
Mobil mewah Bimo terparkir disebuah cafe mewah yang ada di pusat kota, cafe yang diberi tahu oleh mamanya.
"Ayo sayang kita sudah sampai." Bimo mengulurkan tangannya, namun Alena tak segera meraihnya dan malah menatap dirinya.
"Kenapa hm."
"Aku_ "
Cup
Bimo membungkukkan badannya kedalam mengecup dan sedikit memberi lumataan pada bibir Alena.
"Jangan khawatir aku aku disini." Jari nya mengelus bibir yang baru saja Ia sesap itu. wajahnya sangat dekat satu sama lain.
Entah mengapa Alena merasa ragu, tapi setelah mendengar ucapan suaminya hatinya sedikit tenang.
"Hm." Alena tersenyum, Bimo pun ikut tersenyum dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Ayo." Kali ini uluran tangan Bimo disambut Alena dengan senyum.
Benar, dirinya tidak usah takut dan ragu karena ada Bimo yang berada disampingnya.
"Ini si Bimo kemana sih, bikin malu aja tau gak!" Leina sejak tadi menghubungi putranya namun tak pernah mendapat jawaban.
Acara yang seharusnya dimulai sejak tadi kini malah membuat semua hampir berantakan, meskipun tamu yang dirinya undang memaklumi dan menikmati jamuan nya, tapi keterlambatan Bimo yang sangat keterlaluan karena sudah satu jam pria itu belum menampakan batang hidungnya.
"Tante, gimana dong kalau Bimo gak dateng." Siera dengan wajah kesal dan menahan amarah sejak tadi merengek pada Leina.
__ADS_1
Leina yang mendengar rengek-an Siera juga kesal dan risih, sebisa mungkin dirinya sabar menghadapi Siera.
"Sabar sayang, mungkin sedang terkena macet." Ucap Leina menenangkan Siera.
Siera mendengus dan berlalu dari hadapan Leina dengan kekesalan.
Rendy yang melihat istrinya panik dan juga marah hanya diam saja, sejak tadi dirinya bicara namun istrinya sama sekali tak mendengarnya.
Rendy tipe pria penyabar dan penyanyang, dirinya masih berusaha sabar untuk menghadapi sifat karena tidak ingin lepas kendali, jika itu terjadi maka bisa menyakiti hati istrinya.
Sifat Bimo sebelas dua belas dengan papanya, penyanyang dan penyabar meskipun memiliki karakter cuek dan dingin, jika sudah dengan orang yang tepat mereka tidak akan kenal dimana pun keberadaannya untuk memperlihatkan betapa cinta dan sayangnya mereka pada wanitanya.
Leina yang kesal dan habis kesabaran nya menghampiri Rendy.
"Pah, coba papa hubungi Bimo, anak itu keterlaluan." Ucap Leina dengan marah di depan Rendy.
"Tapi Mama ingin melakukannya Pah, sejak kecil tidak pernah Mama membuatkan pesta untuk anak kita." Ucap Leina dengan wajah berubah sendu.
Rendy meraih bahu Leina untuk di peluk. "Tapi anak kita sudah dewasa mah, sudah berumah tangga, dan pasti Bimo sudah menyadarinya jika Mama melakukan seperti ini." Ucap Rendy mengelus punggung istrinya.
Kepekaan Bimo lebih kuat dari pada dirinya, karena tidak biasanya Leina mengajak Bimo untuk datang ke cafe, jika sedang ulang tahun. Bimo lebih tepat waktu jika disuruh datang ke rumah utama mereka.
Tak lama orang yang sejak tadi mereka tunggu, memasuki halaman yang khusu untuk acaranya yang Leina buat.
"Tuh, anak Mama yang di tunggu." Ucap Rendy yang memang melihat Bimo merangkul pinggang istrinya berjalan memasuki area autdor cafe.
Leina pun melepas pelukan suaminya, berbalik melihat jika benar anaknya datang.
__ADS_1
"Maaf Pah, Mah Bimo telat." Ucapnya memeluk sang papa.
"Selamat ulang tahun son, semoga kamu memberi hadiah papa cucu." Ucap Rendy dengan senyum.
Alena yang mendengarkan merasa malu dan menundukkan wajahnya.
"Bimo junior lagi ontheway pah." Bimo tersenyum lebar menatap wajah papanya.
"Mah." Dirinya memeluk sang Mama yang sejak tadi pasti sudah dibuat kesal olehnya. "Maaf Bimo telat." Ucapnya dengan nada lembut.
Alena memeluk putranya dan mengelus rambutnya. "Selamat ulang tahun sayang, semoga apapun yang kamu inginkan segera tercapai." Leina mengecup kening putranya.
"Terima kasih."
Alena menyalami ayah mertuanya. "Apa kabarmu nak?" Tanya Rendy mengelus kepala Alena.
"Baik pah." Tersenyum dengan perlakuan hangat ayah mertuanya.
"Mah.!" Rendy menegur Leina yang ternyata tidak menerima uluran tangan dari Alena, dan dengan terpaksa Leina mau menerima uluran tangan Alena, tapi ketika Alena ingin mencium punggung tangannya Leina dengan cepat menariknya kembali.
"Ayo sayang kita kesana, disana sudah ada seseorang sejak tadi menunggumu." Leina menarik tangan Bimo membawanya mendekati meja yang sudah tersedia kue ulang tahun.
Bimo yang tiba-tiba ditarik mamanya, terkejut dan mau tidak mau mengikuti Mamanya.
"Jangan di ambil hati, kamu harus bersabar dan tetap di samping suami kamu." Ucap Rendy membesarkan hati Alena, karena pasti menantunya itu merasa sedih atas perlakuan istrinya.
"Iya pah, Alena mengerti." Tersenyum untuk meyakinkan ayah mertuanya.
__ADS_1
"Papa senang, karena Bimo tidak salah pilih istri." Rendy pun mengajak Alena untuk mengikuti kemana istrinya membawa Bimo pergi.