Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Berkumpul


__ADS_3

Bimo dan Ren menunggu seseorang di bandara, mereka berdua menunggu sudah lebih dari sepuluh menit tapi orang yang ditunggu-tunggu belum juga terlihat batang hidungnya, padahal pesawat mereka sudah mendarat kurang dari lima menit yang lalu.


"Ck, mereka lama sekali." Ren mondar mandir menatap pintu keluar para penumpang pesawat dari LN dan sejak tadi bibi yang dia tunggu belum juga terlihat.


Bimo hanya diam duduk di kursi tunggu, dirinya sudah biasa melihat putranya yang selalu tidak bisa sabar menunggu, apalagi lebih dari lima menit.


Setelah hampir lima belas menit menunggu, akhirnya orang yang mereka harapkan terlihat keluar dari pintu tunggu dan Alisa yang melihat keponakannya berdiri melambaikan tangan. "Rendra..!!" Panggilan Alisa masih sama seperti dulu, panggilan kesayangannya.


"Bibi.." Ren pun ikut melambaikan tangan dan tersenyum.


Bimo berdiri ketika Ren menyebut 'bibi'.


"Aaa keponakanku." Alisa langsung memeluk Birendra ketika sudah sampai didepan pria tinggi dan tampan seperti kakak iparnya sewaktu muda dulu.


"Bibi apa kabar." Ren membalas pelukan Alisa dengan senang.


Bugh


"Tidak bisakah kamu merubah panggilan mu." Kesal Alisa memukul bahu Ren, membuat Ren tertawa. Sejak dulu Alisa tidak mau di panggil bibi, dia lebih suka di panggil aunty, tapi Ren yang bandel suka meledek Alisa.


"Lidahku sudah terbiasa bibi." Ucap Ren terkekeh.


"Hay jagoan." Ren menyapa anak Alisa yang masih berusia sepuluh tahun.


"Hay uncle." Sapa Glen dengan senyum manisnya, membuat lesung pipinya terlihat.


Bimo menyapa suami Alisa atau adik iparnya yang bernama Giovanni.

__ADS_1


"Apa kabar Mas." Ucap Gio dengan bahasa Indonesia namun logat barat nya masih kental.


"Baik, kalian apa kabar." Bimo membalas pelukan adik iparnya. "Kami semua baik, dan selamat sampai tujuan." Gio tersenyum, memiliki Istri Alisa membuatnya bisa belajar bahasa Indonesia dengan fasih, meskipun logat baratnya masih kental tapi Gio sudah fasih begitupun dengan putranya.


"Kakak." Alisa menatap Bimo dengan mata berkaca-kaca, dia begitu merindukan sosok pria yang begitu menyayanginya.


"Hay, gadis kecil." Bimo tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, menyambut pelukan untuk Alisa.


"Kau merindukan kakak." Alisa menangis di pelukan sang kakak ipar, ucapan Alisa begitu banyak makna, dan hanya Alisa sendiri yang tahu.


"Hm, kami juga merindukanmu." Jawab Bimo dengan mengusap bahu Alisa yang sudah dia anggap sebagai adik nya sendiri. Bimo begitu menyayangi Alisa sejak Alisa masih berusia tujuh tahun mereka sudah dekat. Dan kerena itu Bimo tidak bisa mengubah rasa sayangnya menjadi rasa cinta seperti yang Alisa dulu rasakan. Dan Bimo berharap Alisa sudah bahagia dengan keluarganya.


Bimo melepas pelukannya, dan tersenyum mengusap air mata di pipi Alisa. "Nanti kita berkunjung kerumah kakak mu." Ucapnya dengan masih mengembangkan senyum. Alisa menggaguk dengan senyum diringi Isak tangis.


Gio yang melihatnya hanya diam, dirinya tahu jika sang istri merindukan kakaknya yang sudah tiada, dan Gio juga tahu jika dulu Istrinya pernah memiliki perasaan kepada kakak iparnya yang berstatus duda, tapi semua itu tidak berarti untuk Gio, karena selama mereka menikah dan hidup bersama Alisa menunjukan kasih sayang dan cintanya begitu tulus untuknya dan buah hati mereka. Dan itu sudah cukup untuk Gio jika Alisa sudah tidak lagi memiliki perasaan kepada kakak iparnya, dan itupun terjadi saat Alisa berusia remaja.


Gio hanya sebentar mengenal Bimo juga bisa menyimpulkan, siapa wanita yang tidak tergila-gila dengan pria seperti kakak iparnya itu, pasti semua wanita ingin menjadi pendampingnya, tapi Gio disadarkan kembali jika cinta yang Bimo memiliki begitu besar kepada mendiang istrinya sehingga membuat pria itu begitu sulit untuk menerima yang baru, dan Gio bisa belajar dari karakter kakak iparnya yang mencintai wanita hanya satu untuk selamanya. Dan dia dipertemukan Alisa, wanita baik dan ceria yang bisa mengubahnya dari hal buruk menjadi hal yang lebih baik, dan karena Alisa dirinya menjadi pria yang lebih baik dari sebelumnya. Sungguh Gio sangat beruntung memiliki wanita seperti Alisa, dan mungkin karakter mendiang kakak iparnya sama seperti Alisa Istrinya.


Mereka semua mengikuti Bimo menuju mobil, dan Ren sebagai pengemudi.


Bimo duduk di kursi penumpang belakang dengan Glen dan Gio, sedangkan Alisa duduk di kursi penumpang samping Ren mengemudi.


"Aunty dengar dari Ceenah, kamu sudah menikah." Tanya Alisa melirik keponakanya. Ceenah adalah panggilan Alisa untuk Sena, keponakannya yang super cuek dan dingin.


"Sudah bibi, bahkan bibi akan mendapatkan dua keponakan lagi." Jawab Ren dengan tersenyum.


"Rendra, ganti panggilan mu itu dengan aunty, dan itu lebih membuatkan nyaman." Ucap Alisa sambil mendelik menatap keponakanya itu.

__ADS_1


Ren hanya tertawa. "Wajah bibi memang pantas di panggil bibi." Ren tertawa lagi.


Dua pria dibelakang hanya bisa geleng kepala, dua orang di depan memang seperti itu jika bertemu sejak dulu tidak pernah berubah.


"Glen apa kamu senang datang ke Indonesia." Bimo mengusap kepala Glen yang berada di sampingnya.


"Of course Uncle, because here is Mommy's hometown.." Glen tersenyum bahagia.


"Dia memang yang paling antusias datang kemari selain Mamanya." Jawab Gio menepuk pelan pundak putranya.


"Glen juga ingin sekolah di sini paman,"


"Ya, Glen pasti akan betah tinggal di sini."


Mereka saling mengobrol jika Bimo dengan Gio membahas bisnis, makan Ren dan Alisa hanya saling meledek dan mengolok satu sama lain, dan Glen memejamkan matanya lelah setelah menempuh perjalanan udara yang cukup lumayan lama.


Mobil yang Ren kemudi memasuki perkarangan rumah yang masih sama seperti dulu dimata Alisa, rumah yang banyak sekali kenangan didalamnya.


Alisa keluar lebih dulu dari mobil, dirinya berdiri mematung menatap bangunan dua tingkat yang masih sama sebelum dia meninggalkan kota ini.


"Ayo.." Bimo merangkul bahu Alisa agar segera masuk, karena mereka tahu jika Alisa pasti mengingat masa lalunya dirumah ini bersama sang kakak.


"Boy, ini rumah paman kalian akan menginap si sini dulu sebelum pindah ke rumah kalian." Ucap Bimo yang membuka pintu utama, dan didepan sana berdiri tiga orang yaitu Aaron dan Sena, ada juga Alexa uang ikut menyambut kedatangan bibi dari suaminya.


"Oh, mau gosh, Ceenah keponakan ku." Alisa membulatkan matanya, melihat Sena yang berdiri dengan wajah biasa saja tidak seantusias Ren yang menyambutnya.


"Selamat datang, bibi Alisa." Ucap Sena dengan senyum tipis, namun dibalas Alisa dengan wajah memberenggut, dan itu semakin membuat Sena senang.

__ADS_1


"Kalian benar-benar tidak bisa membuatku senang." Ucap Alisa kesal dan langsung memeluk Sena.


"Mommy tidak boleh marah-marah, nanti cepat tua." Celetuk Glen membuat mereka semua tertawa, tapi tidak dengan Alisa yang semakin berwajah kesal.


__ADS_2