
"Ck, kenapa nomornya tidak bisa di hubungi." Diki mondar mandir di depan kontrakan rumah Alena. menelpon Alena juga nomornya tidak aktif.
"Lena kamu kemana sih?" Diki mengusap rambutnya kasar, dirinya telat datang jika tadi ban mobil nya tidak bocor. Alhasil dirinya harus membawa kebengkel dan sekarang Alena sudah pergi sebelum dirinya datang.
Diki mulai mengingat jika dirinya akhir-akhir ini memang jarang bertemu Alena terakhir makan siang bersama tempo lalu, waktunya banyak bersama Mega ketimbang Alena dan Diki menyadari itu.
Dirinya belum bisa meninggalkan Mega, sebelum Alena mau menerima pernikahan mereka dan waktunya masih dua bulan lagi, jika Alena sudah menjadi miliknya dirinya akan pergi dari Mega. Meskipun tidak ada rasa untuk Mega dan hanya partner dia atas ranjang tapi Diki tidak tahu jika dirinya masuk kedalam permainan Mega yang ingin memilikinya.
Diki kembali memasuki mobilnya, bertanya ke mbak Mirna pun beliau juga tidak tahu Alena membawa Alisa kemana.
.
.
Alena sedang melihat Gina dan Alisa main gelembung balon, mereka saling berkejaran.
"Kamu disini." Seorang pria tiba-tiba duduk disampingnya.
"Eh..kenapa kesini?" Tanya Alena melihat ke arah Gina, jika Gina melihat bosnya disini bisa kepo tu anak.
"Nyamperin kamu lah, apa lagi." Bimo bicara santai dengan kedua tangan menyangga kebelakang, melihat Alisa yang sedang bermain dengan gadis yang dirinya tahu teman Alena di kantor.
Keduanya duduk di atas rumput, Alena menghela napas. "Kamu gak liat ada Gina disini."
"Memangnya kenapa? kamu takut?" Bimo tersenyum menatap wajah Alena.
"Ck. kamu gak ngerti tu anak kalo kepo bikin kuping aku panas." Alena mendengus kesal.
"Masa." Bimo mengacak rambut Alena.
Ehem..
"Berasa nyamuk gue." Yuda tiba-tiba datang membawakan minuman dan makanan yang pasti disuruh Bimo.
__ADS_1
"Eh..kamu juga disini." Alena menoleh ke sumber suara ternyata pria yang dulu menabraknya.
Yuda hanya cengengesan. "Hehe...terpaksa di ajak pak bos tadi." Yuda melirik Bimo.
Alena hanya mengangguk. " Kakak Bimo..!!!" Alisa berlari menghampiri Bimo ketika melihat pria itu tersenyum padanya.
"Hay...cantik." Bimo menangkap tubuh Alisa.
"Kakak juga disini?" Alisa berbinar ketika melihat Bimo ada disana.
"Ya, karena kamu disini juga." Bimo menarik hidung kecil Alisa membuat gadis kecil itu tertawa.
Ehem..
"Len kok ada pak bos disini?" Gina berbisik pada Alena, dirinya merasa malu sekaligus gugup untuk pertama kali melihat senyum bosnya yang begitu mempesona.
"Hm..seperti yang kamu lihat."
"Alis akrab bener sama si bos." Mulai deh Gina.
"Hehe...oke utang banyak penjelasan."
"Eh..kak kenalin nih sahabat aku." Alena bicara pada Yuda.
"Iss..kamu apaan sih Len." Gina mengikut pinggang Alena, sejak tadi dirinya juga mencuri lirik kepada Yuda.
"Kenalin gue Yuda." Ucap Yuda dengan senyum khasnya yang selalu Ia tampilkan pada wanita nya.
"Gi-gina." Gina gugup.
"Alis sudah makan?" Tanya Bimo yang asik sendri pada Alisa. Alena hanya tersenyum melihat keakraban mereka.
Alisa menggeleng. "Belum kak."
__ADS_1
"Mau makan bareng kak Bimo?"
"Mau.." Alisa menganggukkan kepalanya semangat.
"Alisa..?" Tegur Alena menatap Alisa menggeleng kepala.
"Kenapa? Sudah aku bilang kalian tanggung jawabku." Bimo menetap Alena dan kembali mengelus kepala Alena.
"OMg.." Gina menutup mulutnya dengan tanganya. Apa yang baru dirinya lihat membuatnya syok.
"Nanti Alis kebiasaan Bim-Bim, selalu nyariin kamu." Ucap Alena memperingati.
"Ngak masalah, justru itu yang aku mau." Bimo membantu Alisa berdiri diikuti dirinya.
"Ayo..?" Bimo mengulurkan tangan nya pada Alena.
Alena menyambutnya dan berdiri di samping pria itu.
"Kalian tidak mau ikut." Tanya Bimo pada dua manusia yang seperti obat nyamuk.
"Ck. gue kira loe lupakan keberadaan gue, gara-gara Neng Ale-ale." Ucap Yuda meledek.
"Ayo, kita berangkat." Yuda menarik tangan Gina tanpa sadar.
"Eh..."
Alena hanya menggeleng dan tersenyum melihat wajah malu-malu Gina.
Bimo merangkul bahu Alena, dan Alisa berada di gendongan nya.
Jika dilihat mereka sudah seperti keluarga saja.
"Aku merindukanmu." Bisik Bimo di telinga Alena.
__ADS_1
Bugh.
Alena memukul lengan Bimo, dengan wajah merona.