
...123 โฃ...
"Jiya, lebih baik kita pulang.. Kita tidak pantas berada di tempat seperti ini..." Seru Kazuya, pria berwajah jepang yang sedang menarik pergelangan tangan Jiya untuk pergi.
"Aissshhhh sudah lah Kazuya... Kita pantas untuk di sini bahkan aku akan merubah penampilan mu juga.. Kamu lupa hasil penjualan cincin berlian itu. ?" Bantah Jiya kekeh.
"Lebih baik kamu urung kan niat mu Jiya.."
"Kenapa?"
"Itu hanya akan membuat mu hancur..."
"Jika aku tidak mau bagaimana?. Aku akan terus menjalan kan rencana ku. Kamu jangan takut Kazuya aku akan berhenti setelah mendapat kan semua yang ku ingin kan.. Aku akan membuat hidup kita tidak melarat lagi.."
Kazuya mendengus pasrah, karna percuma diri nya memghalangi Jiya dengan tingkat keras kepala seperti batu.
Sekali dia bertekad maka semua nya akan berjalan sesuai dengan rencana nya.
Namun diri nya sedikit takut, ia tidak ingin Jiya terlena dengan kehidupan orang- orang kaya tersebut lalu melupakan diri nya yang bukan siapa- siapa.
Diri nya juga takut jika rencana Jiya akan berbalik pada diri nya sendiri.
Jiya melangkah kan kaki nya menuju pintu mall yang terbuat dari kaca.
Ia bahkan tidak pernah bermimpi untuk masuk ke dalam surga duniawi seperti ini.
Kazuya yang pasrah hanya mengikuti langkah kaki Jiya.
Namun langkah mereka tiba- tiba berhenti karna di hadang seorang satpam yang sedang berjaga.
"Maaf jika ingin mengemis silah kan pergi. Ini bukan tempat untuk pengemis seperti kalian.." Sinis sang satpam, dengan memandangi penampilan lusuh Jiya dan Kazuya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Jiya menggeram kesal, mendengar penghinaan satpam rendahan di hadapan nya.
Apa satpam ini tahu jika diri nya ke sini untuk belanja bukan untuk mengemis.?
Apa satpam ini tidak tahu, jika kantong saku nya begitu tebal bahkan lebih banyak dari gaji satpam rendahan seperti nya setiap bulan.
Tapi dengan enteng nya, pria kekar dan berkumis ini langsung memvonis diri nya sebagai pengemis yang akan meminta- minta di tempat ini.
"Jiya kau lihat.. Bahkan sebelum masuk pun kita mendapat hinaan..." Bisik Kazuya yang sudah mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan satpam yang terkesan merendah kan.
Meski diri nya adalah gelandangan, tapi ia juga manusia yang mempunyai harga diri dan martabat.
"Kazuya bisa kah kamu diam...!" Tekan Jiya yang semakin kesal mendengar ungkapan pasrah teman seperjuangan nya ini.
Ia tidak akan kembali. Ia akan tetap masuk. Tekad Jiya mantap dengan menyungging kan senyum mengejek ke arah satpam tersebut.
"Maaf pak... Kami kemari bukan untuk mengemis, kami kemari untuk membeli barang- barang yang kami ingin kan..." Ketus Jiya dengan mata mendelik.
"Ha... Ha... Ha... Kalian jangan mimpi, bisa membeli barang- barang di sini dengan uang receh hasil mengamen di lampu merah..." Sang satpam tergelak tertawa mendengar ucapan sombong Jiya.
__ADS_1
Wajah Jiya semakin memerah karna menahan kesal, tidak orang kaya, bahkan seorang satpam pun melucuti harga diri orang kecil seperti diri nya.
Kenapa tuhan memberi kehidupan yang nikmat dengan harta melimpah kepada orang- orang seperti ini?.
Dan kenapa tuhan memberi ujian hidup dengan menjadi kan diri nya seorang gelandangan yang miskin dan selalu di anggap sampah kota.
Ini sangat tidak adil.
Jiya merogoh saku lusuh nya , mengeluar kan tiga gepok uang dan menunjukkan nya tepat di depan wajah sang satpam.
"Mungkin penampilan kami memang kumal dan kotor, tapi saku kami tidak setipis yang bapak pikir kan. Bahkan uang kami lebih banyak dari gaji bapak... "
Wajah sang satpam langsung berubah pias, ia juga terkejut saat melihat tiga gepok uang yang di miliki dua orang gelandangan di hadapan nya.
Apa kah ini masuk akal?
Bagaimana bisa gelandangan seperti mereka memiliki uang sebanyak itu ?
Pekik sang satpam, dengan pertanyaan- pertanyaan yang bermunculan di kepala kecil nya.
Jiya tersenyum puas, saat melihat wajah terkejut satpam yang sudah merendah kan nya.
Jiya menarik beberapa lembar uang tersebut lalu menyodor kan nya pada satpam dengan sombong.
"Anggap ini sebagai tips buat bapak.. Beli lah kopi untuk menghilang kan rasa kantuk mu, sehingga ke dua mata mu bisa melihat dengan jelas jika penampilan tidak selalu menunjukkan kantong mu. Siapa tahu saat ini anak gubernur sedang melakukan penyamaran sebagai seorang gelandagan..." Ujar Jiya lalu menarik pergelangan tangan Kazuya untuk masuk.
Sang satpam yang masih belum bisa mencerna semua nya, masih terdiam dengan beberapa lembar uang di tangan nya.
Atau merasa marah karna dua gelandangan itu berhasil membuat nya bungkam?.
...----------------...
Jiya dan Kazuya sangat kagum dengan semua yang di suguh kan gedung besar ini.
Barang- barang mahal yang tidak pernah mereka lihat, kini bahkan ada di depan mata mereka.
Lampu yang begitu banyak menyinari setiap ruang dengan kapasitas tampung yang begitu banyak.
Begitu banyak orang dengan kesibukan masing- masing yang membuat mata Kazuya silau akan hal itu.
Luar Biasa.
Itu lah satu kata yang mampu mengekpresi kan rasa kagum mereka saat ini.
Jiya berhenti melangkah saat melihat sebuah toko salon dan kecantikan di depan nya.
Bibir nya tersenyum penuh arti, Kazuya yang melihat akan hal itu terlihat sedikit bingung dengan pikiran gadis yang di sukai nya.
"Ayo masuk..." Seru Jiya yang langsung melenggos masuk ke dalam salon, meninggal kan Kazuya.
Kazuya langsung berlari masuk menyusul Jiya, tapi lagi- lagi pandangan nya di buat silau dengan pemandangan di dalam.
__ADS_1
Ke dua mata Kazuya melebar dan bibir nya menganga melihat alat- alat aneh yang terlihat ajaib yang begitu banyak berjejer di atas meja.
Bahkan selama hidup nya, ia tidak pernah melihat barang - barang ini.
"Maaf Tuan ada yang bisa saya bantu...?"
Jantung Kazuya terasa merosot jatuh ke dasar perut , karna saking terkejut nya dengan suara seorang wanita cantik yang tengah tersenyum pada nya.
Sangat cantik, seperti bidadari yang sering ia lihat di koran pungutan.
"Nona dia adalah teman ku.. Beri kan dia perawatan terbaik dan juga ubah penampilan kotor nya..." Seru Jiya yang sudah duduk di kursi dengan seorang wanita lain nya.
Kazuya menatap kecewa pada Jiya yang sedang fokus dengan perawatan nya.
Hati nya terasa tertusuk ribuan jarum saat mendengar ucapan Jiya yang terkesan sombong dan angkuh.
Ubah penampilan kotor nya...!
Kata- kata Jiya masih terngiang bahkan terdengar jelas di telingan Kazuya.
Apa gadis yang sedang duduk dan menikmati perawatan nya adalah Jiya, gadis ceria yang di cintai nya. Dan telah memberi warna dalam hidup nya.
Tapi, mengapa kini ia merasakan sebuah perbedaan akan hal itu semua.
"Tuan,, mari ikut saya..!" Seru sang petugas salon membuyar kan lamunan Kazuya.
Kazuya di giring untuk melakukan beberapa perawatan, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???
__ADS_1