Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Masa lalu 2


__ADS_3

Pluk


Bibir Aaron menemukan bulatan benda kecil yang berada di atas bulatan daging kenyal, Aaron mengulum dan memainkan lidahnya di benda bulat kecil yang sudah mencuat keras. Membuat Sena bergerak gelisah.


"Aarr, ah." Sena mendesahh ketika bibir Aaron bermain di gundukanya, dan tangan satunya meremas, memijit kuat miliknya membuatnya semakin bergairah.


"I want you." Aaron menatap wajah Sena sayu, tatapan matanya sudah sangat menginginkan sang istri.


Tidak ada jawabanya melainkan Sena lebih dulu meraih bibir Aaron dan melumatt nya, tangannya bergerak membantu melepas kaus yang Aaron gunakan, keduanya saling memberi rangsangan satu sama lain, membuat napas keduanya memburu dengan dada naik turun.


Aaron menatap tubuh Sena yang polos, wanitanya memang selalu menggunakan gaun malam yang begitu seksih, selain memudahkan untuk menyusui kedua putranya dan begitu juga mempermudah untuk Aaron menyusuri tubuh Istrinya yang selalu membuatnya candu berada di bawahnya.


"Sayang..ahh.." Sena meremas rambut Aaron kuat, ketika milikinya kembali menyatu, dadanya naik turun merasakan kenikmatan yang selalu membuatnya terbang melayang. Sena begitu menggilai penyatuan suaminya.

__ADS_1


"Engh.." Aaron berpacu di atas tubuh sena yang sudah basah oleh keringat, keduanya saling memuaskan untuk mereguk kenikmatan yang tiada tara, dan seperti yang di katakan surga dunia adalah kenikmatan yang tiada tara, sebelum merasakan surga akhirat.


"Ar, akuh..shh." Sena bergerak gelisah ketika miliknya terasa berkerut dan semakin tak bisa Ia tahan, apalagi Aaron menghujam miliknya semakin cepat dan dalam.


"Sebentar sayang, bersama aahh.." Aaron menekan pinggang Sena agar tidak terus bergerak, membuat miliknya terasa linu bercampur nikmat.


"Ouwh..Sena." Tiga puluh menit berlalu, suara erangan dan desahann keduanya menggema di kamar yang dingin menjadi panas ketika dua tubuh yang saling menyatu dan saling mengejar pelepasan yang tiada tara.


"Ar, arrghh." Tubuh Sena mengejang dengan tangan memeluk kepala Aaron untuk dia benamkan di dadanya.


Napas keduanya memburu, keringat bercucuran melebur menjadi satu, merasakan sesuatu yang selalu membuat mereka ketagihan.


"I Love You." Aaron mengecup bibir Sena yang terbuka, mengatur napas yang belum stabil.

__ADS_1


Sena hanya tersenyum dengan memejamkan matanya.


.


.


Bimo menatap langit malam dari balkon kamarnya, dirinya mengenang masa lalu yang sudah puluhan tahun. Dia tidak menyangka jika Richard masih hidup, dan ambisi pria tua itu masih kuat untuk menjalankan bisnis. Bahkan laporan yang dia dengar jika Istrinya meninggalkannya setelah harta miliknya habis, lagi-lagi Bimo hanya menghela napas dalam.


"Aku pikir tidak ada dendam yang akan mengusik keluargaku." Bimo berbicara dengan dirinya sendiri, angin malam tidak membuatnya beranjak dari balkon kamar.


"Percayalah jika Tuhan pasti akan melindungi umatnya yang selalu di jalan yang benar." Sebuah selimut menghangatkan tubuhnya, di mana muncul wajah cantik disampingnya dengan senyum manis.


"Ya, dan aku tidak akan membiarkan siapapun merenggut kebahagiaan keluarga ku." Tangannya menyentuh tangan Alena dan menciuminya. "Cukup aku kehilanganmu, tidak untuk yang lain." Keduanya saling bertatap wajah, bola mata mereka sama-sama memancarkan cinta yang begitu besar dan kerinduan yang begitu dalam.

__ADS_1


"Andai dulu tidak terjadi, maka aku akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini." Bimo menyatukan keningnya di kening Alena menangkup wajah Alena dengan kedua tangannya. "Maaf karena aku kita menjadi terpisah." Setetes air mata jatuh di pipi Bimo.


__ADS_2