
Pabrik yang telah Bimo beli di Sukabumi kini menjadi pabrik yang lumayan berkembang, pabrik yang dulu sebagai pabrik garmen kini pabrik itu menjadi pabrik minuman yang cukup besar.
Semenjak Bimo menyuruh sahabatnya Yuda untuk mencari orang yang bisa mengurus pabrik itu, disitulah Yuda yang seorang player menjadi berubah dan serius menekuni dunia bisnis, meskipun bisnis sahabatnya tapi Yuda dengan serius menjadikan pabrik itu menjadi pabrik besar di bidang produksi minuman.
Bukan tanpa alasan Yuda ingin menjalankan pabrik itu, ternyata pria slengean seperti Yuda diam-diam membuat Gina menjadi istrinya.
Gina yang hanya sendiri setelah sahabatnya meninggal dan di susul oleh ibunya sendiri setelah tiga bulan, membuat gadis itu putus asa, hingga Gina tanpa sadar masuk ke dalam bar yang tak pernah Ia datangi hanya untuk hiburan.
Tanpa di sangka di sana dirinya bertemu dengan Yuda yang memang suka pergi ke bar, melihat Gina yang mabuk dan didekati dua pria yang mencurigakan, Yuda pun berniat untuk menolong dan membawanya pulang.
Bukannya membawa Gina pulang kerumahnya melainkan Yuda membawa Gina ke apartemen nya, karena Gina ternyata di jebak dengan obat perangsang.
Yuda yang melihat Gina seperti cacing kepanasan dan merintih tersiksa, dengan sadar dirinya mengungkung gadis itu di bawah tubuhnya.
Mereka melakukan ons malam itu entah Samapi berapa kali mereka melakukan itu karena Gina sepertinya tidak sedikit di beri obat perangsang hingga Yuda sedikit kuwalahan melayani napsu Gina.
Perbuatan mereka malam itu membuat Gina hamil dua bulan kemudian, hingga Yuda dengan gentel bertanggung jawab, karena memang dirinya sadar apa yang sudah dia lakukan dan akan seperti apa konsekuensi yang dia dapat.
"Pah, Om Yuda belum masih membantu Sena kan di pabrik itu " Tanya Sena.
"Em..masih sayang, Om Yuda akan membimbing kamu sampai bisa menguasai kinerja pabrik itu, nanti juga akan di bantu oleh Kemal." Bimo mengelus kepala putrinya.
Usia anak Yuda dan Bimo selisih satu tahun, anak pertama Yuda laki-laki dan baru bergambung satu tahun di pabrik milik Bimo.
"Mending sama Kemal kak, dari pada sama kak Aii, cerewet terus bikin rusuh." Ucap Ren menimpali, dirinya ingat jika di kantor sekertaris nya adalah kakak sepupunya sendiri yaitu Aileen Adena Adhitama, anak kedua dari pasangan Allanaro dan Indira.
Gadis itu mengabdikan dirinya di perusahaan keponakan, karena malas jika harus bekerja di perusahaan sang ayah, yang ada bakalan makan ati terus jika bersama sang kakak Aldrick.
"Tapi dia pintar Ren." Ucap Bimo terkekeh.
"Pintar sih pintar, gak sesuai sama mulutnya yang ngak bisa diem." Gerutu Ren yang terkadang di bikin naik darah oleh Aileen.
"Mending kak Aii, Ren. dari pada kak Al, yang dingin dan bermulut pedas." Ucap Sena dengan wajah mendadak muram, namun tidak ada yang melihat ekspresi wajahnya.
"Mereka berdua kakak adik yang lengkap." Ucap Ren tertawa, Bimo pun ikut tertawa.
Sena melihat pemandangan luar dari kaca dirinya teringan terakhir ketemu dengan kakak sepupunya Aldrick.
__ADS_1
"Bii apa kamu tidak bisa tinggal di Jakarta saja?" Tanya Aldrick dengan wajah serius.
Sena hanya menatap Aldrick dengan kening mengkerut.
Aldrick menghela napas kasar. "Selain lemot kamu juga idiot." Aldrick menoyor kepala Sena, hingga membuat gadis itu terhuyung.
Bukanya membalas Sena hanya diam saja, dirinya sangat malas berurusan dengan Aldrick tipe pria bermulut pedas, tapi sayang otak nya sangat encer sehingga dirinya di juluki eksklusif muda dalam bisnis.
"Keahlian mu hanya masak Bii, tidak akan bisa yang lainnya..dan Abang yakin pabrik yang akan kamu kelola tidak akan maju di tangan kamu." Ucap Aldrick dengan serius matanya tak lepas menatap wajah cantik gadis didepanya itu.
"Selain berkata pedas dan menghina ku, apa yang bisa Abang lakukan, selain menjadi CEO hah.." Sena menatap Aldrick sengit, sejak tadi dirinya sudah menahan kesal tapi semakin di biarkan Aldrick semakin menjadi. Entah sifat siapa yang menurun pada Aldrick, kedua orang tuanya pun sangat baik, bahkan sudah Sena anggap sebagai kedua orang tuanya juga.
"Banyak..." Aldrick berkata ponggah. "para wanita selalu mendekat dan menempel padaku, dan itu adalah kelebihan yang hakiki bagi seorang Aldrick."
Sena berdecih sebal. "Hanya wanita bodoh yang mau dengan pria seperti mu." Sena berdiri dan berniat pergi meninggalkan Aldrick, tapi tangannya di cekal oleh pria itu.
"Buktikan jika kamu mampu mengembangkan pabrik itu, maka aku tidak akan mengganggumu, dan jika kamu tidak berhasil kamu harus mau mengikuti apapun yang aku katakan." Aldrick menatap tajam kedua mata yang selalu membuatnya merasa aneh.
"Siapa kamu," Sena menepis tangan Aldrick kasar. "Tanpa kamu suruh, aku Biana Sena Bagaskara, akan melakukan apapun untuk keberhasilan pabrik." Sena menatap Aldrick marah, dirinya tidak suka berada di bawah tekanan orang lain, bahkan papanya tidak pernah menekannya.
Keduanya memang sering cekcok dan adu mulut tak jarang mereka yang melihat hanya geleng kepala. Aldrick pria dingin dengan mulut pedas, dan Sena gadis dingin dengan wajah datar tidak perduli dengan orang sekita, apalagi orang yang sudah menghina dan selalu mengatainya idiot.
"Em..i-iya Pah."
"Kamu melamun?"
"Tidak.." Sena menggeleng kepala.
"Yasudah ayo turun, kita makan siang perjalanan kita masih jauh."
Bimo turun lebih dulu, di ikuti Sena kemudian.
Mereka berhenti di sebuah restoran, dimana untuk mengisi perut mereka dan istirahat sejenak.
"Pah Sena ke toilet sebentar." Pamit Sena ketika mereka sudah duduk di meja.
"Hati-hati sayang."
__ADS_1
Sena hanya tersenyum dan mengangguk.
Dirinya berjalan menuju toilet setelah bertanya pada pelayan dan menunjukan di mana tempatnya.
"Ck. kenapa malah mikirin omongan si mulut pedas sih." Sena mencuci tangannya di depan wastafel, bercermin memastikan wajahnya masih baik-baik saja.
Keadaan toilet memang sepi hanya ada Sena sendiri yang berada di dalam sana. Ketika membuka pintu dan ingin keluar, tiba-tiba tubuhnya di dorong kebelakang dengan seorang pria yang Sena sendiri tidak tahu siapa.
"Lepas...jangan kurang ajar kamu..!!" Sena mencoba melepas tubuhnya dari kungkungan pria itu.
"Ssttt diam..!!" Pria itu menatapnya tajam, dengan suara yang terdengar panik, karena pria itu menoleh kebelakang terus.
"Mau apa kamu.." Sena masih mencoba memberontak.
"Cari di dalam sana, pasti bersembunyi di sana." Sayup-sayup merek mendengar suara beberapa orang yang seprtinya sedang mencari sesuatu.
"Tol_ emphh.." Sena membulatkan kedua matanya ketika pria itu membungkam mulutnya menggunakan bibir.
"Ah si*al." Beberapa orang berbalik badan ketika melihat dua orang sedang bercumbu di dalam toilet.
Plak
"Crazy man..!!" Umpat Sena dengan mata tajamnya.
Pria itu memegangi wajahnya yang sudah di tampar Sena. Tatapan matanya berubah tajam hingga membuat Sena membeku.
Cup
Tanpa menunggu lama pria itu kembali mendaratkan bibirnya pada Sena, menyapu dan mellumat bibir yang baru pertama kali dia rasakan untuk kedua kali.
Sena yang mendapat serangan kedua hanya diam dan mencoba melepas kuncian pria itu di tubuhnya, tapi tangan pria itu semakin menekan tengkuknya kuat.
"Emph.." Sena mencoba menjauh karena napasnya sudah habis, pria itu begitu rakus membuatnya tak bisa bernapas dengan baik.
"Good start, for your first kiss miss..." Pria itu mengusap sudut bibirnya sendiri menggunakan jarinya.
"Brengsek..!!" Sena mengumpat dengan amarah yang meluap-luap.
__ADS_1
Dengan santainya pria itu pergi meninggalkan Sena yang sedang kacau penampilannya di dalam kamar mandi.
"Pria sialan..!!!"