimana dengan kekecewaan mereka saat mengetahui putri nya di skors dari sekolah?.
Raehan menangis sejadi - jadi nya. Meluap kan kekesalan nya atas diri nya sendiri.
...----------------...
Sementara di ruang tamu, Pak Levi dan Ny. Marissa masih bercengkrama dengan pembicaraan mereka membahas tentang panen singkong mereka.
Bagaimana pun , mereka harus menemukan solusi dari masalah ini.
"Popsy, bagaimana jika kau pulang lebih dulu... Biar lah Momsy yang menjaga Raehan..." Saran sang istri dengan tersenyum kaku.
"Tidak Mom.. Bagaimana aku bisa meninggalkan putri dan istri ku... Biar lah panen kita tahun ini gagal, popsy akan mencari dana lagi untuk panen berikut nya... Bagaimana pun anak harus lebih utama dari pada apa pun..."
"Tapi---"
__ADS_1
"Biar aku yang menjaga Raehan... Om Tante..." Timpal suara bariton dari arah pintu kontrakan yang kini terbuka.
Ny. Marissa dan Pak Levi, langsung menoleh. Netra mereka membesar melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu kontrakan putri mereka.
Memakai seragam sekolah yang sama, yang selalu di pakai putri nya.
Belum lagi, wajah nya yang begitu bersinar dengan ketampanan bak jelmaan ukiran patung dewa yunani.
...----------------...
...****************...
Hayyyooo kira- kira siapakah itu...??
Komen yuk dengan menebak siapa yang datang😃
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thorðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜???
__ADS_1