Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Sena mengerjapkan kedua matanya, ketika sinar matahari menerpa wajahnya.


"Em.." Menggeliat untuk meregangkan otot tubuhnya, malam ini Sena tidur dengan nyenyak, tubuhnya pun sudah lebih baik, hanya saja masih terasa lemas dan sedikit pusing.


Jam sudah menunjukan delapan pagi, Sena melihat ke jendela.


"Siapa yang membuka gorden itu." Pikirnya, karena seingatnya dirinya belum membukanya, bahkan dia masih duduk di atas kasur.


Ceklek


Pintu kamarnya terbuka, menpilkan seorang pria tampan dengan membawa nampan, sepertinya makanan.


"Ar..!!" Pekik Sena ketika melihat Aaron di dalam apartemen nya.


"Hay..sudah bangun." Sapa Arron santai, dirinya tidak perduli melihat wajah Sena yang terkejut.


"Kamu...kenapa ada disini?" Tanya Sena yang menyibak selimutnya, dan ternyata dia masih menggunakan pakaian lengkap.


"Menjagamu semalaman." Ucapnya dengan menaruh nampan berisikan bubur di atas nakas.


"Apa-an sih." Sena menepis tangan Aaron yang berada di keningnya.


"Syukurlah kalau sudah turun panasnya." Aaron mengambil mangkuk isi bubur.


"Makanlah, aku buatkan ini untuk mu, yaa meskipun tak se-enak masakkanmu, tapi percayalah ini bubur enak dan bisa dimakan." Ucap Arron dengan menyendok kan bubur dan menyuapi Sena.


Mata Sena menatap bubur di atas sendok. "Ayolah, tidak ada racun nya." Ucap Arron lagi karena melihat Sena hanya diam memperhatikan bubur itu.


Mulut Sena terbuka, tapi kedua matanya melihat wajah Aaron yang berada di depannya, semakin lama melihat, jantung nya semakin berdebar.


"Bagaimana enak..?" Tanya Aaron ketika melihat Sena hanya diam.


"Em.." Sena hanya menganggukkan kepalanya.


"Yesss..."Aaron kegirangan. "Kamu tau Sen-Sen, aku bikin bubur ini khusus buat kamu, dan butuh perjuangan." Ucap Aaron bahagia, tangannya kembali menyuapi Sena. "Dan pada akhirnya kamu pertama kali orang yang menikmati masakan pertamaku."


Sena tersenyum tipis, dirinya merasa terharu mendengar ucapan Aaron. "Tapi kamu tidak membuat dapurku kebakaran kan?" Tanya Sena dengan mata memincing.


Glek


Aaron menelan ludahnya kasar, "Matilah aku..!"


.

__ADS_1


.


"Sen-Sen maaf deh, gak kaya gini lagi..aku kan gak sengaja." Aaron dengan wajah memelas nya membersihkan peralatan masak dan dapur yang sudah Ia buat seperti kapal pecah. Pria tampan dan mapan itu mana pernah menyentuh dapur seumur hidupnya.


Sena hanya duduk di kursi menikmati sisa bubur yang Aaron buat, ternyata rasanya memang enak. "No, kamu harus di hukum karena masuk rumah sembarangan apalagi masuk kamar ku, dan lihat karena perbuatan mu dapurku seperti kapal pecah." Ucap Sena mendelik tajam menatap Aaron.


Entah mengapa Sena merasa senang dan lucu bisa mengerjai pria gila yang sayangnya sangat tampan, dan hatinya pun sepertinya sudah mulai melunak.


"Auws.." Aaron mendesis ketika tangannya yang luka tak sengaja terkena peralatan masak.


"Kamu kenapa?" Sena langsung berdiri dari duduknya, menghampiri Aaron untuk melihat apa yang terjadi.


"Tidak apa_"


"Kenapa tidak bilang kalau tangan kamu terluka." Sena memotong ucapan Arron dengan cepat, wajahnya terlihat panik, melihat luka bakar di telapak tangan Arron.


Sena meniup-niup tangan Arron. "Sakit..?" Tanya Sena dengan wajah panik menatap Aaron sekilas.


Aaron hanya menggeleng dengan senyum, perasaan nya tiba-tiba menghangat melihat wajah Sena yang panik hanya karena luka bakar kecil itu.


Ada rasa bahagia dalam hatinya, itu berarti Sena memiliki rasa untuknya.


"Duduklah, aku ambil obat dulu." Sena hendak pergi, tapi Arron mencegahnya.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku." Tangannya menyentuh rambut Sena, dan merapikan nya di belakang telinga. "Meskipun kamu ketus dan menyembunyikan perasaan mu, tapi aku tahu jika disini.." Aaron menunjuk dada Sena menggunakan jari telunjuknya. "Sudah ada aku."


Sena diam, yang di katakan Arron memang benar. Apalagi pria di depannya ini semalaman menemaninya dan merawatnya, membuatnya semakin menyukai sifat Arron yang perhatian dan penyayang.


"Tidak apa jika hanya sedikit, dan selebihnya akulah yang akan membuat sebanyak mungkin perasaan mu itu hanya untuk ku." Aaron tersenyum, senyum manis yang membuat dada Sena berdebar.


"Ck.lebay.." Sena membuang wajah dengan mengulum senyum.


"Tidak apa, kamu bilang lebay, gombal apalah..yang jelas aku akan berusaha untuk membuat mu tetap berada di sisiku."


Sena menatap lekat wajah Arron yang sangat dekat dengannya. "Apapun akan aku tinggalkan, asal aku mendapatkan yang aku mau, yaitu kamu."


Cup


Aaron menempelkan bibirnya pada bibir Sena yang sudah tak sepucat tadi malam, bibir itu kini kembali ranum dan menggoda Aaron untuk di cicipi.


"Emph.." Alena meleguh, ketika lidah Arron menyusup masuk ke dalam mulutnya. Tanpa penolakan Sena mencoba untuk mengimbangi permainan lidah Arron.


Aaron tersenyum dalam hati, kali ini dirinya benar-benar merasa jika Sena memiliki perasaan untuknya.

__ADS_1


Aaron memangut bibir yang sudah membuatnya candu, jika dekat dengan Sena gairahnya selalu hadir dan ingin menyentuh wanita di pangkuannya ini.


"Emm..Ar.." Sena mengeluarkan suara lacnutnya ketika ciuman Aaron pindah ke leher.


"Emph.." Tubuh Sena meremang ketika rasa dalam dirinya bergejolak dan merasakan rasa asing yang belum pernah Ia rasakan.


Ting...tong...Ting..tong...


Suara bel apartemen berbunyi ketika keduanya masih larut dalam gelora yang begitu memabukkan, bahkan Aaron tak kuasa menahan gairah.


"Ar..ah." Sena yang ingin bicara, di buat mende_sah, ketika Arron menggigit bahunya hingga meninggalkan bekas.


Bel apartemen terus berbunyi, membuat orang di luar sana sedikit kesal karena menunggu.


"Duh Sena kemana sih, kok lama banget bukannya." Ucap Gina yang datang membawakan beberapa makanan untuk Sena, karena kata Kemal, Sena sedang tidak enak badan.


"Apa dia masih tidur, atau pergi keluar." Gumamnya dengan masih menekan bel apartemen.


"Ar..hentikan..!!" Sena mendorong kepala Aaron yang masih dengan rakus mencumbu bibirnya.


Wajah Aaron begitu sayu, kilat gairah terpancar dari bola matanya.


"Maaf.." Aaron menempelkan keningnya di bahu Sena, napasnya tersengal dengan menahan hasratnya.


"Maaf.." Ucap Arron dengan suara lirih. "Aku tidak bisa mengontrol diriku."


Sena hanya diam, tangannya terangkat untuk mengelus kepala Aaron.


"Emm, Tidak apa." Ucap Sena.


Aaron mendongak menatap wajah Sena, dia pikir Sena akan marah dan memukulnya seperti waktu itu.


"Kamu tidak marah?" Tanyanya dengan kedua tangan melingkar di pingang Sena yang masih duduk di pangkuannya.


Sena hanya menggelang. Senyum di bibir Aaron terbit.


"Terima kasih." Arron mengecup kening Sena dalam, membuat Sena memejamkan mata.


"Aku yakin, kali ini hati kamu sudah bertambah banyak untuk ku." Aaron tersenyum manis.


Sena hanya tersenyum, entah mengapa dirinya merasa senang melihat wajah Aaron yang lucu seperti ini.


"Jadi kamu mau menjadi istriku.."

__ADS_1


Senyum di wajah Sena langsung menghilang.


__ADS_2