Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Bea&Bia


__ADS_3

Kebahagian tidak hanya dirasakan oleh kedua orang yang baru saja menyandang sebagai orang tua baru bagi baby B.


Ya, Ren dan Alexa sudah menyiapkan dan sepakat untuk memberi nama mereka baby 'B'.


Bea Bagaskara dan Bia Bagaskara, yang artinya membawa kebahagiaan, kebahagian untuk keluarga mereka terutama kedua orangtuanya.


Yang paling mendominasi si kembar adalah Sena, wanita yang juga berperan sebagai ibu dua anak balita itu begitu senang dan bahagia melihat dua bayi imut dan menggemaskan lahir di keluarga mereka.


"Sayang, aku bantu." Ren yang melihat Alexa ingin turun dari ranjang pun segera menggendongnya dan membantu untuk duduk dikursi roda.


"Terima kasih Mas." Alexa terseyum.


"Sama-sama sayang." Ren pun mengusap pucuk kepala Alexa.


Beruntung Alexa didampingi suaminya yang siaga, apalagi Ren selalu berada di sampingnya semenjak melahirkan, pria itu senantiasa menjaganya, tidak membiarkannya Alexa bergerak sedikitpun pasti Ren akan sigap menolongnya.


"Mas makasih udah menemani aku tanpa bosan." Ucap Alexa yang duduk di kursi roda, dan didorong oleh suaminya.


Hari ini dirinya diperbolehkan pulang, wanita yang baru saja menjadi ibu itu kini benar-benar bahagia dan merasa beruntung.


"Tidak akan pernah bosan, dan aku harap kamu juga begitu." Alexa mendongak dan tatapan keduanya pun bertemu untuk membalas senyum.


"Iya Mas, aku mencintaimu."


Si kembar memang sudah lebih dulu dibawa pulang tiga puluh menit sebelum Alexa, dan siapa lagi jika bukan Sena yang membawa kedua bayi lucu itu, mungkin bagi Sena memiliki bayi perempuan menyenangkan, karena bisa satu sefrekusensi dengan dirinya, seperti menggunakan baju yang sama, menguncir rambut, dan mendadani kedua bayi cantik itu seperti dirinya.


"Apa kak Sena tidak kerepotan mengurus B dan A." Alexa membayangkan kakak iparnya itu ketika mengurus keempat anak, pasti tidak akan mudah dan menguras tenaga.


"Kamu tahu sendiri bagiamana antusias kak Sena menyambut B sayang, melebihi antusias menyambut baby A dulu." Ren mengingat dulu ketika Baby A laki-laki, Sena selalu bilang, jika nanti rambut A akan dia panjangkan dan dia ikat menggunakan pita.


Dan hal itu membuat Aaron kesal, karena kedua putra tanpanya akan di pakaikan pita, yang benar saja.


"Ya, kak Sena memang suka bayi perempuan." Ucap Alexa terkekeh.


Ren mengaguk. "Opa masih sakit." Tanya Ren dengan mengelus bawah perut Alexa yang bekas operasi, Ren begitu khawatir ketika Alexa merasakan sedikit sakit.

__ADS_1


"Tidak, jika tidak melakukan apapun." Jawab Alexa jujur.


"Memangnya mau melakukan apa, di tengok pun belum boleh, masih menunggu dua bulan." Ucap Ren dengan wajah masam.


Dirinya puasa satu minggu saja tidak tahan, apalagi ini, dua bulan sampai Alexa benar-benar sembuh.


"Ck, otak kamu selalu belok Mas, melakukan apapun, bukan berarti melakukan itu." Alexa memanyunkan bibirnya, "Apa kamu tidak kasihan B." Alexa melirik Ren.


"Hah, jangan bahas kesana sayang, nanti otakku, tidak akan kuat."


Keduanya berada di dalam mobil, pulang dari rumah sakit untuk menuju rumah kelaurga, disana Alexa sudah ditunggu dengan penyambutan yang mereka buat, bahkan semua hadir untuk menyambut anggota baru keluarga mereka.


Mobil yang dikendarai Ren sampai di depan rumah Bimo, diluar berjejer mobil yang tentu saja Ren kenal, tapi tidak dengan Alexa.


"Banyak mobil Mas." Tanya Alexa yang merasa heran, tidak biasanya rumah mertuanya itu ramai, kalau tidak sedang ada acara.


"Ya, mungkin mereka semua berkumpul." Ren pun keluar dari dalam mobil, mengeluarkan kursi roda dari bagasi belakang dan menaruhnya di samping pintu mobil tempat Alexa duduk.


"Apa papa lagi ada acara?" Tanya Alexa yang memang tidak tahu.


Ceklek


"Welcome baby B..!!" Semua bersorak menyambut kedatangan Alexa yang baru saja membuka pintu.


Alexa tentu saja terkejut, dengan bibir yang tersenyum lebar.


"Mas.." terharu dengan mata berkaca-kaca, Alexa tidak menyangka jika keluarga Ren memberikan kejutan penyambutan untuk dirinya.


"Mereka bahagia sayang, seperti kita." Ren menyentuh pundak Istrinya dari belakang.


"Iya mas," Alexa menyentuh tangan suaminya yang berada di pundaknya.


"Sayang, selamat ya." Airin ibu dari Aaron lebih dulu menyapa Alexa, wanita paruh baya itu ikut bahagia, meskipun hanya memiliki anak Aaron saja, tapi Airin sangat bahagia memiliki keluarga dari Bimo Bagaskara.


Berkeluarga dengan mereka membuat Airin memiliki empat cucu sekaligus, karena baginya, Sena dan Ren juga sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.

__ADS_1


"Terima kasih Tante." Alexa terseyum haru, padahal dia hanyalah wanita sebatang kara yang kebetulan beruntung berada di tengah-tengah keluarga suaminya.


"Mama saja ya, jangan tante," Airin menyentuh pipi Alexa.


"Iya Mama." Alexa terharu, hingga air mata yang sudah menggenang jatuh ke pipi.


"Jangan menangis sayang." Airin mengusap air mata Alexa.


"Lexa hanya merasa bahagia Mama."


Buka hanya Airin, Sena dan juga Gina pun melakukan hal yang sama, mereka menyambut Alexa penuh suka cita, dengan wajah yang bahagia.


Para laki-laki pun juga sama, Kakek Lewis yang sudah renta pun masih menampilkan senyum tuanya untuk menyambut cicit perempuan di keluarga besar Bimo Bagaskara dan Arthur Lewis.


Ruang tengah menjadi tempat berkumpul mereka setelah baby B di taruh di box ayunan yang dulu ditempati oleh baby A.


Dan Baby A pun juga ikut bahagia melihat para orang tua, Kakek dan neneknya juga bahagia.


Apakah ini akhir kebahagiaan mereka?


Tidak, karena author masih ada beberapa part, bagaimana seorang Birendra yang juga sibuk mengurus buah hatinya, dan Alexa yang juga sibuk mengurus bayi besarnya.


Bimo yang paling bahagia, dia berhasil membuat permintaan terakhir istrinya, terpenuhi. Bimo yang selalu berusaha untuk membahagiakan anak-anaknya, hingga sekarang dirinya bisa melihat kebahagiaan itu mengelilingi keluarganya.


Kabahgiaan yang tidak bisa terulang kembali, kebahagian yang tidak bisa dia lihat lagi jika kelak sang Khalik memanggilnya, untuk bertemu sang istri. Dan jika itu terjadi Bimo memiliki banyak cerita untuk sang istri nanti.


Bibirnya tersenyum, dirinya selalu melihat senyum yang tidak pernah berubah dan selalu membuatnya rindu serindunya.


"Kau hebat Opa." Bibir ranum itu tersenyum manis.


"Ya, apa kau baru tahu." Bimo terkekeh, Istrinya itu pintar sekali membuat dadanya sesak hingga tak bisa lagi dia rasakan bagaimana rasanya.


"Em, sekarang aku baru mengakuinya." Alena terseyum memamerkan jejeran giginya. "Dan kamu adalah orang tua yang hebat, aku semakin mencintaimu sayang." Kedua tangan lembut dan bercahaya itu, melingkar di bahu Bimo, dan Bimo menyentuh tangan lembut itu dan mengelusnya.


"Maka kau harus memberiku hadiah." Bimo menoleh kesamping, membuat tatapan mereka bertemu.

__ADS_1


"Apapun yang kau minta sayang."


__ADS_2