Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Siang hari...


Sena sengaja datang sendiri ke mansion utama, hati ini dirinya tidak ikut Ar ke kantor karena masih kesal, entah mengapa rasa kesal nya tadi malam hingga sekarang masih bersarang di dirinya, padahal Sena bukan tipe pemarah yang lama.


"Mamah..." Sena berseru ketika melihat Arin sedang berada di dapur membuat kue.


"Sayang.." Arin menyambut menantunya dengan gembira, Tangannya terlentang untuk menerima pelukan.


"Kenapa baru datang, Mama semalaman menunggumu." Tanya Arin setelah melepas pelukannya.


"Em..tidak apa mah, aku dan Ar ada urusan mendadak." Ucap Sena memberi alasan, tidak mungkinkan dia bilang sedang indehoi di dalam hotel.


"Aku kira Ar mengurung mu di kamar." Ucap Arin mendengus kasar.


Sena tersenyum kikuk, ternayata Mama mertuanya itu memiliki felling yang kuat.


Mama sedang apa?" Sena berdiri di samping mama mertuanya, mencium aroma wangi cake yang sedang Arin buat membuatnya merasa lapar.


"Cake sayang, kesukaan papa dan Kakek." Ucap Arin dengan menurunkan cake dari dalam microwave dan memindahkan nya ke atas piring.


Bibir Sena sudah bergerak-gerak karena menginginkan cake itu.


Arin yang menyadari tatapan mata Sena pada cake nya membuatnya tersenyum. "Kamu mau?" Ucap Arin, dirinya tahu jika Sena tidak suka cake.


Dengan cepat Sena menganggukkan kepalanya sangat. "Mau Mah."


Arin menaikkan satu alisnya. "Beneran mau?"

__ADS_1


Sena mengangguk lagi.


Arin memotong kan cake dan Ia berikan pada Sena, dan Sena menerimanya dengan senang. "Makasih mah." Mencium pipi Arin, Sena langsung duduk di kursi makan dan menyantap cake yang masih hangat itu.


Arin hanya diam memperhatikan, selama menjadi menantu Sena sama sekali tidak mau makan cake, katanya tidak terlalu menyukainya.


Dan sekarang Sena memakan nya dengan lahap, bahkan habis tak tersisa.


"Mah, boleh Sena minta lagi." Ucap Sena dengan menampilkan wajah memelasnya.


"Lagi..?"


Sena hanya mengangguk.


Arin tersenyum, "Tentu saja sayang, nanti Mama buat lagi, kalau kamu suka." Arin memberikan beberapa potongan lagi, dan Sena kembali melahap cake itu.


.


.


.


Di kantor, Aaron beberapa kali mengecek ponselnya, sejak tadi Sena tidak membalas pesannya dan hanya membacanya saja.


"Nik, apa siang ini ada pertemuan dengan klien." Aaron menghubungi Niko dengan pesawat telepon.


"Tidak ada tuan, hanya ada pertemuan dengan salah satu investor.."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu yang handle, saya ada urusan."


Aaron langsung mematikan sambungan telepon dan menyambar jas nya yang Ia taruh di sandaran kursi, bergegas keluar dari ruangannya.


Ting


Ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Langkahnya terhenti di depan pintu lift, dia pikir Sena yang mengirim pesan, tapi ternayata sang mama.


" Ar..jika pulang belikan Mama tespeck, Mama tunggu di rumah."


Aaron yang membaca pesan mengernyitkan keningnya.


"Tespeck, Mama hamil lagi." Gumam Aaron, masuk ke dalam lift setelah pintu lift terbuka.


Aaron memarkirkan mobilnya di depan mansion setelah beberapa menit berkendara.


"Ar.." Arin menyambut sang putra di depan pintu dengan wajah sumringah.


"Kamu membeli pesanan Mama?"


Aaron menunjukan kantong plastik yang dia bawa. "Mama hamil lagi, Bukannya Mama tidak bisa hamil lagi? dan sekarang Ar akan punya adik." Aaron memperagakan tangannya. "Kecil, bahkan lebih pantas Ar yang memiliki anak." Aaron mendengus kesal, dirinya sekarang sudah dewasa dan memiliki istri, yang lebih pantas dialah yang memiliki bayi, dan bukan Mama nya.


Plak


"Memangnya kenapa kalau mama punya bayi, bukankah dulu kamu menginginkannya seorang adik." Arin melirik Aaron dengan menaikkan satu alisnya.


"Itu dulu mah, dua puluh tahun lalu. Dan sekarang.." Aaron tidak melanjutkan ucapanya, malah meloyor pergi.

__ADS_1


"Ar, kamu harus terima dong kalo Mama hamil lagi..!!" Arin berteriak menatap punggung putranya yang menaiki tangga menuju ke kamarnya, dimana sang istri pasti sedang berada di sana.


__ADS_2