
Aaron melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, melintasi jalan yang lumayan sepi.
Setelah menunggu lebih dari satu jam, dan Sena tidak kembali, Aaron memutuskan untuk menyusuri jalan yang biasa Sena lewati yaitu ke pabrik.
Tak butuh waktu lama, dari jarak jauh matanya sudah menangkap sosok yang dia cari karena Aaron sangat hafal motor yang Sena punya.
Dengan menambah kecepatan Aaron melesat seperkian detik, berhenti di samping motor Sena.
"Sena.." Turun dari motor besarnya, Aaron hanya melihat motor Sena yang berada di pinggir jalan.
Matanya menatap kesekeliling dan ternyata tidak ada orang sama sekali.
"Sena..!!" Aaron berteriak memanggil, dirinya mendekati semak-semak pinggiran jalan dan berteriak memanggil Sena, berharap wanita itu berada di sekitar sana.
"Sena.!!" Suara nya begitu nyaring, membuat orang yang melewatinya heran.
"Ya tuhan." Aaron mengusap wajahnya kasar, dirinya mulai panik, karena tidak ada Sena di sekitaran sana.
Mendekati motor Sena, Aaron mengambil sesuatu dari bawah motor Sena.
"Gelang ini." Aaron melihat gelang yang biasa Sena pakai, jatuh di jalan dan dalam keadaan putus.
Tangannya mengepal, dadanya bergemuruh.
"Tidak mungkin kan."
Sebenarnya tadi Sena sempat melawan, tapi karena keadaanya yang sudah capek dan perut nya juga belum terisi, alhasil dirinya kalah dan mendadak pingsan karena sudah tak kuat melawan.
.
.
"Lepaskan dia." Seseorang berpakaian serba hitam menghadang kedua orang yang membawa Sena dalam keadaan pingsan.
"Siapa kalian, jangan ikut campur." Pria gondrong itu sedikit takut, tapi sebisa mungkin dirinya menutupi.
Karena di depan mereka berdiri enam orang berpakaian serba hitam dan tubuh tinggi kekar.
"Kalian tidak perlu tahu siapa kami, yang jelas lepaskan gadis itu, atau kalian akan tau akibatnya."Jack menunjuk kedua pria yang sudah berani menganggu wanita milik tuan mudanya itu.
"Cih, apa kalian juga mau ikut bersenang-senang dengan kami, hah." Ucap gondrong dengan angkuh. "Boleh saja, tapi kami yang akan mencicipinya lebih dul_"
Bugh
Satu pukulan mendarat di dagu gondrong, membuat pria itu langsung jatuh tersungkur, hidungnya pun mengeluarkan darah.
"Sialan..!!" Teman satunya menaruh Sena di pinggir jalan, untuk membatu temanya yang sudah tumbang.
"Kalian bukan lawan kami." Jack hanya tersenyum menyeringai, mereka hanya tikus kecil yang mencoba untuk mencari masalah.
Bugh
bugh
bugh
Tiga kali pria itu ingin memukul Jack tapi tidak kena.
__ADS_1
"Apa? Ayo maju lagi " Ucap Jack dengan wajah mengejek.
"Brengsek."
Bugh
Bukanya memukul tapi pria itu mendapat satu kepalan tangan diperutnya.
"Pergilah, atau kalian akan aku habisi." Jack menatap tajam kedua pria yang sudah tersungkur ke tanah.
"Ampun tuan..!!" Merek berdua berlari terbirit-birit.
"Bawa, nona masuk ke mobil." Titahnya pada anak buahnya.
Belum sempat mereka membawa Sena masuk ke dalam mobil, sebuah suara kenalpot motor yang begitu nyaring, mengalihkan pandangan mereka.
Semakin mendekat terlihat jelas siapa yang menunggangi kuda besi itu.
"Tuan muda." Ucap Jack yang melihat Aaron turun dari atas motornya.
Bugh..
Bugh..
Bugh..
"Brengsek kalian...!!
Bugh
Aaron yang sedang emosi, memukuli Jack membabi buta, dirinya marah melihat wanitanya di bawa anak buah kakeknya.
Bugh
Aaron mencekram kerah baju Jack. "Berani kalian membawa Sena hah." Aaron yang emosi dan marah tak peduli dirinya memukuli anak buah sang Kakek, bahkan Jack adalah bodyguard yang menjaganya sejak kecil.
"Tuan anda salah paham..uhuk..uhuk.." Jack terbatuk-batuk beberapa kali mendapat serangan dari Aaron, dirinya tidak akan melawan meskipun sampai sekarat.
"Diam kau botak..!!" Aaron menatap tajam Jack dengan mata berkilat amarah.
"Kalian semua, dengar..!! Katakan pada kakek tua itu, kalau aku Aaron Ryan tidak akan menyerah meskipun kalian semua berusaha membunuhku." Aaron berteriak lantang dengan napas menderu-deru.
Dirinya yang berprasangka jika yang terjadi pada Sena adalah ulah suruhan sang kakek, dan ketika melihat Sena pingsan ingin di masukkan ke dalam mobil, membuat Aaron marah dan memukuli orang yang sudah menolong wanitanya.
"Sen..Sena.." Aaron menepuk-nepuk pipi Sena, yang masih duduk di dalam mobil dalam keadaan pingsan.
Pengawal membatu Jack yang sudah tak berdaya di pukuli oleh tuan muda mereka.
"Sayang hey bangun." Aaron melihat Sena membuka matanya pelan.
"Ar.." Ucap Sena lirih.
"Kamu sudah aman, ayo kita pergi dari sini." Ucap Aaron yang langsung membopong tubuh Sena.
"Tuan kami_"
"Ingat, jangan pernah lagi kalian mengganggu Sena, kalau tidak kalian akan tahu akibatnya." Ucap Aaron ketika melintasi para bodyguard nya.
__ADS_1
Dirinya yang tidak mau mendengar penjelasan mereka, menjadi salah paham.
"Ar, mereka."
"Sstt..tidak apa, mereka tidak akan mengganggumu lagi." Aaron mendudukkan Sena di jok belakang motor besarnya. Kemudian dirinya ikut naik dari depan.
"Pegangan." Ucap Aaron sebelum memakai helm.
Sena hanya menurut, meskipun dirinya sempat bingung kenapa banyak orang bertubuh besar dan memanggil Aaron dengan sebutan 'tuan'.
'Siapa dia.'
Aaron melajukan motornya meninggalkan para bodyguard yang sudah membatu Sena.
"Bos, kau tidak apa-apa." Tanya salah satu anak buah Jack.
"Hm, kita kembali." Jack pun berjalan dengan di papah, meskipun bisa melawan tapi Jack memilih menghindar ataupun pasrah, karena baginya Aaron sudah Ia anggap sebagai anaknya sendiri, karena sejak kecil dia lah yang menjaga cucu pewaris utama di keluarga Lewis.
Aaron menjalankan laju motornya dengan kecepatan sedang, tangan kirinya menyentuh tangan Sena yang melingkar di perutnya.
Sena menempelkan pipinya di punggung Aaron, dirinya merasa nyaman jika berada di posisi seperti ini.
Aaron memilih diam, pikirnya masih berkelana.
"Ar..Motor ku." Ucap Sena ketika melintasi tikungan yang tadi dia lewati hingga terjadi insiden di tempat itu.
Dan dia sudah tak melihat motor nya berada di sana.
"Tidak apa, motor mu aman." Ucap Aaron sedikit keras, karena dirinya memakai helm full face.
Sena tak berkomentar lagi, dirinya kembali memeluk perut Aaron dan bersandar di punggung pria itu.
'Tuhan, sepertinya aku sudah benar-benar jatuh cinta dengan dia.' Gumam Sena dalam hati dan tersenyum tipis.
Tak lama motor Aaron sampai di basement apartemen, disana sudah ada dua orang buang sangat dia kenal, sedang duduk di atas motor Sena.
"Wah tuh anak, nekat." Ucap Dadang yang melihat Aaron membonceng atasannya sendiri.
Aaron menghentikan motornya di samping kedua temannya.
"Turun sayang." Ucap Aaron yang membantu Sena untuk turun dari motor besarnya.
Kedua temannya melotot tajam mendengar perkataan Aaron.
"Hm, terima kasih." Sena tersenyum tipis membuat Aaron mengembangkan senyum nya.
"Uhukk...uhukk..keselek nyamuk gue." Dadang pura-pura batuk, karena melihat dia sejoli itu sedang bertatap penuh cinta.
"Sep, mingkem." Ucap Dadang dengan mengusap telapak tangannya ke mulut Asep agar menutup mulutnya.
"Motor kamu, udah di antar mereka." Ucap Aaron tanpa memperdulikan kedua temannya yang mengejeknya, anggap saja mereka hanya nyamuk.
"Kalian, terima kasih ya." Sena tersenyum tipis.
"Ck. tidak usah senyum sama mereka." Aaron merangkul kepala Sena masuk kedalam dekapannya. "Can't smile with just any man.." Ucap Aaron posesif.
"Iss...dasar." Sena memukul dada Aaron, membuat kedua orang yang melihat menjadi pengen sendiri.
__ADS_1
"Nasib jomblo."