
Tak lama polisi yang mengejar mobil tersangka datang ke rumah sakit mendatangi komandan mereka.
"Lapor ndan, kami hanya bisa menangkap satu mobil dan tersangka sedang di tindaki di kantor polres."
"Segera kerahkan anak buah, untuk mencari tersangka yang lain, tangkap mereka apapun keadaanya."
"Siap."
Mereka kembali pergi setelah mendapat perintah, sedangkan Sena hanya duduk lemas di kursi tunggu, dirinya tidak bisa berpikir jernih hanya Aaron yang ada dalam pikirannya.
Setelah hampir tiga puluh menit menunggu ruangan yang tertutup itu juga belum terbuka, semakin membuat Sena sesak.
"Kak.." Ren memanggil Sena yang duduk dengan menutup wajahnya menggunakan tangan. Kening Sena masih berdarah tapi Sena tidak mau untuk diobati ketika suster membujuknya.
Sena menoleh dan melihat adiknya berlari menghampirinya. "Ren." Sena langsung memeluk adik kembarnya, menangis didalam pelukan Ren.
"Kakak takut Ren," Ucap Sena dengan sesenggukan.
__ADS_1
"Tenanglah kak, kak Ar pasti baik-baik saja." Ren mengusap punggung kakaknya yang bergetar.
"Sena.." Alisa duduk di samping Sena sebelah kiri, wanita itu memeluk keponakannya yang syok.
"Tenang sayang, doakan suami kamu pasti baik-baik saja." Alisa menyangkan keponakanya dengan mengelus kepalanya, jika dia yang di posisi Sena mungkin akan sama apa yang dirasakan Sena sekarang dia juga merasakannya.
Dilorong itu semua berkumpul, Bimo dan Gio berbicara kepada polisi yang masih berada di sana untuk mendengarkan laporan dan kronologis kejadian, sedangkan Ren menguhungi orangnya kembali untuk mendapatkan informasi siapa yang sudah melakukan kejahatan pada saudaranya.
Sedangkan Alexa tidak ikut, mengingat sedang hamil muda Ren tidak mengajak Istrinya lebih baik Alexa berada di rumah bersama si kembar dan Glen.
Tak lama Arthur dan Arin juga datang, Kakek Lewis yang duduk di atas kursi roda pun ikut datang untuk melihat keadaan cucunya.
Sena masih menagis dipeluk Arin, ibu mertuanya. Kedua wanita itu saling menguatkan tapi juga menangis bersama.
Tak lama pintu UGD terbuka, mereka semua menoleh dan mendekati dokter yang baru saja keluar.
"Dokter bagiamana keadaan putra saya?" Tanya Arthur yang mewakili semua di sana.
__ADS_1
"Kami sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan putra anda, dan putra anda sudah melewati masa kritis." Jelas dokter itu membuat mereka semua mengucap syukur.
"Sekarang pasien akan di pindahkan ke rawat inap, dan untuk beberapa jam kedepan pasien belum sadarkan diri."
Dokter itupun pergi setelah menjelaskan dan mereka berucap terima kasih.
Sena duduk disamping suaminya sejak tadi yang belum membuka mata, sudah satu jam lebih mereka menunggu Aaron sadar. Beruntung ruangan VVIP itu sangat besar jadi mereka semua bisa berkumpul di dalam untuk ukuran keluarga besar.
"Pah, menurut mereka orang-orang yang mau mencelakai kakak adalah suruhan seseorang yang ingin membalas dendam." Ucap Ren pada papanya yang duduk berdampingan dengan Arthur. Ren baru saja mendapat informasi dari orangnya.
"Ya, dia adalah orang yang sudah berbuat licik, dan putramu itu membalasnya dengan membuatnya koleb dan gulung tikar." Sarkas Kakek Lewis membuat mereka semua menatap kakek Lewis.
Maksud papa apa?" Tanya Arthur yang memang tidak tahu.
Kakek Lewis menghela napas. "Putramu sangat berani, aku suka. Tapi dia bodoh karena kemanapun dia pergi tidak menggunakan pengawal."
Tak lama Jack masuk dengan membawa berkas dan bukti yang sudah dia dapatkan.
__ADS_1
"Kerja Bagus botak." Ucap kakek Lewis tersenyum, membuat Jack menghela napas. Cucu dan Kakek sama, sama-sama menyebalkan.
Mereka semua mendengarkan penjelasan Jack yang membatu Aaron dikantor ataupun di luar kantor. Karena Jack adalah asisten sekaligus orang kepercayaan nomor satu keluarga Lewis.