Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Aldrick kembali menggendong Sena setelah mobilnya sampai di rumah sakit, dimana seorang perawat langsung meyambutnya dan membawa brankar ketika melihat putra dari keluarga Adhitama mebawa seorang pasien.


"Tuan tunggu disini." Ucap suster itu ketika melihat Aldrick yang juga ingin ikut masuk.


Tak lama Aaron juga sampai di parkiran, dimana dirinya melihat mobil yang membawa Sena tadi sudah sampai.


"Sena.." Aaron langsung berlari masuk ke dalam, dan menuju ruang UGD setelah bertanya kepada bagian informasi.


Dari jauh dirinya bisa melihat, seorang pria sedang berdiri dengan mengeadahkan kepalanya di dinding, dan kedua tangan pria itu dimasukkan ke dalam saku celana.


Aaron mengambil duduk di kursi tunggu tak jauh dari pria itu.


'Siapa dia.' Batin Aaron yang melihat wajah pria itu juga khawatir.


Tak lama dokter keluar dan Aldrick langsung menyambutnya.


"Bagiamana keadaan nya dok?" Tanya nya dengan khawatirkan.


"Pasien hanya mengalami demam tinggi, dan dehidrasi. Kami sudah memberikan pertolongan pertama, sebentar lagi pasien akan di pindahkan." Dokter itu tersenyum.


"Syukurlah," Aldrick mengusap wajahnya dan merasa lega. "Terima kasih dok."


"Sama-sama Tuan, semoga kekasih anda lekas sembuh." Dokter itu menepuk pundak Aldrick, dimana putra pertama keluarga Adhitama yang tadinya khawatir, kini merasa lega.


Semua interaksi dokter dan Aldrick tak luput dari mata dan telinga Aaron membuat pria itu mengepalkan tangannya kuat.


.


.


.


Aldrick menunggu Sena dengan memengan tangan gadis itu, dimana sejak tadi Sena belum sadar.


"Sebenarnya apa yang terjadi, kamu tidak pernah sakit seperti ini kalau tidak melakukan suatu hal." Ucap Aldrick pelan. Tangan Sena Ia kecup.


Pintu yang terbuka sedikit membaut seseorang yang sejak tadi menguping pembicaraan Aldrick, dadanya semakin sesak dan bergemuruh, melihat bagaimana Aldrick memperlakukan Sena.


Aaron yang sudah tidak tahan melihatnya pun pergi.


Bruk


Ketika berbalik dirinya menabrak seseorang, tapi karena hatinya sedang tidak baik-baik saja, Aaron sama sekali tak menghiraukan orang yang dia tabrak.


"Lah, dia kenapa Pah?" Tanya Ren, yang melihat Aaron dengan wajah menahan amarah.


Ya, orang yang Aaron tabrak adalah Ren dan Bimo.


Bimo hanya mengedikan kedua bahunya tidak tahu.


Tak lama pintu ruang rawat Sena di buka dari luar, masuklah Bimo dan Ren.

__ADS_1


"Al.."


Aldrick langsung berdiri.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bimo yang langsung menyentuh kepala Sena dan mengelusnya.


"Demamnya sudah turun, hanya saja sejak tadi Sena belum sadar." Ucap Aldrick yang berdiri di samping Ren.


Aldrick menghubungi Ren, ketika Sena sudah di pindahkan di ruang rawat, dan memberi tahu jika Sena Ia bawa ke rumah sakit.


Tak lama Sena membuka matanya, dan melihat tiga orang pria menatapnya dengan tersenyum.


"Pah.." Ucapnya dengan suara serak.


"Kamu sudah lebih baik." Bimo mencium kening Sena.


Sena hanya mengangguk, Ren membantu kakaknya yang ingin duduk dan bersandar di ranjang dengan bantal di belakang punggungnya.


"Kamu sudah lebih baik." Tanya Aldrick yang berdiri di samping Ren.


"Em.."Sena mengangguk. "Terima kasih sudah membawa sena kesini Bang."


"Tidak apa, hanya saja kenapa kamu bisa demam tinggi seperti itu, Biana yang Abang kenal tidak pernah sakit."


"Baru hujan-hujanan aja udah tumbang, Lemah." Timbal Ren meledek Sena dengan tertawa.


Sena mendelik menatap Ren tajam.


"Kamu kan emang gak bisa kena hujan Bii, kenapa malah hujan-hujanan." Aldrick yang tahu kebiasaan Sena heran. Karena sejak kecil jika Sena terkena air hujan gadis itu akan demam tinggi.


Bugh


"Kamu ngeselin.." Sena memukul lengan Ren.


"Sudah, jangan ribut." Bimo menengahi kebiasaan kedua anaknya itu jika bersama.


Mereka menunggu Sena, jika keadaannya cepat pulih dan stabil Sena langsung bisa pulang.


.


.


.


Aaron melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, dimana bayangan pria yang menggendong Sena selalu berkelebat di kepalanya.


Tidak, tidak mungkin jika pria kekasih Sena dan pria itu yang sudah membuatnya jauh dari Sena.


Tanpa tujuan Aaron mengendarai kuda besinya sampai di mansion sang kakek, entah kenapa tujuannya malah kesana.


"Den Aaron pulang." Ucap penjaga mansion.

__ADS_1


Aaron tidak menjawab melainkan memasuki halaman mansion setelah di bukakan pintu gerbang.


"Den Ar.." Sapa bibi yang senang melihat Aaron memasuki mansion mewah milik keluarga Lewis.


"Den Ar, kemana saja bibi kangen." Bik Asih memeluk Arron.


Dimana bik Asih adalah yang merawat Aaron sejak kecil hingga sekarang Bik Asih yang menyiapkan keperluan Aaron.


"Baik, Bik." Aaron tersenyum tipis.


"Pasti tuan Lewis senang melihat Aden pulang."


"Di mana kakek?"


"Di halaman belakang, biasa sedang main golf dan si botak."


Aaron berlalu pergi, menyusul kakeknya di halaman belakang.


Terlihat sang kakek memang sedang bermain golf dengan si botak, dimana orang yang tempo hari sudah Aaron bikin babak belur.


Mendekati kakeknya Aaron, hanya duduk di kursi malas yang menghadap pemandangan hamparan luar untuk area golf.


Bukanya tidak menyadari adanya orang yang datang dan memperhatikan nya, tapi kakek Lewis sengaja tidak memperdulikan cucunya yang sedang duduk menunggunya.


Karena kesal sang kakek tak kunjung istirahat, Aaron berdiri dan menghampiri kakeknya.


"Ck. Kakek sengaja tidak berhenti dan menemuiku." Aaron menatap sinis botak yang sedang menatapnya.


"Siapa kamu, aku harus menemuimu." jawab Kakek Lewis santai.


Aaron berkacak pinggang. "Aku cucu satu-satunya kakek, pewaris utama keluarga Lewis."


Kakek Lewis menaikan satu alisnya, menatap Aaron. "Kakek tidak punya cucu, semenjak seseorang yang pembangkang pergi dan sudah dengan suka rela keluar dari mansion dan tidak mau mengikuti peraturan ku." Kakek Lewis menatap tajam Arron.


Di mana membuat pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Kali ini dirinya akan menarik ucapanya sendiri, biarlah dia menjilat ludahnya sendiri asalkan rencananya kali ini akan berhasil. Demi merebut Sena dari pria kata, Aaron akan menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya.


"Ck. Itukan hanya bercanda kek, mana bisa Ar pergi ninggalin kakek yang Ar sayangi." Ucap Aaron dengan wajah tanpa dosanya, tidak bohong jika dirinya menyanyangi sang kakek, tapi karena sang Kakek selalu mendesaknya untuk menerima perjodohan Aaron menjadi kesal sendiri, dan memilih kabur.


"Hah.." Kakek Lewis menghela napas, "Kalaupun kamu merengek minta kakek kembalikan fasilitas kamu, tidak akan kakek kabulkan, kecuali dengan satu syarat." Kakek Lewis menatap Aaron tajam.


Aaron menarik napas dan memejamkan mata, biarlah dia menuruti kakek tua ini, asalkan rencana yang dia susun akan berhasil.


"Apa?"


"Kamu harus turuti semua ucapan kakek, dan tidak ada bantahan. Terutama tentang perjodohan."


"Tapi kek Ar sudah_"


Kakek Lewis mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Aaron dengan mata tajam.

__ADS_1


"Oke, aku akan turuti semua permintaan kakek." Aaron akhirnya pasrah, demi misi menjadi pria kaya untuk merebut Sen-Sen dari pria kaya yang sudah membuatnya emosi.


"Good boy." Kakek Lewis tersenyum lebar, mendengar Aaron yang mau menuruti semua permintaanya.


__ADS_2