Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Ungkapan Birendra


__ADS_3

Ren menghentikan mobilnya di depan gerbang sebatas dada orang dewasa, bisa dirinya lihat jika di depan sana nampak rumah dengan bentuk memanjang yang terdiri dua tingkat.


Ren hanya menatap bangunan itu dalam diam, dirinya tidak tahu kenapa bisa sampai di depan tempat tinggal kos Alexa. Bukan perkara sulit bagi Ren untuk mengetahui dimana Alexa tinggal.


Dan dirinya mendapatkan alamat Alexa dari orang yang dia suruh.


"Kenapa otak gue menuju kesini." Ucapnya pada dirinya sendiri.


Perasaan aneh yang membuat Ren sendiri bingung.


.


.


Pagi ini Birendra sengaja datang ke kantor miliknya, dengan gaya cool dan wibawanya Birendra hanya mengangguk jika ada karyawan yang menyapanya.


Ting


Pintu lift terbuka Ren memasuki ruangannya di lantai sepuluh.


"Gel, berikan saya laporan keuangan bulan ini dari divisi keuangan, dan minta anak yang baru gabung untuk mengantarnya." Ucap Ren pada Angel sekertaris nya. Tanpa mendengar jawaban Angel, Ren segera masuk ke dalam ruangannya.


"Laporan keuangan?" Beo Angel yang tidak mengerti, karena seminggu kemarin bosnya itu sudah menerima laporan keuangan bulanan. "Aneh." Gumam Angel, tapi dirinya tetap melakukan apa yang di suruh atasannya.


Di lantai tujuh Diaz yang menerima panggilan dari Angel merasa heran, karena baru kemarin dirinya mengirim laporan keuangan, dan sekarang ingin melihat lagi dan harus Alexa yang mengantar.


Diaz pun mengambil dokumen laporan itu, dan akan memberikannya kepada Alexa.


"Exa, tolong antar berkas ini pada CEO kita di lantai sepuluh." Ucap Diaz ketika sudah sampai di depan meja Alexa.


"Saya pak?" Alexa menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, dan kamu yang harus mengantarnya."


Alexa menerima map yang Diaz kasih. "Tapi kenapa saya pak?" Tanyanya lagi yang sangat enggan untuk bertemu dengan pria menyebalkan itu.


Diaz hanya mengangkat kedua bahunya.


Alexa hanya menghela napas. "Kenapa tidak Nino saja pak." Alexa menatap Nino yang masih sibuk dengan layar komputernya.


"Eh..kenapa bawa-bawa nama aku sih." Jawab Nino mendelik ke arah Alexa.


"Tidak apa, hanya mengantar. Apa perlu aku temani?" Ledek Diaz dengan tersenyum, membuat Alexa hanya memutar kedua bola matanya malas.


Alexa dengan kesal memasuki lift ketika pintu terbuka, dan dirinya menekan angka sepuluh dimana ruangan Birendra berada.


"Ck, males banget ketemu pria itu." Gumamnya dengan menunggu angka yang akan membawanya ke lantai sepuluh.


Jika saja dulu Ren tidak menyebabkan dirinya di pecat hingga tiga kali, mungkin Alexa tidak akan membenci pria seperti Ren, pria tampan dengan sejuta pesona membuat wanita siapa saja pasti akan bertekuk lutut.


Tapi sayangnya Alexa tidak menyukai sifat Ren yang arogan dan menang sendiri. Pria itu tidak ada belas kasihan untuk orang yang melakukan kesalahan karena tidak sengaja.


Alexa masih ingat ketika terakhir kali dirinya dipecat dari restoran tempatnya bekerja, bagaimana pria itu membela kekasihnya yang jelas-jelas bersalah karena menabrak dirinya, tapi malah dirinya yang kena imbasnya dan berakhir dengan dipecat juga bahkan di depan pria itu.


Beruntung dirinya bertemu dengan wanita baik yang mau membantunya untuk bekerja di kantor, jika bukan karena wanita itu Alexa pasti belum bisa kembali bekerja di kantor.


"Apes, dapet pekerjaan bagus tapi harus kembali bertemu dengan pria itu." Bukanya tidak bersyukur, tapi ternyata pekerjaannya satu gedung dengan Birendra apalagi pria itu adalah atasannya sendiri.


Ting


Pintu lift terbuka, Alexa keluar dan menghampiri meja sekertaris Angel.


"Mbak ini dokumen yang pak Birendra butuhkan." Ucap Alexa kepada Angel.


"Kamu kasih ke bos langsung ya." Angel kembali menerima telepon.


Alexa menghela napas kasar, mau tidak mau dirinya tetap akan bertemu pria itu.

__ADS_1


Tok...Tok..Tok..


"Masuk." Suara bariton dari dalam terdengar, membuat Alexa menarik napas dalam.


"Pagi pak." Sapa Alexa dengan wajah sebiasa mungkin. Karena ketika melihat wajah Birendra Alexa langsung merasakan kesal, apalagi beberapa kali ciuman yang mereka lakukan langsung menari-nari di otaknya dan membuatnya marah dan dongkol.


Birendra yang sedang sibuk dengan dokumen, mendongak. "Berikan laporan yang kamu bawa." Ucapnya datar dengan mata kembali pada pekerjaannya.


Entah mengapa dada Ren rasanya bergemuruh di tatap Alexa, meskipun hal itu biasa.


"Ini pak." Alexa menyodorkan map yang dia bawa kepada Ren yang duduk di kursi kebesarannya.


Ren tidak mendengar, melainkan otaknya sedang membayangkan adegan ciuman itu kembali, rasanya Ia ingin mengulanginya lagi.


Alexa yang melihat bos nya itu diam saja heran. "Pak, ini dokumen yang anda minta.!!" Ucapnya dengan sedikit keras, membuat Ren langsung menatap Alexa.


"Kamu tidak bisa sopan sedikit." Ucap Ren dengan ketus, sebisa mungkin Ren menyembunyikan keterkejutannya. Dirinya tidak ingin malu didepan Alexa.


"Maaf." Ucap Alexa mengalah dan menunduk.


Ren yang melihat Alexa menunduk, menghembuskan napasnya kasar. "Tidak perlu minta maaf, kemarikan." Tangannya terulur untuk mengambil map yang Alexa sodorkan.


"Saya permisi." Pamit Alexa setelah memberikan map itu, dan berjalan menuju pintu.


"Ada hubungan apa kamu dengan Diaz?" Tanya Ren dengan menatap Alexa dari kursinya, tubuhnya ia sandarkan di kepala kursi dengan tangan mengelus dagunya.


Alexa kembali menoleh ke belakang dengan kening berkerut, untuk apa pria itu menanyakan hal yang tidak penting.


"Maaf pak, saya rasa itu bukan masalah pekerjaan." Jawabnya dengan wajah heran.


"Tapi saya berhak tahu karena kamu karyawan saya." Ucap Ren yang kembali menegakkan tubuhnya. "Dan asal kamu tahu ada peraturan dikantor ini yang pasti belum kamu tahu." Ren berdiri dan berjalan mendekati Alexa yang diam.


"Oh, terima kasih sudah perhatian dengan saya pak, tapi maaf sekali lagi hal pribadi tidak ada urusannya dengan bapak." Alexa ingin keluar, tangannya sudah menarik tuas pintu tapi Ren menarik tangannya membuatnya menabrak tubuh Ren.


"Kenapa kamu tidak bisa bicara baik-baik dengan saya, kenapa kamu bisa tertawa dengan pria lain tapi tidak dengan saya." Ren menatap lekat wajah Alexa yang berada di dekapannya. Ren merangkul pinggang Alexa dan mengunci tubuh Alexa dalam dekapannya.


"Bahkan bibir mu ini mampu berkata kasar padaku, lalu kenapa dengan mereka bibirmu ini selalu tersenyum, apakah mereka membayarmu agar kamu bisa tersenyum " Bibir Ren menyeringai melihat tatapan Alexa yang berubah tajam dan memerah. "Mereka membayarmu berapa hm." Jari Ren mengelus bibir bawah Alexa, rasanya Ren ingin melahap bibir itu kembali.


"Brengse_ Emph.." Ucapan kasar Alexa tenggelam dalam rongga, ketika Ren membungkamnya dengan sebuah lumattan di bibirnya.


Tidak peduli dengan perlawanan Alexa, Ren semakin intens mencumbu bibir Alexa, tangannya pun meremas pinggang Alexa.


"Engh.." Alexa meleguh ketika lidah Ren berhasil mengeksplor rongga mulutnya, Alexa yang sejak tadi sekuat tenaga untuk tidak membalas ciuman itu kini dirinya sedikit membalas lilitan lidah Ren dalam rongga mulutnya, membuat Ren menyeringai dalam hati.


"Rasanya aku selalu ingin menikmati bibir ini selalu." Ren semakin dalan ******* dan menyesap lidah Alexa dengan penuh napsu. Pusat tubuhnya sudah mulai aktif sejak pertama kali menyentuh bibir Alexa.


Dengan sengaja Ren mengangkat sedikit tubuh Alexa agar kakinya bisa berpijak di atas sepatunya ketika Alexa sudah mulai terbuai dengan cumbuannya, tanpa melepaskan rangkulannya di pinggang Alexa. Ren menuntun tubuh Alexa ke sofa ruang kerjanya, dengan ciuman yang masih berlangsung.


Decapan keduanya begitu terdengar seksi ditelinga, Alexa yang memejamkan mata menikmati sentuhan bibir yang Ren berikan, entah mengapa dia terlalu lemah untuk hal satu ini padahal akal sehatnya ingin memberontak tapi hatinya berkata lain.


"Ah.." Alexa kembali bersuara ketika bibir Ren berhasil menyusuri leher jenjangnya dan memberikan gigitan-gigitan kecil di lehernya.


Brak


"Sayang Kau_"


Kedua mata Jihan membulat sempurna melihat kekasihnya bercumbu dengan seorang wanita, dengan posisi Ren yang berada di atas mengungkung tubuh Alexa.


Alexa yang mendengar suara seseorang membuka matanya, dan langsung mendorong dada Ren ketika melihat kekasih Ren menatap dirinya tajam penuh amarah.


Ren yang masih fokus menikamati kegiatanya tidak peduli dengan Alexa yang mendorong dadanya, karena tubuh Ren sudah terbakar oleh gairah.


"Ren..!!" Teriak Jihan baru membuat Ren mundurkan wajahnya dari leher Alexa.


"Lepas..!!" Alexa mendorong Ren sekuat tenaga membuat Ren langsung menyingkir dan duduk disisi tubuh Alexa.


"Dasar wanita murahan." Jihan dengan mata berapi-api, menghampiri Alexa yang berdiri merapikan penampilannya.

__ADS_1


Plak..plak..plak..


Tiga tamparan mendarat bergantian di wajah Alexa yang kondisinya belum siap tapi sudah mendapatkan serangan dari Jihan.


"Jihan apa-apaan kamu." Ren langsung menarik tangan Jihan kuat membuat Jihan tersentak kebelakang.


"Kamu tidak apa-apa." Ren menangkup kedua pipi Alexa yang terlihat bekas tangan Jihan.


Alexa menghempaskan tangan Ren di wajahnya, dan menatap tajam kedua orang itu.


"Kamu masih berani menatap tajam saya hah, dasar wanita ja*l*n*" Jihan yang emosi dengan cepat ingin kembali menampar Alexa.


Plak


Bukanya Alexa yang terkena tapi pipi Ren yang sengaja pria itu pasang untuk melindungi Alexa.


"Ren, sayang..kamu_" Jihan nampak tak percaya, tangannya yang masih teragkat bergetar dengan wajah takut. "Sayang, aku tidak_"


"Keluar..!!" Ren berteriak dengan menatap tajam Jihan. Amarahnya semakin besar ketika melihat wajah Jihan.


"Ren, sayang kenapa kamu mengusirku, seharusnya wanita murahan itu kamu usir, yang sudah berani menggoda mu." Jihan menunjuk Alexa yang diam dengan wajah masih terkejut, karena melihat Ren memasang wajahnya sendiri untuk menerima tamparan kekasihnya.


"Dasar wanita murahan, kamu sengaja menggoda kekasihku agar kamu mendapatkan uang nya iya kan, wanita seperti kamu memang harus diberi pelajaran." Jihan ingin kembali menyerang Alexa namun, tangannya di cengkram lebih dulu oleh Ren dengan kuat.


"Jangan menyentuh dia, jika kamu melakukan itu maka jangan harap kamu masih berani memperlihatkan wajahmu yang busuk itu di kota ini." Ren menatap Jihan tajam dengan kilatan marah bercampur kekecewaan.


"Sa_sayang apa masud kamu." Jihan gugup dan takut melihat wajah Ren yang menahan amarah.


"Pergilah, dan jangan pernah tunjukan wajah kasihan kamu itu di hadapan ku lagi, karena aku muak dengan wanita pembohong dan menjijikan seperti kamu." Ren menghempaskan tangan Jihan kasar.


"Ren, kamu kenapa seperti ini. Aku tidak tahu salah aku apa Ren, tapi tolong jangan pergi dariku." Jihan menangis dengan wajah mengiba.


"Ikut aku." Ren menarik tangan Alexa untuk membawanya pergi dari sana.


"Ren, jangan seperti ini." Jihan mencegah Ren yang akan pergi, dan berdiri didepan tubuh Ren.


"Ren jangan tinggalkan aku, apapun akan aku berikan asal kamu tidak pergi dariku." Jihan masih memohon dengan wajah yang sudah basah oleh air mata. "Bukannya kita ingin menikah dan membina rumah tangga, tapi kenapa kamu malah membuangku seperti ini." Ucap Jihan dengan Isak tangisnya, Alexa hanya diam dan menatap kedua orang yang sedang bertengkar.


"Apa yang kamu banggakan dalam diri kamu untuk ku hah." Ren menatap Jihan dengan intens, tatapan matanya seperti pria mesum yang ingin memakannya habis-habis.


"Apapun asalkan kamu tidak pergi dariku." Dengan keberaniannya Jihan menyentuh lengan Ren.


"Apapun sayang, bahkan tubuhku ini." Ucap Jihan degan suara sensual dan seksih, karena Jihan sudah mahir dengan cara menggoda seorang pria.


Alexa perlahan melepas tangannya dari genggaman tangan Ren, tapi Ren semakin mengeratkan genggamannya. "Cih, masih bisa kamu banggakan tubuhmu yang bekas orang itu padaku." Ren menatap sinis Jihan. "Lihat," Jarinya menyentuh bagian leher Jihan yang terdapat bercak merah keunguan. "Kamu belum pandai menutupi nya, apalagi kamu ingin membodohi ku." Ren tertawa remeh, sedangkan Jihan menyentuh lehernya dengan perasaan takut bercampur kemarahan.


"Julian sialan." Umpat Jihan dalam hati, ketika mengingat Julian mengecup lehernya tadi pagi sebelum dirinya bertemu dengan Ren.


"Mungkin dulu aku yang mengagumi mu, tapi hanya sebatas rasa kagum dan menyukai dan aku salah mengartikan rasa itu." Ucap Ren dengan nada rendah, kini dirinya tahu perasaan apa yang dia rasakan untuk Alexa. "Karena aku tidak memiliki cinta kepadamu Jihan, dan selama ini aku sudah salah mengartikan nya."


Jihan menatap Ren dengan rasa kesal, hatinya sakit tidak bisa dirinya kehilangan Ren.


"Dan sekarang aku benar-benar merasakan jatuh cinta dengan seseorang." Ren menatap wajah Jihan bergantian dengan Alexa. "Mungkin kamu juga tidak percaya, tapi inilah yang aku rasakan, kesal dan cemburu ketika melihat kamu dekat dan tertawa dengan pria lain." Ren menatap wajah Alexa lekat.


Hatinya begitu bergemuruh ketika mengatakan perasaanya yang sesungguhnya dan dirinya benar-benar sadar dengan apa yang sudah ia ucapkan, perasaanya tidak bisa Ia tahan lagi untuk Alexa.


"Ren, maksud kamu apa? kita saling mencintai tidak mungkin kamu bisa mencintai wanita lain selain aku, bahkan kamu menyukaiku sejak masa kita remaja." Ren tidak bisa meninggalkan nya begitu saja, Jihan tidak akan tinggal diam miliknya direbut oleh wanita lain.


"Itu sudah keputusanku Jihan, mulai sekarang kita sudah tidak memiliki hubungan apapun, dan kamu bebas ingin tidur dengan pria manapun. Karena selama kita menjalin kasih kamu masih berhubungan dengan pria yang bisa memberikan kamu kepuasan." Ren menatap Jihan dengan wajah datar.


Deg


Tubuh Jihan menegang mendengar ucapan Ren, "Ren kamu salah_"


"Apa kamu perlu bukti ketika kamu sedang telanj*ng, atau bukti ketika kamu menggoda pria dengan tubuh mu itu." Ren berubah menatap Jihan tajam dan dingin.


Dirinya sudah cukup memberi wanita itu kelayakan hidup darinya nya, dan sekarang Ren sudah muak melihat Jihan yang masih sama seperti dulu, sebelum bertemu dirinya. Karena selama ini dirinya menyuruh orang untuk mengikuti Jihan dan Ren pikir Jihan akan berhenti dengan sendirinya, tapi nyatanya sampai sekarang wanita itu semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


__ADS_2