
Alena langsung di bawa Bimo menuju kamar utama, agar Alena bisa langsung mengganti pakaiannya.
"Aku tidak bawa baju Bim." Tanya Alena yang bingung, karena dirinya tidak membawa pakaian ganti.
"Disana." Bimo menunjuk lemari besar yang berada di ujung ruangan. "Semua kebutuhan kamu sudah aku siapkan, jika kurang nanti kita beli lagi." Bimo mengecup pipi Alena.
Alena berjalan mendekati lemari besar itu, dan benar saja ketika dirinya membuka pintu lemari itu, banyak baju wanita tersusun rapi dan baru semua.
Alena menatap tak percaya wajah Bimo, yang kini sudah sah menjadi suaminya, bahkan mereka sudah memiliki surat menikah.
Bagaimana bisa, sedangkan mereka nikah dadakan?
Bimo Bagaskara akan melakukan apapun asal keinginannya terwujud, Bimo sudah menyiapkan semua dengan pasti, karena dirinya yakin jika Alena akan menjadi miliknya. Dan semua itu tak luput dari bantuan Yuda, yang mengurus surat nikah mereka dalam satu Minggu harus jadi.
"Kamu yang menyiapkan semua ini?" Tanya Alena.
"Hm.." Bimo hanya berdehem untuk menjawab, karena dirinya sibuk dengan ponselnya.
Alena segera masuk kedalam kamar mandi setelah melepas aksesoris di kepalanya.
Beruntung baju yang di kenakan Alena kancingnya berada di depan, alhasil dirinya tidak perlu meminta bantuan kepada Bimo.
Tiga puluh menit Alena berada dikamar mandir, kamar mandi yang begitu luas membuat Alena menggeleng kepala.
"Seperti mimpi." Ya Alena seperti mimpi dinikahi bosnya yaitu CEO utama di perusahaan tempatnya bekerja.
Siapa yang menyangka jika dirinya akan dinikahi, padahal Alena cuma berharap Bimo hanya menggagalkan rencana Diki yang menikahinya, tapi pria itu malah memanfaat kan keadaan.
Alena keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana hotpants dan kaos oblong yang kebesaran, dirinya mengambil kaos Bimo, karena baju yang disediakan suaminya adalah gaun dan dress semua, tidak ada baju rumahan.
__ADS_1
"Sudah selesai." Bimo berdiri dan mendekati Alena yang sedang duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutnya.
"Jika masih ada yang kurang nanti kita beli, aku tidak tahu barang yang kamu sukai seperti apa." Ucap Bimo di belakang tubuh Alena, Bimo sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya di samping sang istri.
"Hem..terima kasih." Alena tersenyum, meskipun begitu dirinya terharu jika Bimo menyiapkan semua untuknya.
"Berterima kasihlah yang benar." Ucap Bimo menatap wajah Alena di cermin.
Alena mengerutkan keningnya. "Maksud nya ap_"
Cup
Bimo lebih dulu Melu*mat bibir Alena ketika gadis itu menoleh ke arahnya.
"Berterima kasihlah dengan cara seperti ini." Bimo menghapus sudut bibir Alena yang basah, jika tidak ada hal penting di kantor dirinya pasti sudah menerkam istri barunya ini.
"Aku akan pergi ke kantor sebentar." Ucap Bimo bangkit berdiri, Alena juga ikut berdiri.
"Apa aku masih boleh bekerja." Tanya Alena menatap suaminya.
"Kamu masih ingin bekerja?" Tanya Bimo menatap wajah Alena, dan Alena hanya mengangguk.
Bimo menghela napas kasar. "Baik lah, nanti kita bicarakan lagi, sekarang aku harus pergi." Bimo mengecup kening Alena.
"Jika perlu apa-apa, hubungi aku." Sebelum keluar dari kamar Bimo kembali mencium istrinya, kali ini dibibir yang sudah menjadi candunya.
"Hm.. hati-hati." Ucap Alena mengambil tangan Bimo untuk dirinya cium.
Bimo tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Melihat suaminya sudah pergi Alena turun kebawah mencari keberadaan Alisa dan mbak Mirna.
"Kemana mereka." Alena mencari kesemua ruangan di dalam rumah namun tak menemukan orang yang dirinya cari, dan ketika akan menuju pintu samping dari ruang keluarga Alena mendengar tawa Alisa dari arah luar.
Alena melihat Alisa sedang bermain air dipinggir kolam renang dengan mbak Mirna, mereka saling melempar air kolam tapi tidak sampai masuk kedalam, hanya dipinggiran kolam.
"Alis.." Alena mendekat ke arah Alisa.
"Kakak..!!" Alisa berteriak dengan tawanya.
"Kamu sedang apa?" Alena duduk di kursi yang tersedia di dekat kolam.
"Alis hanya mainan air kak, rumah kak Bimo besar dan ada kolam renangnya, Alis suka kak." Gadis kecil itu berceloteh dengan ceria.
Alena hanya tersenyum dan mengacak rambut Alisa yang sedikit basah.
.
.
"Sayang, kamu dari mana?" Seorang wanita sudah menunggu Bimo di ruang kerjanya.
Bimo yang baru masuk pun malas melihat Siera duduk manis disofa.
"Bim, aku sudah bicara dengan Daddy, kalau aku ingin bertunangan dengan kamu." Ucap Siera tersenyum manis.
Bimo menatap Siera dingin. "Heh..apa kamu sudah tidak laku, sehingga meminta orang tuamu untuk bertunangan dengan ku." Bimo menetap Siera sinis. "Jangan harap wanita sepertimu bisa bertunangan dengan ku." Bimo berdiri, meninggalkan Siera yang kesal dan sakit hati mendengar ucapan Bimo.
"Jangan panggil aku Siera Mahren jika tidak bisa memiliki apa yang aku inginkan." Ucapnya menatap punggung Bimo yang keluar dari ruangannya.
__ADS_1