
"Kalian." Bimo menatap tak percaya jika kedua orang tua Diki mendatangi kantornya.
Ya, orang yang menunggu Bimo adalah kedua orang tua Diki.
Mereka berdiri ketika melihat pria yang mereka tunggu memasuki ruangannya.
"Maaf, ada apa ini?" Tanya Bimo yang sudah duduk di sofa single.
Yusuf dan Hesti nampak saling pandang, wajah keduanya terlihat sedih.
"Maaf, jika kami mengganggu waktumu nak, kami kesini hanya ingin meminta tolong agar mau membebaskan anak kami Diki." Ucap Yusuf dengan wajah memelas. Bukan tanpa alasan dirinya memohon untuk membebaskan putranya, tindakan Diki memang harus di beri hukuman, namun melihat kondisi Diki yang sekarang membuat kedua orang tuanya merasa kasihan.
"Maksud anda apa? Dia pantas untuk menjalani hukuman." Ucap Bimo menatap datar kedua orang tua di depannya.
Hesti sudah menjatuhkan air matanya, dirinya tak kuasa melihat sang putra di dalam penjara dengan keadaan yang memprihatinkan.
"Begini nak.." Yusuf menceritakan kondisi Diki yang sedang di dalam penjara. Diki mengalami depresi Ndan sering mencoba melakukan percobaan bunuh diri di dalam penjara, bahkan belum ada sebulan pria itu sudah hampir tiga kali ingin melakukan percobaan bunuh diri. Diki juga tidak bisa di ajak berkomunikasi, hanya nama Alena yang bisa Diki ucapkan dan selalu dia sebut.
Melihat keadaan Diki kedua orang tuanya tak tega, apalagi Diki anak satu-satunya mereka.
"Tolong bebaskan Diki, agar dia mendapat perawatan semestinya." Ucap Yusuf yang memohon kepada Bimo.
Bimo sendiri nampak tertegun ketika mendengar keadaan Diki yang depresi, tidak menyangka jika gagalnya pernikahan mereka membuat Diki sampai seperti itu.
Bimo berdiri dan menempelkan pesawat telepon untuk menghubungi seseorang.
Tak lama pintu ruangannya di ketuk.
"Masuk sayang.." Tanpa melihat Bimo tahu siapa yang mengetuk pintu.
__ADS_1
Alena masuk dengan wajah bingung, ketika melihat kedua orang tua Diki di ruangan suaminya.
Berjalan mendekati suaminya yang lebih dulu mengulurkan tangannya untuk mendekat.
"Ada apa Bim?" Tanya Alena menatap suaminya.
"Mereka ingin bicara dengan mu." Ucap Bimo, memang disini Alena dan Alisa yang menjadi korban, Bimo hanya membantu untuk memberi keadilan, selanjutnya adalah keputusan dari Alena jika mengenai hal ini. Dirinya tidak bisa mengambil keputusan sendiri, meskipun Bimo lah yang menjebloskan Diki ke dalam bui.
"Ibu, bapak." Alena menyapa kedua orang tuan yang pernah mau menjadi mertuanya, dirinya juga belum sempat meminta maaf dimana kejadian waktu itu membuatnya syok dan terkejut.
"Nak Lena." Herti langsung berdiri dan memeluk Alena, gadis yang begitu dirinya sayangi namun disakiti oleh putranya sendiri.
"Maafkan ibu nak, yang tidak bisa mendidik anak ibu dengan baik, ibu minta maaf." Hesti menangis sesenggukan ketika bicara dengan memeluk Alena.
Alena pun demikian air matanya ikut menetes. "Lena juga minta maaf sama ibu dan bapak, Lena tidak bisa menjadi seperti yang ibu bapak harapkan." Alena menangis.
Hesti melerai pelukannya, menangkup kedua pipi Alena. "Kamu gadis baik nak, kamu berhak mendapatkan pria baik, bukan seperti anak ibu." Jari Hesti menghapus air mata Alena.
Bimo merasa bangga kepada istrinya yang tidak menyimpan dendam dan berhati baik. Dirinya dibuat jatuh cinta berkali-kali oleh Alena.
Setelah membicarakan masalahnya, Bimo dan Alena sepakat untuk menjenguk Diki lebih dahulu, mereka tidak ingin langsung mengambil keputusan secara langsung.
Meskipun begitu kedua orang tua Diki cukup lega, setidaknya mereka mau mengabulkan permintaan mereka.
"Sayang, aku akan bertemu klien sebentar lagi." Bimo membereskan file yang akan dirinya bawa bertemu klien.
"Hm..makan siang diluar?" Tanya Alena yang berdiri disamping suaminya.
Bimo menegakkan tubuhnya, menatap sang istri. "Ya, kami akan membahas proyek di restoran xx." Ucap Bimo menyentuh wajah Alena.
__ADS_1
Alena hanya mengangguk." Ya udah nanti aku makan sama Gina saja." Ucap Alena membalas senyum Bimo.
"Makan dimana?" Tanya Bimo penasaran, karena setahunya Alena selalu makan di pantry sendiri. Dan kini ingin bersama Gina membuat pikiranya kemana-mana.
"Tidak tahu, Gina yang mengajak katanya mau mentlaktir." Ucap Alena cuek tidak mengerti arti raut wajah suaminya.
"No, tidak boleh makan di luar." Ucap Bimo spontan.
Alena menatap suaminya bingung. "Kenapa?" Tanyanya polos.
Bimo berdecak, dirinya tidak suka jika istrinya makan diluar tidak bersama dirinya, pasti banyak pria yang melirik istri kecilnya itu.
"Pokonya tidak boleh, kalian boleh makan apa saja asal masak di pantry, tidak boleh makan diluar." Ucap Bimo dengan nada tegasnya, tepatnya keposesifan nya mulai keluar.
"Iss..gak seru ah.. Gina kan mau telaktir aku yank." Alena mencoba protes.
"Tidak ya tidak, jika tidak sama aku." Bimo menatap Alena tajam.
Alena balas menatap tajam suaminya, yang menurutnya aneh dan berlebihan. Hanya makan diluar bersama hina tapi tidak diperbolehkan.
"Iss..nyebelin." Alena pun hendak pergi, namun tangan Bimo lebih dulu menarik pinggangnya.
Bimo yang mengerti jika istrinya merajuk pun memeluk nya erat.
"Lain kali boleh, tapi aku harus ikut." Ucapnya dengan mengelus kepala Alena yang berada di dadanya. "Aku tidak mau istriku banyak yang melirik jika tidak ada aku." Ucapnya jujur.
Mendengar ucapan Bimo Alena membulatkan matanya tak percaya. Kepalanya mendongak menatap wajah suaminya yang juga menatapnya.
"Kamu berpikir begitu?" Ucap Alena, yang mendapat anggukan kepala dari Bimo dengan wajah yang begitu lucu hingga membuat Alena tertawa. Ternyata suaminya cemburu dan posesif, padahal belum tentu terjadi seperti yang Bimo katakan.
__ADS_1
"Kamu berlebihan yank." Alena masih tertawa, begitu menggelikan melihat wajah dingin suaminya dan sekarang nampak lucu dan menggemaskan ketika merasa cemburu.