
Bimo yang melihat Yuda terus berjalan pun mau tidak mau mengikuti sahabat nya itu untuk ikut masuk ke dalam.
Jantungnya sejak tadi berdebar kencang ketika sampai di depan pintu masuk kedai itu.
Matanya memindai kesegela arah untuk mencari pujaan hatinya.
"Maaf tuan mau pesan apa?" Tanya Lisa yang kebetulan melihat pria tampan kedua masuk kedalam kedai tempatnya bekerja, dan sekarang pria di depannya ini lebih tampan dari yang pertama masuk.
"Em..saya.." Bimo yang bingung pun hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, mendadak dirinya menjadi bodoh.
"Dia teman saya mbak, biarkan saja mungkin baru bangun tidur jadi belum kumpul nyawanya." Ucap Yuda tiba-tiba dari arah pojok sedang duduk dengan asap kopi yang mengepul.
Bimo mendelik menatap Yuda kesal.
Lisa hanya tersenyum malu, karena dirinya bisa berinteraksi dengan dua pria tampan sekaligus. Padahal di belakangnya banyak temanya yang sejak tadi melihat interaksi nya dengan cogan itu.
"Em..silahkan duduk tuan." Lisa mengantarkan Bimo ke meja di mana Yuda sedang duduk.
"Maaf tuan karena masih pagi, jadi menu makanan kami belum lengkap hanya ada dua macam masakan saja yang sudah tersaji, dan hari ini ada menu spesial dari mbak kami khusus hari ini." Ucap Lisa sengaja di panjang lebarkan, agar semakin lama menatap wajah tampan kedua pria yang sedang duduk di depannya itu.
"Baiklah, sajikan saja semua apa yang ada." Ucap Yuda.
"Baik tuan, anda mau pesan minuman apa?" Tanya Lisa kepada Bimo yang hanya diam dengan mengedarkan pandangannya.
"Air putih saja." Ucap Bimo dingin.
"Em..b-baiklah." Lisa menjadi gugup ketika pertama kali mendengar suara dingin Bimo yang terkesan cool.
"Muka lu biasa aja, nanti juga ketemu..mungkin bini lu belum berangkat." Ucap Yuda yang tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu.
"Ini udah jam sembilan, dan mereka semua sudah bekerja, tapi Alena sepertinya tidak ada." Matanya terus berkeliling tak bisa diam.
"Ck. tunggu aja, gue temenin lu sampe ketemu bini lu, tenang aja."
Bimo tak mengidahkan ucapan Yuda.
'Kenapa tidak ada, apa terjadi sesuatu sama kamu'.
...****************...
Alena baru saja selesai membersihkan diri di jam sembilan pagi, tubuhnya lebih fres setelah tadi malam susah untuk tidur.
"Huh, baik-baik ya kalian sayang, kita berjuang sama-sama mama akan selalu semangat demi kalian berdua." Alena mengelus perut nya ketika akan keluar rumah.
__ADS_1
Mengunci pintu dari luar Alena mengunakan pakaian tunik berwarna putih di padukan bawahan dengan warna hitam, jilbab nya pun senada dengan atasannya.
Berjalan dengan langkah hati-hati dirinya selalu menyapa ramah kepada orang yang dilewatinya, meskipun banyak dari mereka para tetangga yang menggunjingnya di belakang tapi Alena selalu berlapang dada tidak pernah mengambil hati atas ucapan mereka tentangnya.
Asalkan mereka tidak mengusik kehidupan nya maka dirinya tidak perlu untuk meladeni ucapan para mulut netizen julid.
.
.
"Masakan ini?" Bimo menatap menu masakan di depannya.
"Kenapa kamu tidak suka?" Tanya Yuda heran.
"Bukan tapi_"
"Menu ini khusus hari ini tuan, dan tidak pernah ada sebelumnya disini, menu ini juga hanya sedikit mungkin hanya lima porsi jadi anda beruntung bisa mencicipinya lebih dulu." Ucap Lisa yang langsung memotong ucapan Bimo, karena melihat menu masakan hari ini.
Yuda mengerutkan keningnya. "Jadi maksud kamu kita pelanggan beruntung pagi ini." Tanya Yuda.
"Betul tuan." Lisa tersenyum manis.
"Keluarkan semua menu rendang ini." Ucap Bimo sepontan membuat Yuda dan Lisa membelalakkan matanya.
"Lu gila, siapa yang mau ngabisin."
"Saya bilang keluarkan menu rendang ini sekarang juga, berapa pun akan saya bayar." Ucap Bimo menatap tajam Lisa, yang masih berdiam diri.
"B-baik tuan." Lisa yang ciut karena mendapat tatapan tajam pria tampan itupun segera pergi.
Dari aromanya dirinya tahu jika itu hasil masakan Alena, meskipun hanya beberapa bulan bersama Alena tapi dirinya sudah hafal dengan masakan favorit nya yang dibuat oleh Alena.
"Yud, ini masakan Alena." Ucapnya dengan mata berbinar dan senyum mengembang.
"Lu waras kan, dari mana lu tau kalau ini masakan Alena?" Tanya Yuda yang heran, karena Bimo belum mencicipi masakan itu.
"Gue suaminya Yud, gue tau aroma masakan istri gue selain rendang gue suka makan nasi goreng buatannya." Ucapnya menatap Yuda dengan mata berkaca-kaca.
"Iya juga sih, masakan Alena emang enak." Ucap Yuda yang juga pernah merasakan masakan Alena ketika di rumah mereka. 'Dari pada masakan si Gina, hanya rasa asin doang' Ucapnya dalam hati karena pernah di buatkan masakan oleh Gina dan rasanya sangat asin. Padahal Gina sudah bilang jika dirinya tidak bisa memasak tapi dirinya tetap memaksa.
Tak lama seorang wanita dengan pakaian muslim memasuki kedai dengan wajah ceria dan tersenyum.
"Selamat siang.." Alena menyapa beberapa pegawai yang sedang melayani pelanggan yang mulai ramai karena sudah hampir siang, dirinya yang lebih dulu mampir ke supermarket terdekat untuk membeli kebutuhan harian miliknya.
__ADS_1
"Siang mbak.." Jawab para sahabatnya yang sedang bekerja.
Alena belum menyadari jika dua orang pria yang sejak tadi menatapnya dari jarak lima meter tak mengalihkan pandangannya.
Bimo tak berkedip ketika melihat istrinya memasuki kedai saat mendengar suara Alena yang menyapa pegawai lain dan Bimo merindukan suara itu.
"Ale..." Matanya tak lepas menatap wanita yang berdiri dengan senyum mengembang dan perut nya yang buncit membuat hati Bimo terasa sesak.
Dadanya meletup-letup karena bahagia. Istrinya terlihat begitu cantik dengan penampilannya apalagi melihat perutnya yang ternyata benar Alena sedang hamil.
Bruk
"Ah..maaf mbak saya buru-buru." Ucap seseorang yang menabrak lengan Alena tidak keras namun menjatuhkan kantong keresek belanjaan Alena.
"Tidak apa Mas.." Alena ingin mengambil barangnya, tapi karena perutnya yang buncit dirinya sedikit kesusahan.
Dan orang itu tak membantunya sama sekali.
Tak di sangka seseorang telah membantunya mengambil kantong yang jatuh.
"Ah terima kasih_" Alena menerima kantong itu tapi dirinya masih menunduk belum melihat siapa yang berdiri menjulang tinggi di depannya.
"Tu_an.." Lanjutnya ketika mendongak tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat, matanya membulat sempurna dan kantong yang sudah Ia pegang kembali jatuh dengan keras membuat isinya berantakan keluar.
kedua tangannya menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
Tanpa berucap matanya sudah berkaca-kaca dengan air mata yang sudah jatuh di pipinya.
"Hay sayang, apa kabar." Suara Bimo terdengar parau dan serak.
Dirinya merasakan sesak hingga tak sanggup untuk berkata.
Keduanya hanya saling diam dan saling tatap tanpa mengeluarkan suara selain ucapan Bimo tadi, hingga beberapa menit Bimo lebih dulu menarik Alena ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu." Suaranya bergetar dengan dada yang terasa membuncah bahagia, mata yang sejak tadi dia tahan agar tidak menangis kini berhasil tumpah juga.
"Mas.." Alena menangis terisak dalam dekapan Bimo.
"Ya sayang, aku disini." Bimo beberapa kali mencium kepala Alena dengan senyum dihiasi air mata yang mengalir. Untuk kali ini Bimo Bagaskara menangis di tempat umum dan menjadi tontonan banyak orang.
Kerinduan yang hampir delapan bulan kini terobati bisa kembali melihat dan memeluk wanita yang begitu cintai, dirinya tidak akan bisa baik-baik saja jika Alena pergi darinya, meskipun orang yang melihatnya terlihat baik-baik saja.
Keduanya berpelukan dengan erat, menyalurkan kerinduan yang sama besarnya, rindu yang telah lama tidak saling bertemu.
__ADS_1
Cinta yang berhasil membawa mereka bertemu kembali, dan perasaan tulus yang mereka miliki mampu menjaga keduanya dari godaan di luar sana.
Cinta tulus membuat keduanya memiliki ikatan yang kuat, dan tidak mudah untuk goyah meskipun banyak rintangan yang akan mereka lalui, mereka kuat karena rasa cinta yang mereka miliki begitu besar.