Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part98


__ADS_3

"Bos semua sudah siap." Daniel tiba-tiba muncul.


"Yud, tolong loe cari keberadaan Alena." Ucap Bimo pada Yuda di seberang sana, setelah panggilannya terhubung.


"Gue tunggu secepatnya." Bimo mematikan sambungan telponnya dengan wajah masih terlihat panik.


"Ada apa bos?" Daniel yang tidak biasa melihat wajah panik Bimo pun penasaran dan bertanya.


Bimo menatap Daniel sekilas tangannya masih mencoba menghubungi Alena lewat ponsel.


"Alena tidak masuk kerja, padahal tadi pagi jelas-jelas datang bersamaku." Ucap Bimo tanpa melihat Daniel dirinya sibuk mondar-mandir dan terus mencoba menghubungi nomor Alena.


"Alena, datang bersama?" Gumam Daniel yang masih bingung, kenapa bosnya bisa datang bersama Alena dan sekarang bosnya panik karena Alena tidak kerja.


Sedetik kemudian mata Daniel membulat sempurna ketika ingat perkataan Bimo yang sudah menikah. "Bos, Alena Is-itri bos?" Tanya Daniel terbata karena syok dan tidak percaya.


"Ahh..Shitt.!!" Bimo mengumpat lagi-lagi masih tidak bisa dihubungi. "Ale kamu dimana." Bimo meremat rambutnya keras, dadanya berdebar memikirkan Alena berada dimana. Ucapan Alena kemarin membuat dirinya teringat.


Ngak-ngak mungkin. Ucapnya dalam hati.


Daniel tidak bertanya lagi, melainkan sudah mengerti dan mendapat jawaban melihat bosnya yang sangat frustasi dan panik.


"Bos, sebaiknya kita keruangan metting segera." Daniel melihat jam di pergelangan tangan nya, waktunya sudah mepet dan ini metting penting.


"Apa tidak bisa ditunda." Tanya Bimo dengan suara berat pikiran dan hatinya tidak baik-baik saja.


"Maaf bos, mereka sudah menunggu." Daniel menunduk hormat.


Bimo menghela napas kasar. "Baiklah."


Daniel mengikuti langkah Bimo dibelakang.


.


.


"Ck. udah nikah aja nyusahin gue." Yuda menggerutu kesal, ketika tidur nya diganggu oleh sahabatnya.


"Si Ale juga, pake ngulang segala." Yuda mengambil laptopnya dan mencoba mencari keberadaan Alena.


.

__ADS_1


.


"Mah, Mama mau kemana?" Tanya Rendy yang melihat istrinya sudah berpakaian rapi pagi ini.


"Mama mau ketemuan dengan Siera pah." Ucap Leina santai.


Rendy menatap istrinya lamat-lamat dirinya yang merasa akhir-akhir ini Leina lebih sering keluar rumah dan bertemu dengan Siera.


"Ada perlu apa Mah, papa perhatikan Mama sering bertemu Siera?" Tanya Rendy dengan menaruh koran yang dia baca.


Leina duduk dengan mengirim chat pada Siera.


"Tentu saja bersenang-senang dan belanja, pergi ke salon memang apa lagi pah, Siera kan calon mantu kita." Ucap Leina santai.


"Mah..! Jangan maksud kamu apa calon mantu kita, jelas-jelas Bimo sudah menikah. Mama mau jodohkan Siera sama siapa? sama papa." Ucap Rendy dengan wajah tak percaya.


"Eh..enak aja sama papa, ya sama Bimo lah yang paling cocok." Leina menatap suaminya malas.


Rendy geleng kepala melihat sifat istrinya yang sudah berubah. "Mah, jangan sampai mama menyesali perbuatan Mama esok, Bimo anak kita satu-satunya dan kebahagiaanya pada istrinya yang dia cintai, jangan karena memandang sebelah mata Mama jadi bersikap melebihi batas dan akan menyesal dikemudian hari." Rendy pun yang kesal beranjak berdiri meninggalkan istrinya yang sepertinya tidak mendengarkan ucapnya sama sekali.


"Dih, punya menantu OB kok bangga, cantik ngak..pintar enggak..kaya enggak...nilainya aja Nol besar." Leina mendumel kesal sendiri mendengar ceramah suaminya.


.


.


Kepala Bimo rasanya hampir pecah, ketika keluar dari ruang metting. Bagaiman tidak jika semua investor mengatakan jika akan menarik semua investasi saham mereka jika dirinya tidak segera meyelesaikan pembangunan yang hanya kurang sepuluh persen dalam waktu satu bulan dan jika di perkirakan sepuluh persen itu akan memakan waktu hingga dua bulan jika tidak ada kendala.


Meskipun dirinya tahu jika dibalik masalah ini adalah ulah dari tuan Richard yang memprovokasi para investor lain untuk menekan dirinya, Bimo tidak menyangka jika Maslah pribadi di jadikan alat untuk bisnis mereka.


Tok..tok..tok..


"Bos, Tuan Richard ingin bertemu." Ucap Daniel.


Tuan Richard masuk kedalam ruangan Bimo, dengan wajah angkuhnya.


Bimo menatap datar pria paruh baya dalang dari kekacauan yang dia buat.


"Senang sekali bisa kembali datang kesini Nak Bimo." Ucap Richard dengan santai setelah duduk dikursi depan meja kerja Bimo.


"Bagaimana apa anda butuh solusi atau bantuan." Ucap Richard dengan menaruh kedua tangannya di di atas meja.

__ADS_1


Bimo masih diam dengan tatapan datar dan dingin. Sama sekali tidak merespon.


"Jika kamu butuh bantuan, Om akan bersedia membantu kesulitan kamu." Ucap Tuan Richard memberi penawaran.


"Atas dasar apa anda ingin membantu saya Tuan." Suara Bimo begitu dingin tatapan matanya berubah tajam.


Tuan Richard hanya terkekeh mendengar ucapan Bimo. "Tentu saja atas dasar kerja sama kita memang apa lagi." Tuan Richard menatap wajah pria muda yang begitu dingin didepanya.


Melihat karakter Bimo Tuan Richard semakin yakin jika putrinya tidak salah memilih.


Bimo menaikkan sudut bibirnya tersenyum tipis. "Tidak ada orang yang mambantu hanya untuk alasan kerja sama, jika orang itu sendiri yang membuat kekacauan disini." Bimo menatap tuan Richard sinis, dirinya tidak suka basa basi dan meladeni pria tua seperti Tuan Richard.


Tuan Richard mengepalkan tangannya namun masih bisa tersenyum, senyum meremehkan.


"Kamu memang mempunyai pemikiran yang sangat bagus nak." Tuan Richard menegakkan duduk nya. "Pilihannya hanya dua, Menikahi putri saya maka masalah ini akan beres, atau menolak dan yahh sudah pasti proyek yang sebentar lagi berhasil akan hancur sia-sia." Ucap tuan Richard dengan seringai di bibirnya.


"Silahkan anda berikan putri anda pada pria yang membutuhkan, karena saya tidak butuh putri anda." Ucap Bimo dengan santai namun tegas.


Dada tuan Richard bergemuruh mendengar hinaan Bimo pada putrinya, rahang nya mengeras dengan kedua tangan terkepal erat.


"Kau.! Akan menyesal anak muda." Tuan Richard menatap Bimo tajam penuh kemarahan, dirinya tidak terima jika putrinya dihina.


"Menyesal hanya untuk orang yang memanfaatkan bisnis hanya untuk menuruti ambisi putrinya." Lagi-lagi Bimo menyulut kemarahan tuan Richard yang membuat pria tua didepanya itu meradang.


Brak


Tuan Richard menggebrak meja keras matanya berkilat marah dengan tatapan menghunus Bimo tajam. "Tunggu bencana apa yang akan kau dapatkan anak muda sombong." Richard tersenyum sinis dan segera keluar dengan dada bergemuruh marah dan emosi menjadi satu.


"Hah.." Bimo menghempaskan punggungnya di sandaran kursi dengan mengusap wajah nya kasar.


"Alena.." pikirnya hanya ada Alena, dirinya tidak peduli proyek yang sedang terjadi problem pikiranya hanya ada Alena.


Tangannya meraih ponsel disaku nya.


"Bagaimana?" Tanya Bimo pada seseorang diseberang sana setelah sambungan telepon terhubung.


"Cari sampai ketemu Yud, secepat nya.!!" Bimo berteriak pada Yuda, yang belum mengetahui keberadaan istrinya.


Brak


Bimo memukul meja kerjanya meluapkan rasa frustasi dan khawatir nya dan segera pergi untuk mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2