
Alena mengerjapkan matanya ketika merasakan tubuhnya kaku.
Membuka mata dan melihat kesekeliling dirinya merasa tak asing dengan kamar ini.
Alena duduk dengan selimut yang menutupi tubuhnya tidak ada siapa-siapa di ruangan itu.
Melihat jam di dinding sudah pukul sembilan pagi.
"Astaga.." Alena menepuk kepalanya, karena sudah tidur di ruangan kamar Bimo hingga kesiangan.
"Eh..kamar Bimo." Alena kembali mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya tertidur di pantry karena merasakan tubuhnya yang kurang sehat dan demam.
Melihat kesamping terdapat makanan dan segelas susu. Alena meraih kertas kecil yang berada di bawah nampan.
Makanlah sebelum keluar dari kamarku, dan jangan ulangi tidur di pantry lagi.
Alena mendengus kesal membaca tulisan yang sepertinya tulisan tangan Bimo.
Meraih nampan Alena menyantap makanan itu dengan lahap, perutnya sudah terlalu lapar dari kemaren.
"Eh..kamu sudah bangun?"
Alena kaget tiba-tiba Gina masuk, padahal ini kamar pribadi Bimo.
Ya, sebelum keluar kantor dan pergi ke kota S Bimo menyuruh Gina untuk mengantar makanan dan melihat keadaan Alena.
__ADS_1
Sebelum Alena bangun Bimo sudah kembali memakaikan pakaian Alena, Bimo menyentuh tubuh Alena untuk mengecek suhu badannya yang ternyata sudah normal kembali.
"Kamu tahu aku disini?" Tanya Alena menatap Gina yang duduk di depannya.
Tangan Gina menyentuh kening Alena. "Sudah tidak panas lagi." Ucapnya.
"Panas?" Alena membeo.
"Kamu tidak tahu jika semalaman kamu demam?" Tanya Gina balik.
Alena hanya menggeleng, meskipun dirinya sempat merasakan demam, namun tidurnya tadi malam terasa nyenyak sekali.
"Oh ya Tuhan, Tadi pagi bos bilang semalaman kamu demam, dan aku disuruh bawain makanan buat kamu." Ucap Gina.
Alena berpikir sejenak, jadi dari semalam dirinya bersama Bimo, pria itu tidak meninggalkan dirinya sendirian disini.
"Keluar kota." Alena nampak diam.
"Sekarang habiskan makannya, lalu pulang istirahat..itu pesan bos." Ucap Gina menyampaikan pesan Bimo.
.
.
.
__ADS_1
Alena sampai di kontrakan, masih sepi karena Alisa belum pulang sekolah.
Masuk kerumah Alena kembali merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Jadi tadi malam Bimo nungguin aku." Ucap Alena yang tiba-tiba perasaanya menghangat.
"Ck. tapi kenapa pergi gak bangunin aku." Kesalnya yang mengingat pria itu pergi keluar kota.
Alena bangun dan ingin membersihkan dirinya, namun teringat jika sejak kemarin ponselnya Ia matikan.
"Duh..malah lowbat lagi." Alena menaruh ponselnya kembali setelah mencharger dan pergi ke kamar mandi.
.
.
"Bagaimana pembangunannya?" Tanya Bimo yang sedang berdiri menatap pembangunan Mall di kota S, dirinya didampingi seorang pria sebagai penanggung jawab pembangunan.
"Sejauh ini baru tiga puluh persen pak, kami harus menambah tenaga kerja lagi agar semua selesai tepat waktu." Ucap pria itu.
"Lakukan, asal selesai tepat waktu..tapi ingat, utamakan keselamatan dan pastikan bahan yang dipakai dengan kualitas baik, jika ada kecurangan maka saya sendiri yang akan memberikan hukuman." Ucapnya tegas, menatap pria yang berdiri disampingnya.
"Baik pak, akan saya pastikan itu."
Bimo kembali berkeliling melihat area pembangunan, meskipun terik tapi sebagai seseorang yang mempunyai tanggung jawab penting dirinya tidak perduli meskipun harus cuaca panas dan hujan.
__ADS_1
Yang jelas semua perintahnya harus berjalan lancar pada jalan yang seharusnya. Jika ada yang mencoba mengorupsi maka dirinya sendiri yang akan turun tangan untuk bertindak.