
"Mas kata umi, malam nanti mas diundang ke panti untuk memberi sambutan." Ucap Nisa yang sedang memilih bunga untuk Ia taruh di beberapa tempat. Nanti malam panti asuhan yang di pimpin ibu Aisya mengadakan acara amal, dan akan di isi oleh ustadz kondang untuk memberikan ceramah, dan umi Aisya meminta Nisa untuk mengundang Bimo datang ke acara nanti malam.
"Kenapa mendadak biasanya umi Aisya mengatakannya seminggu sebelumnya." Bimo menyentuh mawar putih yang selalu dia beli.
"Umi mungkin lupa," Nisa tersenyum dan sudah mendapatkan bunga yang dia inginkan, untuk dia beli.
"Baiklah, aku akan datang, dan mungkin tidak sendiri." Bimo tersenyum, dan membawa beberapa tangkai bunga mawar putih untuk dia beli.
Nisa yang melihat Bimo membawa bunga mawar putih, tersenyum sendiri apalagi mendengar ucapan Bimo yang datang tidak sendiri membuat jantung bisa berdetak cepat.
Nisa memang mengagumi sosok pria dewasa didepanya, pria dengan usia yang sudah matang, namun masih tampan tubuhnya nya pun masih bugar.
Awalnya Nisa pikir Bimo adalah pria beristri, tapi setelah mendegar cerita dari umi Aisya, membuat Nisa tahu jika Bimo adalah duda yang ditinggal istrinya meninggal dan memiliki dua orang anak yang sudah dewasa.
Cara Bimo berbicara dan kewibawaannya membuat Nisa semakin mengaguminya apalagi Bimo memiliki jiwa penyayang kepada anak-anak dan perhatian yang begitu besar kepada anak-anak membuat Nisa semakin dalam mengagumi sosok pria matang itu.
__ADS_1
"Sudah?" Ucapan Bimo membuyarkan lamunan Nisa, membuatnya tersenyum kikuk.
"Eh, sudah Mas aku bayar dulu." Nisa pun pergi dari hadapan Bimo yang memperhatikannya, Bimo hanya mengangguk dan menunggu Nisa di dalam mobilnya.
"Ayo, Lila kakak sudah selesai." Nisa mengajak anak kecil yang dia bawa, untuk membantunya membawa bunga.
"Ayo kak."
Diluar Daniel sudah menunggu di samping mobil Bimo, "Biar saya bantu mbak," Ucap Daniel meraih buket bunga yang Nisa beli.
Setelah menaruh bunga dengan benar, Daniel kembali masuk untuk mengemudikan mobilnya.
"Kita kemana dulu bos?" Tanya Daniel yang melihat buket bunga mawar putih di pangkuan Bimo, dan Daniel cukup tahu apa maksud Bimo membeli bunga itu.
"Antara kan Nisa dulu kepanti Nil." Ucap Bimo membuat Nisa menoleh.
__ADS_1
"Kalau mas Bimo ada urusan tidak apa Nisa turun didepan." Nisa menoleh kebelakang, Dimana Bimo duduk, karena Nisa duduk di kursi depan samping supir.
"Tidak usah, nanti kamu mengguku lama."
"Tidak apa mas, sekalian mengajak Lila jalan-jalan." Nisa menatap Lila mengangguk senang.
"Baiklah, kalau kamu mau menungguku." Bimo hanya terseyum tipis. Dan Daniel pun melajukan mobilnya menuju tempat tujuan Bimo, padahal Bimo pergi ke tempat itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam lamanya, dan pasti Nisa tidak akan betah, batin Daniel.
Setelah sampai di tempat tujuan Daniel memakirkan mobilnya di tempat biasa, tempat yang teduh untuk menunggu bosnya.
Nisa masih diam karena tahu tempat apa yang mereka tuju, mungkin saja Bimo ingin mengunjungi Istrinya.
"Kamu antarkan Nisa jika menunggu saya lama Nil." Ucap Bimo sebelum keluar dari dalam mobil.
"Baik bos." Daniel mengangguk patuh.
__ADS_1
Nisa semakin melihat punggung Bimo menjauh, dengan membawa buket bunga yang tadi Bimo beli, Nisa pikir bunga itu untuk seseorang dan bukan untuk di bawa ke pemakaman.