Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part58


__ADS_3

Alena menjalani pekerjaan nya seperti biasa. Akhir-akhir ini tunangannya jarang sekali menghubunginya, meskipun begitu Alena tidak perduli. Entah mengapa perasaanya kepada Diki semakin jauh, padahal hanya satu bulan lagi mereka akan menikah, bahkan Diki sama sekali belum mengajaknya untuk fitting baju, padahal pria itu yang selalu mendesak dirinya.


Alena membersihkan ruangan Bimo, ruangan yang hampir dua Minggu ini di tempati papa Bimo lagi, Membersihkan meja Bimo Alena sudah tak melihat foto Bimo bersama wanita yang Alena pernah tau, dan hanya ada foto kebersamaan dengan para sahabatnya.


Melihat wajah Bimo difoto membuat Alena merindukan pria itu, pria yang sudah tak lagi dekat dengan nya.


"Ck. sadar Alena kamu sudah punya Diki." Alena bergumam merasakan kerinduan kepada pria lain.


.


.


.


"Jadi lemes kalau gak ada yang bisa diliat untuk cuci mata." Gina tiba-tiba duduk di samping Alena. "Lemes Len." Kepalanya Ia taruh dimeja.


Alena hanya terkekeh, setiap hari Gina selalu mengeluh seperti itu. Padahal dirinya yang jelas-jelas merindukan sosok bos menyebalkan itu biasa saja.


"Masih banyak cogan GIn, masa gak ada yang bisa bikin semangat." Ucap Alena menyodorkan minuman dingin pada Gina.


"Beda atuh, kalau pak bos itu spesial dan lengkap sempurna, tanpa ada yang kurang." Gina mengambil minum yang Alena kasih. "Kamu biasa aja gitu, gak ngerasa kangen."


Alena hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa, karena Alena tidak menceritakan kejadian waktu itu pada Gina.


.


.


.


Alisa yang sudah keluar sekolah mengedarkan pandangannya mencari sosok Mirna yang tidak kelihatan ditempat biasa menunggu.

__ADS_1


"Loh Alis belum di jemput?" Tanya seorang guru, yang kebetulan keluar.


"Belum Bu, mungkin ibu Mirna telat datang." Ucap gadis kecil itu dengan wajah lesu.


"Mau ibu antar?" Ucap guru itu lagi.


Alisa menggeleng. "Tidak Bu, Alis tunggu disini saja pasti ibu sebentar lagi sampai."


Guru itu tersenyum dan mengelus kepala Alisa.


"Yasudah, tunggu di sini saja jangan jauh-jauh ya."


Alisa mengangguk dan kembali duduk dikursi depan sekolah setelah guru itu pergi.


Setelah sepuluh menit menunggu Alisa mendengar seseorang memanggilnya.


"Alisa..!!" Mirna baru sampai dan baru turun dari ojek.


"Ibu..!!" Alisa berlari.


"Jangan kesini sayang, disitu saja." Namun teriakan Mirna tak didengar oleh Alisa, gadis itu tetap berlari menyebrang jalan tanpa melihat jika ada mobil yang sedang melaju kearahnya dengan keadaan tak seimbang.


Mobil yang sepertinya sedang tidak bisa mengontrol laju kecepatan nya karena bergerak dengan belok-belok, tidak melihat jika ada anak kecil yang berlari menyebrang jalan.


"Alisa awas...!!!"


Brakk.


Tubuh Alisa terpental, membuat Mirna menjerit histeris.


"Alisa..!!!"

__ADS_1


Keadaan sekitar lumayan sepi sehingga tidak ada yang melihat mobil yang sudah kabur setelah menabrak seorang anak kecil.


"Alis.." Mirna menangis histeris melihat keadaan Alisa yang tak berdaya dengan banyak darah.


"Jangan tinggalin ibu sayang.." Mirna berteriak minta tolong, dan beruntung seorang warga yang lewat menggunakan mobil membantu Mirna membawa Alisa kerumah sakit.


.


.


.


Prang


Alena tak sengaja menjatuhkan gelas, ketika dirinya hendak mengambil minum.


"Ya..ampun kamu melamun Len?" Tanya Gina yang melihat pecahan gelas di lantai.


"Aku, entah mengapa perasaan aku gak enak Gin." Ucap Alena dengan nada khawatir.


Drt..Drt..Drt..


Tak lama ponsel nya berdering, Alena buru-buru mengangkat panggilan nya.


"Halo.."


"..."


"Apa?!" Tubuh Alena lemas, air matanya tak bisa dibendung lagi.


"Len kamu kenapa?" Gina menyentuh bahu Alena.

__ADS_1


"Alis...Alis kecelakaan Gin."


__ADS_2