Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Kegelisahan Sena


__ADS_3

"Sayang malam ini aku pulang larut, maaf tidak bisa pulang tepat waktu."


Sena membaca pesan dari suaminya.


"Baiklah hati-hati." Sena mengirim balasan untuk suaminya.


Jam menunjukan pukul lima sore, pantas saja suaminya belum sampai rumah.


Karena semenjak memiliki Baby A, Aaron tidak pernah lagi pulang lewat jam lima, pasti suaminya itu pulang sebelum jam makan malam.


Dilain tempat, Aaron yang baru saja mengirim pesan menatap bangunan tua yang sudah lama dibiarkan kosong, Aaron bersama Jack dan beberapa anak buahnya, sedang menunggu polisi menangkap Richard di dalam sana.


Sebenarnya Aaron ingin masuk dan menangkap pria yang sudah berulang kali mencelakainya itu, tapi Jack dan para petugas polisi itu tidak mengijinkan.


Jack yang memang asisten sekaligus pengawal pribadi Aaron, tidak akan membiarkan majikannya masuk dalam bahaya.


Tak lama menunggu polisi berhasil menangkap Richard dengan kaki pincang, Richard yang berusaha melarikan diri membuat petugas melayangkan timah panas di kakinya sehingga Richard tidak bisa melarikan diri.


"Sialan kau anak ingusan." Richard menatap tajam penuh kebencian kepada Aaron yang jarak mereka sekitar tiga meter.

__ADS_1


Aaron hanya menatap Richard datar, sungguh sayang sekali pria tua seperti Richard harus mendekam dijeruji besi dan menghabiskan masa tuanya.


"Sungguh di sayangkan tuan, saya pikir anda adalah orang yang baik, tapi ternyata saya salah." Aaron tersenyum sinis. "Jangan salahkan saya jika anda akan menerima balasan dengan apa yang sudah anda perbuat." Aaron menatap Richard datar tanpa ekspresi. "Dan sayangnya anda salah memilih lawan."


"Brengsek, anak Sialan." Richard ingin melawan Aaron tapi luka dikakinya, membuatnya kesaktian.


"Cih, sudah tua banyak ulah, seharusnya anda duduk santai di rumah di temani dengan secangkir teh."


Aaron yang segera pergi dan ingin masuk ke dalam mobilnya, namun suara teriakan membuatnya berbalik badan.


"Tuan awas.!!" Jack secepat kilat mendorong tubuh Aaron dari belakang membuat Aaron tersungkur kedepan, bersama dengan suara tembakan.


Dor


Sena menunggu suaminya di


ruang tamu dengan cemas, pasalnya sudah pukul sepuluh malam namun suaminya tidak kunjung pulang membuat Sena khawatir dan cemas.


Mendengar suara mobil Sena langsung berdiri, dan melihat pintu terbuka membuat bibir Sena m melengkung.

__ADS_1


"Papa.." Bibir yang tadinya membetuk senyum kini berganti dengan wajah kecewa karena bukan suaminya yang pulang, tapi papanya.


"Sayang, sedang apa kamu disini." Bimo berjalan mendekati Sena, yang berdiri mematung dengan wajah cemas.


"Jam segini Ar, belum pulang Pah, aku khawatir." Jawab Sena dengan meremas tangannya satu sama lain.


"Apa dia tidak memberi kabar?"


"Dia hanya mengirim pesan pulang larut, tapi sejak tadi aku telepon ponselnya tidak aktif." Sena yang mengkhawatirkan suaminya panik, sejak tadi nomor Aaron memang tidak bisa di hubungi, semakin membuat Sena dilanda gelisah.


"Tenanglah, mungkin ponsel Ar mati. Papa akan mencari tahu." Bimo mengelus kepala putrinya, untuk membuat Sena tenang.


Sena hanya mengangguk, mencoba menepis pikiran yang tidak-tidak, dirinya yakin jika suaminya masih sibuk.


"Istirahatlah sudah malam, nanti akan papa kasih kabar." Bimo tersenyum untuk memberi Sena kepercayaan.


"Iya pah, aku tunggu kabar dari papa." Sena berjalan menuju kamarnya.


Bimo segera mencari tahu lewat orang-orangnya yang mengikuti Aaron.

__ADS_1


Sejak tadi dirinya juga tidak memegang ponsel karena menghadiri pernikahan Alisa, di sana dirinya disibukkan dengan beberapa orang yang ternayata rekan bisnisnya dari keluarga Yusuf.


"Halo, apa terjadi sesuatu?" Tanya Bimo langsung ketika sambungan telepon terhubung.


__ADS_2