
"Jihan.." Panggil seseorang membuat Jihan menoleh.
"Maura.." Jihan langsung memeluk sahabatnya itu, dengan Isak tangis.
Jihan menangis di pelukan Maura
Setelah sedikit reda, Maura mengajak Jihan untuk duduk di meja yang tadi Ren tempati.
"Kamu kenapa? dan siapa pria itu tadi?" Tanya Maura dengan menatap Jihan ingin tahu.
Meskipun Maura bisa menebak, tapi dirinya pura-pura tidak tahu dan pura-pura perduli.
"Dia pria yang aku cintai, dia berubah dan meninggalkanku hanya karena wanita lain." Ucap Jihan dengan wajah yang berubah kesal mengingat Ren meninggalkannya hanya demi wanita lain yang tidak sebanding dengan dirinya.
"Ck, kenapa kamu masih mengejar-ngejar pria seperti itu, kamu cantik dan pasti banyak pria yang mengejar dirimu." Ucap Maura dibibir lain jika di hati rasanya Maura ingin muntah.
"Karena dia adalah sumber kebahagian dan kehidupanku, jika bersamanya aku tidak perlu banting tulang uang mencari uang, semua kebutuhan kami dia yang mencukupi, dan sekarang kehidupanku kembali seperti dulu, setelah dia pergi, dan aku akan berusaha untuk memilikinya kembali apapun caranya." Ucap Jihan dengan perasaan menggebu-gebu.
Maura yang mendengar ucapan Jihan tersenyum sinis, "Ya kamu benar, dia adalah milikmu yang direbut oleh wanita lain, maka kamu masih berhak untuk mendapatkannya kembali." Maura menyentuh tangan Jihan, seolah untuk memberi dukungan. "Aku akan membantumu, jika kamu butuh bantuanku." lanjut Maura, tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Jihan merasa senang karena ada yang mendukungnya, selama ini dirinya sendiri tidak ada teman ataupun sahabat yang dekat dengan nya. Dan sekarang dirinya beruntung bertemu Maura kembali.
"Terima kasih, kamu adalah teman baik." Jihan tersenyum senang, lain dengan Maura yang tersenyum penuh rencana.
.
.
"Sayang kamu sudah selesai.."
Ren mengirimkan pesan pada sang istri ketika dirinya baru masuk ke dalam mobil.
Bertemu jihan tidak berarti apa-apa lagi bagi dirinya, dan memang sejak dulu dirinya tidak memiliki rasa cinta untuk Jihan, hanya rasa kagum saja.
"Ini baru selesai mas, ada apa?"
Ren membaca pesan Alexa tersenyum.
"Aku jemput, kebetulan aku baru selesai, kirim lokasi kamu sekarang dan tunggu aku di sana."
__ADS_1
Tak lama ponsel nya kembali berbunyi, Alexa mengirim alamat cafe yang mereka datangi, dan ternyata cafe itu tak jauh dari tempatnya sekarang.
Ren pun segera melajukan mobilnya ke tempat sang istri, dirinya selalu dibuat senang dan senyum-senyum setelah berinteraksi dengan Alexa meskipun dalam bentuk pesan.
"Ren, kamu sudah gila, gila karena cintamu pada Alexa." Ucapnya pada diri sendiri.
Ya, Ren akui jika dirinya memang tergila-gila pada istrinya, bahkan Ren tidak bisa jauh dari Alexa, meskipun hanya sebentar saja.
Selama Alexa tidak bekerja dirinya selalu pulang ketika jam istirahat, untuk makan siang bersama.
"Alexa, aku mencintaimu." Ucapnya dengan terkekeh kecil.
Ren memang tidak pernah merasakan jatuh cinta, untuk kali pertama dirinya jatuh cinta pada sang istri.
"Kalian duluan saja, aku menunggu pak bos." Ucap Alexa sambil nyengir, karena mendapat tatapan horor dari rekan nya.
"Cie,, yang di jemput pak suami, okelah kita duluan nanti telat terus dapet peringatan. Kalau kamu mah, gak ngaruh mau telat atau bolos." Ucap Mita yang di tertawakan oleh yang lain.
"Iya, iya,, sana gih nanti kalian telat, potong gaji loh." Alexa mencoba mencandai.
__ADS_1
Mereka semua pamit lebih dulu, meninggalkan Alexa yang masih berdiri di depan cafe menunggu sang suami.
"Terima kasih Tuhan atas kebaikan mu." Alexa berdoa dengan menatap langit di atas, dirinya bersyukur dikelilingi orang-orang baik, dan memiliki suami yang sempurna di matanya.