
Ren sengaja berhenti di lantai tiga, dirinya penasaran dengan Alexa. Melihat tatapan kebencian di mata Alexa membuat Ren ingin tahu.
Jika masalah dulu, itu karena kesalahannya yang datang tidak tepat waktu, dan seharusnya masalah itu tidak membuat wanita itu membencinya.
"Ck. kenapa juga gue harus peduli." Gumamnya yang menyadari kebodohannya, "Memangnya siapa dia." Ren yang sudah keluar dari lift kembali masuk, namun matanya tak sengaja melihat Alexa sedang tertawa bersama seorang pria. Bahkan Alexa terlihat begitu cantik ketika tertawa dan tidak menunjukkan wajah dinginnya.
"Cih, wanita seperti itu dikatakan melindungi diri dari Sorang pria." Dumel Ren yang mengingat ucapan papanya. "Yang ada sok cantik dan gatel." Mata Ren tak lepas menatap interaksi Alexa bersama pria itu. Apalagi Alexa sampai menyentuh pundak pria itu dengan senyum.
Drt....Drt...Drt..
Ponselnya bergetar tanda panggilan masuk. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika melihat Jihan yang menelfon.
"Sayang kamu Dimana?" Suara wanita dari seberang sana.
"Di kantor papa, ada apa hm.." Tanya Ren yang masih berdiri di samping pintu lift, belum jadi masuk.
"Aku ingin ketemu, maaf kalau kemarin aku tidak ada dirumah pas kamu datang." Jihan dengan memelas nya.
"Baiklah, sekarang kamu dimana?" Mata Ren menatap dua orang yang baru saja melewati nya, dan masuk ke lift.
Dengan masih menerima telepon Ren ikut masuk dengan dua orang tadi, yang melihatnya dengan biasa saja, sedangkan Ren sudah mendengus dalam hati ' Cih, sok cantik.'
"Sayang kamu dengar aku?" Suara keras Jihan membuat Ren menjauhkan ponselnya dari telinga, membuat Gilang dan Alexa hanya geleng kepala. Ren sendiri menatap tajam kedua orang itu.
"Sherlock sayang, aku akan kesana." Ren segera mematikan sambungan ponselnya, dirinya tidak mau membuat kedua orang itu menertawakan nya.
"Lex, mau makan dimana?" Tanya Gilang yang membuka suara lebih dulu.
"Di atas, karena kami memang suka membawa makanan ke atas." Ucap Alexa dengan sedikit senyum, dan Ren yang berada di sisi kanan Alexa melihat itu.
Posisi mereka Alexa tepat berada di tengah-tengah kedua pria itu, namun Alexa sedikit membelakangi Ren.
Ehem
"Di kantor ini dilarang makan dalam ruang kerja, apa gunanya kantin yang sudah disediakan jika kalian masih membawa makanan ke ruangan kerja." Suara datar Ren membuat kedua orang itu menoleh, di mana hanya ada tatapan biasa saja dari Alexa, lain dengan Gilang yang hanya tersenyum merasa tidak enak.
"Terima kasih bapak sudah mengingatkan kami, tapi maaf disini tidak ada larangan karyawan tidak boleh membawa makanan ke ruang kerja." Alexa segera keluar ketika pintu lift terbuka, dan Gilang yang masih diam hanya tersenyum sebelum pamit mengikuti Alexa.
"Ck. Dasar wanita sombong, awas aja ini terakhir kali kamu bisa makan di ruangan mu." Ren tersenyum menyeringai, dirinya akan meminta Daniel untuk membuat pengumuman, jika karyawan dilarang membawa makanan ke dalam ruangan kerja.
Ren keluar dan segera pergi dari kantor Bimo, dirinya akan menemui Jihan yang sedang dua hari tidak bertemu, selain itu Ren juga ingin membicarakan tentang pekerjaan, dimana Jihan akan dia pekerjakan dikantor bersamanya.
Dengan begitu Jihan juga memiliki kesibukan dan penghasilan sendiri, dan pasti Jihan tidak di pandang sebelah mata oleh orang-orang yang mengenalnya.
__ADS_1
.
.
Jihan yang melihat kekasihnya memasuki cafe tempatnya menunggu melambaikan tangannya, tersenyum lebar menyambut kedatangan Ren.
"Sudah lama menunggu?" Ren meraih pinggang Jihan dan mencium pipi Jihan.
"Em.." Jihan mengangguk manja. "Kamu tidak sibuk?" Tanyanya hanya basa-basi, karena meskipun Ren sibuk pasti tetap menemui dirinya.
"Tidak, kebetulan sedang di kantor papa." Ren duduk didepan Jihan, terhalang meja pembatas.
"Ren maaf kalau kemarin aku tidak dirumah, aku ada acara Sam teman-teman ku, dan kami memang tidak pernah bertemu." Tutur Jihan dengan serius, dirinya memang sedang ada acara bersama teman-temannya.
"Tidak apa, aku sudah melupakannya." Jawab Ren jujur, karena memang dirinya cepat lupa jika tentang kejadian yang menurutnya tidak begitu penting, tapi hatinya tidak menyadari hal itu yang jelas Ren menyukai Jihan sejak masa sekolah.
"Ren kamu mencintaiku?" Tanya Jihan dengan menatap Ren serius.
Ren mantap Jihan balik, dirinya selalu mendapat pertanyaan seperti itu.
"Aku ingin hubungan kita serius Ren, karena aku mencintaimu." Jihan memegang kedua tangan Ren. "Aku sudah lelah jika harus hidup tanpa tujuan, dan sekarang hidup dan tujuanku adalah kamu." Jihan berucap dengan wajah sendu. Dirinya merasa lelah menjalani kehidupan seperti ini, yang tanpa tujuan dan semangat.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, ada ibumu yang masih harus kamu rawat, dan tujuan hidupmu membuat ibumu sembuh."
"Jadi kamu tidak ingin serius dalam hubungan kita?" Tanya Jihan dengan nada sedikit kecewa.
"Bukan begitu sayang, tapi_"
"Sudahlah Ren, kamu memang tidak serius denganku." Jihan langsung berdiri dengan wajah kesal meninggalkan Ren yang menatapnya bingung.
"Loh, sayang..bukan begitu..!!" Ren ingin meraih tangan Jihan, namun Jihan lebih cepat pergi dari cafe itu, Ren yang sudah malas dan juga kesal enggan untuk mengejar.
"Dasar pria gak peka." Jihan menggerutu ketika menoleh kebelakang dan melihat Ren yang masih duduk dengan mengusap wajahnya kasar. Jihan pikir Ren akan mengejarnya dan memohon untuk meminta maaf, tapi nyatanya pria itu masih duduk anteng di tempatnya.
Ren yang mendapat pesan dari Bimo memilih untuk kembali ke kantor papanya, padahal di kantor pusat pekerjaannya begitu banyak, tapi perintah sang papa sangat Ia hormati.
Memasuki kembali lobby kantor BGS setelah lima belas menit berkendara, Ren yang buru-buru tidak melihat jika pintu lift yang dia masuki adalah lift karyawan, padahal ada lift khusus petinggi di kantor itu.
Bugh
Tanpa melihat kanan kiri Ren yang ingin masuk bertabrakan dengan seseorang yang juga ingin masuk.
"Ya salam kamu lagi." Ren hanya melirik sini Alexa yang ternyata menabraknya.
__ADS_1
Tanpa menjawab Alexa lebih dulu masuk, dan Ren mau tidak mau ikut masuk.
"Bapak kenapa naik lift karyawan, dan tidak naik lift petinggi saja. Jadi tidak perlu bertemu saya lagi." Ucap Alexa kesal, lagi-lagi dirinya bertemu pria menyebalkan.
"Dih, kamu itu yang seharusnya ngalah sebagai bawahan." Sindir Ren dengan ketus.
"Tapi sayangnya lift disini tidak ada tulisan jika keryawan harus ngalah sama atasan."
Dum
Bagaikan bom meledak, Ren yang mendengarnya menatap tajam Alexa.
"Kamu berani melawan saya hm." Ren berdiri di dekan wajah Alexa yang menatapnya tidak takut.
"Kenapa harus takut, kita sama-sama manusia makan nasi." Alexa dengan berani menatap Ren tajam.
"Cih, sok cantik padahal murahan."
Ucapan Ren membuat Alexa meradang.
"Siapa anda berani menghakimi saya hah..!!" Alexa menatap Ren penuh kebencian. "Saya rasa anda sudah Keterlaluan." Alexa ingin melayangkan tangannya untuk menampar Ren namun karena Alexa kecil Ren berhasil menghalau tangannya dan tidak sampai menampar, Ren malah menarik tangan Alexa membuat wanita itu terjerembab kedalam pelukannya.
Tangan kiri Ren merangkul pinggang Alexa, hidung Ren bisa mencium aroma wangi yang menguar dari diri Alexa.
"Lepas..!!" Alexa memberontak tapi Ren malah fokus pada bibir Alexa.
Cup
Tanpa rasa bersalah Ren mengecup bibir ranum Alexa yang begitu menggiurkan, dirinya seakan lupa dan malah terbuai oleh bibir Prada Alexa.
Alexa mencoba untuk menghindar namun cekallan tangan Ren lebih kuat dari tenaganya.
"Firs kiss hm." Ucap Ren menatap kedua mata Alexa dengan kilat kemarahan.
"Pria brengse_ emph.." Suara Alexa kembali tenggelam ketika Ren menyumpal bibirnya lagi.
Kali ini Ren sedikit melumatt dan menyesap bibir Alexa, membuat Alexa meleguh dan tangannya meremat jas yang Ren gunakan.
Ting
Pintu lift terbuka namun tak membuat Ren melepaskan ciumannya, dan kedua orang yang melihat hal itu membulatkan kedua matanya.
"Ren..!!"
__ADS_1
Ren dak Alexa sontak memundurkan wajahnya.