Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part134


__ADS_3

Di sebuah taman dengan pemandangan yang begitu indah, di depannya terdapat hamparan bunga luas yang begitu berwarna.


Bimo tersenyum bahagia melihat pemandangan indah di depan sana, pandangan yang lebih indah dari semua bunga yang bermekaran di taman itu.


"Sayang, kemari lah." Ucapnya memanggil sang istri dengan senyum terus mengembang.


"Sayang, aku suka tempat ini." Alena tertawa-tawa ketika kupu-kupu berterbangan di depan matanya.


"Nanti kamu capek sayang, kasian Beby kita."


Alena yang mendengar kata Beby pun berhenti berlarian dengan pelan.


"Hah..hah.." Dengan napas sedikit ngos-ngosan Alena mendekati suaminya yang sedang duduk di kursi taman itu, dirinya juga ikut duduk di sebelahnya.


"Lihat, kamu keringetan." Bimo mengusap kening dan wajah Alena menggunakan punggung tangannya.


Alena hanya tersenyum, bibirnya terus mengembang.


"Kamu bahagia?" Tanyanya setelah menurunkan tangannya dari pipi Alena.


"Hu'um.." Alena mengangguk. "Sangat bahagia, apalagi di tempat indah seperti ini dan bisa kembali melihat senyum mu yang manis." Alena menatap lekat wajah suaminya. "Kamu harus kuat sayang demi kita." Alena mengelus perutnya yang buncit.

__ADS_1


Pandangan mata Bimo beralih pada perut buncit Alena. "Papa pasti akan kuat untuk kamu dan anak kita." Mencium perut Alena.


Tangan Alena terulur untuk mengelus rambut Bimo. "Papa jangan sedih, kalau papa sedih nanti kami juga ikut sedih, mama dan aku, menunggu papa disini." Ucap Alena menirukan suara anak kecil.


"Kenapa menunggu di sini, kita akan pulang bersama." Bimo kembali menegakkan duduk nya dan menatap wajah Alena yang tersenyum indah di depannya.


Alena menggeleng. "Kamu harus sembuh sayang, dan jemput kami disini." Alena mengelus wajah suaminya.


"Maksud kamu apa sayang." Ucapnya bingung.


Alena berdiri dan tersenyum. "Janji jangan pernah berubah."


"Sayang kamu mau kemana? jangan tinggalin aku lagi..!!" Bimo mengejar Alena yang semakin jauh dan menghilang.


"Alena..!!"


"Sayang..Nak." Leina langsung mendekati putranya yang tiba-tiba bangun dan berteriak.


"Alena.." Napas Bimo memburu dengan pandangan mata lurus. "Alena, jangan tinggalin aku." Matanya berkaca-kaca mengingat dirinya hanya mimpi, tapi mimpi itu terasa nyata dalam ingatannya.


"Bimo kamu sudah sadar nak." Rendy pun mendekat dan mengelus punggung Bimo.

__ADS_1


Bimo memang tak sadarkan diri sudah dua hari, dan sekarang putranya itu bangun dengan meneriakkan nama Alena.


"Pah, Alena menungguku di sana pah, aku harus aku kesana." Bimo ingin beranjak dari ranjangnya.


"Nak, kamu mau kemana, kamu belum pulih." Leina mencegah tubuh putranya agar tidak kemana-mana mengingat Bimo baru sadar, dari kecelakaan itu.


"Lepas..!!" Bimo menyentak tangan Mamanya dan melepas jarum infus yang menancap di tangan nya.


"Bimo..!!" Rendy pun membentak putranya karena tak menghiraukan mereka. "Sadar Bimo, Alena tidak ada disini dia belum kita temukan." Rendy mengusap wajahnya kasar, melihat Bimo yang masih saja memberontak.


Leina yang tidak tega pun berlari keluar dengan panik untuk mencari dokter.


"Alena Pah, Alena mengandung anakku.. mereka_ mereka menungguku di taman." Ucapnya dengan senyum tapi terdengar pilu.


Rendy hanya menatap putranya kasihan. "Kamu hanya mimpi nak, papa janji akan temukan Alena." Rendy memeluk putranya yang kembali duduk di ranjangnya. Keduanya berpelukan Bimo menangis dalam dekapan sang papa.


"Alena Pah, dia benar mengandung anakku, cucu papa." Ucapnya lirih.


Leina yang melihat kedua pria berharga dalam hidupnya saling merangkul membuat dirinya tak kuasa menahan sesak didada.


"Maafin Mama nak." Tangannya meremas baju di dadanya yang kian sesak.

__ADS_1


__ADS_2