
Suasana lobby kantor pagi ini cukup ramai karena sedang menerima beberapa karyawan yang melamar menjadi cleaning servis.
Banyak diantara mereka yang menunggu arahan untuk melakukan interview, sekitar dua puluh orang duduk di kursi lobby yang sudah di sediakan. Pria dan wanita mereka semua menunggu dengan tertib.
Di depan Lobby berhenti sebuah mobil mewah berwarna putih. Dan keluar seorang pria dengan pakaian jas rapi.
Semua orang yang berada di lobby seketika menatap seseorang yang sedang berdiri membenarkan jasnya dan berjalan dengan langkah tegap masuk ke dalam lobby.
Aura wibawanya begitu ketara, wajah tampannya begitu mempesona tapi sayang wajah itu terlihat lebih dingin dari semenjak enam bulan lalu.
Tak
Sebuah pena jatuh kelantai ketika sang pemilik tak sengaja menjatuhkan nya.
"Aduh pakai jatuh segala." Wanita yang sedang berdiri itu membungkuk untuk mengambil pena yang Ia jatuhkan, tapi karena perutnya yang sedikit menonjol membuatnya kesusahan.
"Pena anda." Seseorang mengambilkan benda yang jatuh itu.
"T-tuan.." Wanita itu menunduk meraih pena yang ternyata di ambil oleh bos besar nya.
"Lain kali, hati-hati nyonya kasihan jika perut anda tertekan." Ucap nya lembut.
Wanita itu sampai terdiam kaku di tempatnya, karena tidak menyangka akan mendapat teguran seperti itu oleh bos nya yang berwajah dingin itu.
"Maaf.." Wanita itu berkata lirih.
Bimo menatap kebawah, tepatnya pada perut buncit wanita itu. "Boleh saya menyentuh perut anda nyonya." Ucapnya dengan wajah berharap.
Wanita itu tertegun, apakah bosnya sedang baik-baik saja.
"Bo-boleh tuan." Ucapnya dengan jantung berdebar, karena untuk pertama kali dirinya berinteraksi dengan bos muda yang tampan dan berwajah dingin itu.
__ADS_1
Bimo tersenyum bahkan semua mata yang melihat senyum langka bosnya itu sampai membelalakkan matanya.
Tangannya sedikit bergetar menyentuh perut buncit wanita itu dengan lembut. "Tumbuh jadi anak yang sehat ya, semoga bisa membahagiakan kedua orang tuamu." Ucapnya dengan bibir senyum namun matanya berkaca-kaca menahan kesedihan yang begitu dalam menyesakkan dadanya. Terasa perih seperti terhimpit oleh batu besar dan susah untuk bernapas.
"Maaf nyonya, dan terima kasih." Dirinya segera berlalu dari hadapan wanita itu, ketika kedua matanya terasa panas, jika saja dirinya berkedip pasti air matanya akan jatuh. Dan Bimo tidak akan melakukan hal itu di depan semua karyawannya yang menyaksikan interaksi nya dengan salah satu pegawainya yang tengah hamil. Karena mereka pasti akan menganggapnya lemah.
Daniel yang berdiri di belakang Bimo sejak tadi tersenyum kepada wanita itu dan bergegas mengejar bosnya yang sudah lebih dulu menaiki lift presedir.
"Ya ampun mbak itu tadi beneran bos Bimo." Ucap pegawai lainnya yang langsung mendekati wanita yang sentuh perutnya oleh Bimo.
Wanita itu hanya diam tak percaya ketika tangan dingin mengelus perutnya. "Tadi...dia."
"Duh..beruntung banget mbak nya, dapet rezeki nomplok perutnya di elus sama bos tampan." Ucap wanita lainya.
Mereka semua tak percaya ketika melihat interaksi bos dingin yang tak bisa di sentuh itu tersenyum hangat pada pegawainya yang sedang mengandung. Padahal yang bekerja di gedung Bagaskara Grub tidak ada yang tahu jika bos mereka sudah menikah.
'Tapi kenapa wajahnya sedih begitu ya, apalagi sorot matanya seperti memendam kesedihan' Gumam wanita itu.
.
.
.
Didalam kamar mandi berdiri di depan wastafel dengan kepala menunduk.
"Ale..." Air matanya jatuh seketika, ketika rasa sesak menjalar di dadanya, tubuhnya terasa lemas dengan dada yang begitu sesak.
"Kenapa kamu tega lakuin semua ini padaku Ale, kenapa..!" Bimo memukul dinding dengan kepalan tangannya.
Dada nya bergemuruh mengingat kejadian enam bulan lalu, ketika Alena meninggalkannya.
__ADS_1
Seharian mereka memang tak berkirim pesan karena Bimo yang sibuk dengan pekerjaannya.
Dirinya tidak curiga ketika sebulan sebelum pergi Alena selalu bertingkah manja kepadanya apalagi Alena semakin perhatian dan membuatnya tak bisa Sebentar saja meninggalkan nya.
Alena selalu membuat dirinya tak berkutik untuk berpaling, apalagi semenjak itu Alena selalu membuatnya candu akan permainan mereka di atas ranjang. Bahkan hampir setiap malam mereka akan melakukan kewajiban mereguk kenikmatan itu.
Bimo keluar dari bilik kamar mandi setelah dirinya merasa lebih baik, meski matanya masih menunjukan kesedihan disana.
"Tuan.." Daniel menyapa ketiak bosnya keluar dari kamar pribadinya, bisa dirinya lihat jika dari wajah nya Bimo tidak baik-baik saja.
"Ada apa Niel." Tanya nya dengan suara berat.
Duduk di kursi kebesarannya dirinya mulai di sibukkan dengan pekerjaannya.
"Ada pertemuan dengan klien dari Jepang, apa perlu saya undur jadwal jam nya?" Tanya Daniel.
Bimo menatap Daniel sekilas. "Tidak perlu, lebih cepat lebih baik." Ucapnya dengan datar.
"Baik tuan." Daniel pun keluar setelah memberi hormat.
"Halo.."
"...."
"Bagaimana, apa ada petunjuk."
"...."
Tut.
Dengan kesal dirinya langsung memutus sambungan telepon.
__ADS_1
"Kamu di mana sayang." Bimo meraih bingkai foto pernikahannya dengan Ia selipkan benda pipih kecil di bingkai itu. "Kamu tega memisahkan aku dengan a anak kita Ale." Wajahnya kembali sendu menatap benda kecil bergaris dua itu.
Alena yang lupa membuang tespec, ditemukan Bimo di dalam kamar mandi, dan dirinya tidak menyangka jika istrinya pergi dalam keadaan hamil dan dirinya tidak tahu.