Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Toko roti


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu, seperti hari sebelumnya, Ren tidak pernah pulang tepat waktu dan dia selalu sibuk dengan pekerjaannya yang memang menguras waktu dan Otaknya. Ren harus mencari investor baru dan menyakinkan untuk bekerja sama, dan usaha memang tidak menghianati hasil. Setelah tiga hari kesana kemari untuk menghubungi ataupun mencari klien yang mau membantunya untuk menginvestasikan dana dan kini Ren sudah mendapatkan rekan yang akan membantunya.


Sebenarnya bukan masalah yang sudah bagi seorang Birendra untuk mencari gelontoran dana. Tapi karena proyek ini adalah proyeknya sendiri tanpa ikut embel-embel dari Bagaskara Grub dan LWS maka Ren akan berusaha sendiri untuk kembali membangun proyek resort besar yang dia kelola.


Bagi Ren waktu siang dan malam Ia habiskan untuk bekerja menyelesaikan supaya tepat waktu dan dia segera kembali ke Jakarta untuk bertemu sang Istri.


Pagi hari Ren akan bangun pagi, meskipun hanya tidur tiga jam tapi tak menyurutkan semangatnya untuk meneyelsaikan masalah yang dia hadapi sekarang. Biarlah untuk satu Minggu ini dia mengabaikan sang istri, hanya demi pekerjaan agar cepat selesai, dan sudah pasti rindu yang dia rasakan semakin besar.


"Pak, saya rasa kita butuh tenaga lagi agar semua selesai tepat waktu." Ucap mandor yang Ren percaya mengelola untuk mengelola bahan bangunan dan mengawasi para pekerja.


Yudi yang awalnya hanya anak buah lapangan biasa, kini di angkat menjadi mandor pengelola pembangunan yang bertugas untuk mencari bahan bangunan dan mengawasi para pekerja. Yudi merasa bersyukur, dan dia akan bekerja dengan baik. Tidak ingin membuat orang rugi, dan merugikan dirinya sendiri. Dan kebetulan Yudi paham dan pintar dalam menggunakan takaran bahan bangunan yang pas. Dan Ren menyukai kerja Yudi selama tiga hari ini.


"Tidak masalah, yang penting semua berjalan lancar, dan tidak ada lagi kendala yang berarti dalam penyelesaian proyek ini." Jawab Ren menatap bangunan yang roboh sudah kembali rata dengan bantuan alat berat, dan mereka harus kembali membangun lagi dari awal.


"Baik saya akan mencari pekerja yang bisa diandalkan." Ucap Yudit dengan pasti.


Tidak rugi sejak dulu dirinya ikut pemborong dan banyak tahu tentang pembangunan, dan pengalaman Yudi Ia tuangkan di proyek besar ini.


Ren menepuk pundak Yudi dengan terseyum. "Sepertinya saya akan pulang ke Jakarta lebih cepat, karena kamu." Ucap Ren dengan senang.


Yudi hanya tersenyum. " Ya, insyaallah semua berjalan lancar, dan bapak bisa cepat berkumpul dengan keluarga."


.


.


Alexa menjalani hari seperti biasa, Gesya sudah tidak lagi menemaninya setelah art dari rumah papa Bimo datang untuk menemaninya.

__ADS_1


Meskipun ada rasa sesak tapi Alexa masih bersyukur suaminya masih perhatian dengan mengirimkan art keaparteman mereka.


"Bumil jangan murung terus dong, kasihan Beby yang disini." Mita mengelus perut Alexa. Semenjak Ren pergi, Alexa tidak lagi pernah tersenyum dan sekarang Alexa juga irit bicara.


"Iya loh, kata orang kalau ibunya cemberut terus nanti anaknya berwajah judes." Ucap Gesya, tatapan Gesya begitu menyakinkan membuat Alexa cemberut.


"Mitos Sya, mana ada kaya gitu." Ucap Alexa mencebik.


"Gak percaya, coba aja kamu jarang senyum, dan muka kamu jutek terus. Pasti bakalan nurun ke wajah anak kamu."


Mita hanya menahan tawa, wajah Gesya yang menyajikan, dan Alexa yang masa bodo.


"Iya kan mbak, Mita." Gesya melirik Mita, "Tuh kan ngangguk." Ucapan Gesya sontak membuat Mita mendelik dan menggaguk ketika Alexa menatapnya.


"Gak bakalan, pasti putri-putriku cantik sepertiku." Gumam Alexa sambil mengelus perutnya.


.


.


Alexa pulang dari kantor pukul empat sore, sejak suaminya pergi Juno yang menjadi supir pribadi Alexa berangkat dan pulang kantor. Karena Ren menugaskan Juni untuk menjaga istrinya selama dia tidak ada.


"Kak mampir ke toko kue itu dulu ya." Ucap Alexa ketika mobil yang Juno kendarai akan melewati toko kue yang biasa dirinya singgah bersama Ren.


"Oke."


Juno membelokkan mobilnya ke toko kue yang lumayan ramai dan berhenti setelah sampai di parkiran.

__ADS_1


Alexa turun setelah menyuruh Juno untuk menunggu.


Karena takut terjadi sesuatu Juno pun turun setelah melihat Alexa masuk ke toko kue.


Alexa mengambil nampan untuk menagmbil kue yang dia ingin beli, kerena melihat jejeran kue di rak yang membuatnya bingung, Alexa tidak sadar jika didepanya ada seseorang yang sengaja memasang kakinya agar menghalangi jalan Alexa.


"Aaaaaa." Alexa berteriak ketika kakinya tersandung dan tumbuhnya seperti melayang ingin jatuh.


"Lexa..!!" Juno pun langsung berlari dan sigap menangkap tubuh Alexa agar tidak terjatuh.


"Kamu tidak apa-apa." Juno merangkul bahu Alexa, dengan kakinya yang menekuk untuk menahan, beruntung dirinya mengikuti Alexa ke dalam.


"Tidak apa-apa kak." Setelah mengatakan itu Alexa di bantu berdiri oleh Juno. Beberapa pembeli menoleh ke arah mereka. Sedangkan orang yang berbuat salah hanya menatap sinis Alexa.


"Apa anda tidak punya mata, jika berdiri." Juno menatap tajam Maura yang hanya tersenyum remeh.


Alexa pun menatap Maura tidak percaya, ternayata kakak tirinya yang berulah.


"Cih, kamu saja yang lebay, ngapain nolongin wanita seperti dia." Maura menatap tajam Alexa penuh kebencian.


"Jaga bicara anda nona, sebelum anda menyesal berhadapan dengan siapa?" Juno menatap Maura penuh peringatan, wanita itu benar-benar tidak takut.


"Cih, kamu hanya jon*gos, yang tidak berguna." Setelah mengatakan itu Maura pergi dengan kekesalannya.


Alexa menatap punggung Maura dengan sendu, kenapa kakaknya itu tidak bisa bersikap baik padanya.


Alexa tersenyum ketika Juno, kembali bertanya. "Terima kasih kak. Dia sebenarnya kakak tiri ku, dari dulu memang tidak menyukaiku."

__ADS_1


Jono hanya mengangguk, dan membantu membawa apa yang Alexa beli, pria itu seperti pengawal untuk Alexa.


__ADS_2