Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Libur yang seharusnya hanya tiga hari, ternyata membuat Sena tak puas. Dirinya meminta tolong pada Kemal untuk menghendel pekerjaannya di pabrik, selama dirinya masih di Jakarta.


Dan Kemal pun bersedia membantunya. Di Jakarta tidak banyak yang Sena lakukan, dirinya hanya berdiam di rumah, sesekali datang ke rumah Opa dan Oma nya.


Karena bosan dirumah Sena pun, pergi ke Mall hanya sendiri, karena dirinya tidak memiliki teman ataupun sahabat dekat. Karena dulu dirinya hanya di manfaatkan oleh beberapa orang yang mau berteman dengannya, dan dari sana membuat Sena pikir dua kali jika memiliki teman.


Bruk


Sena tak sengaja menabrak seseorang, dan belanjaan orang itu pun jatuh berantakan di lantai.


"Ah, maaf nona..saya tidak sengaja." Sena membantu mengambilkan belanjaan itu.


"Kamu kalau jalan pake mata dong, lihat barang-barang mahalku jadi berantakan." Ucap wanita yang di tabrak Sena ngegas.


"Saya kalau jalan pakai kaki, kalau mata untuk melihat." Sena memberikan paperbag itu dengan wajah datar.


"Cih, berani menjawab lagi." Wanita itu menatap Sena sinis.


"Ada apa ini." Suara bariton seorang pria dari belakang Sena.


Wanita itu langsung menghampiri pria itu. "Sayang, dia menabrak ku." Ucapnya manja bergelayut di lengan kekasihnya. "Dan barang-barang ku jatuh semua."


Sena membalikkan tubuhnya, matanya membola melihat pria didepanya dengan wanita yang seperti uler keket.


"Lihat dia sama sekali tidak merasa bersalah." Ucap wanita itu lagi.


Aldrick hanya diam dengan mata tajamnya menatap Sena intens.


"Lebay.." Sena membalikkan tubuhnya berniat pergi, dirinya terlalu malas untuk meladeni wanita model begitu.


"Minta maaf," Ucap Aldrick tegas, bahkan suaranya begitu terdengar dingin.


Sena menghentikan langkahnya dan berbalik.


Menaikkan satu alisnya Sena tersenyum remeh. "Oh..jadi dia kekasih barumu." Sena menatap wanita yang bergelayut di lengan Aldrick dengan sinis.


Wanita tidak tau malu itu, malah balik menatap Sena remeh.


"Ternyata selera mu menurun drastis setelah aku menolak cintamu." Sena tersenyum menyeringai ketika melihat rahang Aldrick yang mengeras, wajahnya tersulut amarah.


"Sayang, apa maksudnya." Ucap wanita itu menatap kekasihnya.


Sena maju beberapa langkah, berhenti tepat di depan Aldrick. "Sayang sekali," Sena menyentuh wajah Aldrick, membuat wanita di sampingnya menahan kesal. "Wanitamu hanya pelampiasan." Setelah mengatakan itu Sena berlalu pergi, drinya sudah cukup puas melihat wajah Aldrick yang begitu marah menahan emosi.


"Sayang..!" Wanita itu berteriak memanggil Aldrick yang meninggalkannya. "Al tunggu dong."


Bruk..


Karena Rem kakinya tidak cakram, wanita itu menabrak punggung Aldrick yang berhenti mendadak.


"Al kau membuatku jatuh." Rengek wanita yang terduduk di lantai.


Aldrick berbalik, menatap wanita itu sangat tajam, membuat wajah wanita itu takut. "Mulai sekarang jangan pernah tunjukan wajahmu di depanku lagi..!!" Aldrick berlalu pergi.


"Al.. Aldrick..Ah sial..!! Pasti gara-gara wanita itu tadi."

__ADS_1


.


.


Sena tersenyum puas, melihat dua orang yang bertengkar, dan berakhir Aldrick pergi meninggalkan wanita gatel itu. "Rasain, kalau Mama Dira tau pasti bakalan seru." Gumam Sena dengan senyum di wajahnya.


Sena yang bersembunyi di balik pilar merasa bahagia karena rencananya berhasil.


"Dasar gadis penguntit, bikin onar."


Deg


Sena terdiam kaku di tempatnya.


.


.


.


"Al kamu sudah pulang?" Tanya Indira ketika melihat putranya memasuki rumah, jam masih menunjukan dua sore.


Karena tidak biasanya Aldrick akan pulang siang begini, biasanya juga malam.


"Hm.." Hanya berdehem untuk menjawab pertanyaan sang Mama, Aldrick berlalu pergi menuju kamarnya.


"Dia itu kenapa?" Gumam Indira yang melihat putranya tak biasanya.


"Kenapa sayang.." Allan datang dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Indira.


"Mungkin ada yang membuatnya kesal, putramu memang begitu, jika ada yang mengganggu suasana hatinya mood kerjanya jadi hancur." Ucap Allan dengan memeluk sang Istri. Istri yang sudah menemaninya dan memberikan kebahagiaan.


"Hm..seperti kamu." Indira tertawa.


.


.


Sena mendengus kesal ketika dirinya di paksa untuk mengikuti pria gila yang baginya sangat menyebalkan, apalagi melihat wajah pria itu yang selalu menatapnya terus-terusan.


"Berhenti menatapku seperti itu bodoh." Sena menatap Aaron tajam, dirinya risih jika diperhatikan seperti itu.


"Kamu tau, aku kemarin sudah ke Sukabumi untuk mencari mu di pabrik, tapi kamu malah tidak ada." Aaron menyesap minumannya. "Dan aku langsung balik ke Jakarta setelah tau jika kamu masih disini."


Sena memutar bola matanya malas. "Ngak penting." Ucapnya ketus.


Aaron tersenyum, bukanya kesal pria itu malah semakin aneh. "Kamu yang paling penting bagiku." Ucapnya menatap instens Sena.


Sena yang ditatap begitu intens membuatnya sedikit gugup. "Ck, nyebelin." Sena beranjak dari duduknya berniat pergi, jangan sampai hatinya mempunyai sinyal dengan pria gila itu.


"Mau kemana?" Tanya Aaron mengikuti langkah Sena, setelah meninggalkan uang untuk membayar minuman mereka.


"Bukan urusanmu." Sena terus berjalan.


"Dasar gadis jutek." Tangan Aaron melingkar di leher Sena, hingga kepala Sena berada di rangkulan Aaron.

__ADS_1


"Lepas bodoh.." Umpat Sena merasa kesal.


"No..kamu terlalu cantik untuk di lihat para buaya di sini." Ucap Aaron dengan menatap tajam beberapa anak muda yang menatap kearah Sena sejak tadi.


"Ar..lepas."


"Tidak mau."


"Aku akan memukulmu."


"Pukul saja jika bisa."


Aaron mengajak Sena untuk keluar dari mall itu dan membawanya sampai di parkiran motor.


"Pria gila." Sena menatap tajam Aaron, tangannya merapikan rambutnya yang berantakan.


"Ya, gila karena kamu."


"Stres.." Sena mendengus, berbicara dengan Aaron hanya akan membuatnya emosi saja.


"Ayo naik." Aaron yang sudah menaiki motor besarnya, menyuruh Sena untuk naik.


"Maaf, saya tidak level naik motor." Ucap Sena ingin pergi.


"Eh..mau kemana, aku bilang naik." Aaron mencekal tangan Sena agar mau ikut dengannya.


"Lepas..!! Aku bawa mobil, lagian aku pakai rok mana mungkin naik motor besar seperti itu." Gerutunya tanpa sadar membuat Aaron tersenyum di balik helm nya.


"Baiklah." Aaron kembali turun dari motor besarnya, dan melepas helm nya lagi.


"Ayo..dimana mobilmu." Ucapnya menarik Sena untuk pergi ke parkiran mobil.


"Apaan sih, motor kamu."


"Kenapa kamu lebih memikirkan motor itu dari pada aku? Apa aku harus menjadi seperti motor itu untuk bisa kamu pikirkan." Aaron menatap Sena.


Sena hanya memutar kedua matanya malas, kenapa juga dirinya harus bertemu pria gila itu di sini.


'Nasib, kalau jomblo.' gumamnya dalam hati, jika dirinya punya pasangan pasti pria gila itu tidak akan mengikutinya terus.


.


.


Di kantor kedua pria yang berbeda usia itu saling duduk berhadapan.


"Bagaimana apa lamaran saya di terima?" Ucap Tuan Lewis pada Bimo yang hanya diam.


Bimo diam tidak percaya, jika putrinya di lamar oleh pria di depannya ini.


"Saya memang terlalu semangat untuk melamar putri anda, saya hanya takut cucu saya akan kalah cepat dengan orang lain." Ucap tuan Lewis lagi.


"Saya tidak bisa memutuskan hal penting seperti ini tuan, dan saya baru tau jika gadis yang cucu anda maksud adalah anak saya sendiri." Bimo tersenyum tipis mengingat kejadian tempo lalu dengan Aaron yang memberikan keuntungan lima puluh persen saham di tukar oleh kebebasannya yang ingin mengejar gadis yang dicintainya.


"Ya, saya kira cucu saya kali ini harus bekerja keras untuk menaklukan putrimu itu." Tuan Lewis tertawa. "Karena selama ini Aaron lah yang di kejar-kejar wanita, bukan dia yang mengejar wanita."

__ADS_1


"Jika mereka saling mencintai, maka saya akan terima lamaran anda, tapi jika sebaliknya..saya tidak bisa memaksakannya."


__ADS_2