Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part125


__ADS_3

Selama beberapa hari di rumah sakit, hari ini Alena diperbolehkan pulang.


"Kamu tidak ke kantor yank." Tanya Alena setelah duduk di kursi mobil. Bimo memasangkan sabuk pengaman Alena.


"Nanti setelah aku antar kamu pulang." Menghidupkan mesin, mobil Bimo bergerak keluar parkiran.


Sepanjang jalan keduanya hanya diam entah apa yang sedang keduanya pikirkan.


Alena yang merasa tidak enak ketika akan bertemu kembali dengan mama mertuanya, tapi suka tidak suka dirinya harus bersikap baik, apalagi demi mendapat restu. Pernikahan tanpa restu membuat Alena dilanda gelisah, meskipun keduanya saling mencintai tapi jika belum mendapat restu maka pernikahan mereka tidak akan bahagia, apalagi restu seorang ibu untuk putranya.


Setelah dua puluh menit mobil Bimo memasuki gerbang rumahnya yang di bukakan oleh Fandy.


"Sudah sampai, ayo turun." Bimo melepas sealtbeat nya dan punya Alena.


"Mas.." Alena menahan tangan suaminya.


Bimo menatap Alena dengan alis terangkat sebelah. "Kenapa sayang?"


Alena bingung harus bicara apa, dirinya ingin bilang masalah kemarin dirinya sampai sakit, tapi juga dirinya takut jika mengadu masalah mama Bimo.


Alena menggelang dan tersenyum. "Tidak apa-apa."


Keduanya keluar dari dalam mobil, dan berjalan beriringan menuju rumah.


Membuka pintu Alena di sambut dengan Mirna yang langsung memeluknya.


"Kamu sudah lebih baik, maaf mbak gak ada ketika kamu sakit." Mirna memeluk Alena dan mengusap Kepalanya.

__ADS_1


"Gak pa-pa mbak, Lena sudah gak pa-pa." Alena tersenyum membalas pelukan Mirna.


Bimo yang melihat itu hanya tersenyum, beruntung orang terdekat istrinya begitu menyayangi nya.


"Ayo masuk, kamu juga masih perlu banyak istirahat." Bimo merangkul bahu Alena membawanya masuk kedalam.


Mata Alena berkeliling melihat sekitar, biasanya ada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Kamu mencari siapa sayang." Bimo yang menyadari tatapan istrinya bertanya.


"Emm.. Mama dimana Mas?" Tanya Alena ragu.


"Mama sudah pulang kerumahnya." Jawab Bimo santai, dan kembali melanjutkan langkahnya membawa Alena naik ke atas tangga menuju kamarnya.


"Maksud kamu." Tanya nya lagi untuk memperjelas, karena tidak mungkin jika Bimo mengusir Mamanya sendiri.


Bimo menghela napas sebelum menjawab.


"Ohh..jadi papa sudah pulang." Alena duduk di pinggiran ranjang. "Tapi bukan karena kamu kan Mama pergi?"


Bimo menatap Alena intens. "Memangnya untuk apa aku mengusir Mama dari sini." matanya tak pindah dari wajah Alena yang menjadi bingung. "Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Tangannya menyentuh dagu Alena ketika wajahnya menunduk.


"Tidak ada." Kepalanya menggelang.


"Lalu kenapa wajah kamu seperti sedang menyembunyikan sesuatu." Ucapnya lagi dengan mendekatkan wajahnya semakin dekat.


"Aku..Emph.." Ucapan Alena tenggelam dengan seiring bibirnya yang di ***** Bimo.

__ADS_1


Sedikit luamattan dan ******* keduanya beradu mengecap bibir dengan lembut.


"Katakan jika sedang tidak baik-baik saja." Matanya menatap lekat bola mata coklat Alena, jarinya mengusap lembut bibir bawah Alena yang basah.


Alena hanya mengangguk, dengan menatap wajah suaminya.


Pikir nya Bimo yang mengusir Mamanya dari rumah ini, tapi jika dipikir lagi, apakah tega suaminya mengusir Mamanya sendiri, rasanya pun tidak mungkin, karena Bimo adalah anak yang tidak bisa menyakiti hati mamanya.


'Maaf sayang, ini semua demi kamu..kamu adalah bahagia ku, tidak mungkin aku bisa melihat wanitaku tersakiti dirumahnya sendiri.' Ucapnya dalam hati.


Tanpa Alena tahu, Bimo lah yang meminta Mamanya pergi dari rumahnya. Meskipun tidak tega dan sampai hati, tapi perbuatan Mamanya sudah keterlaluan.


Bahkan Bimo juga memberi tahu jika rumah yang Ia tinggali adalah rumah Alena, bukan rumahnya sendiri. Ketika tahu mamanya mengundang teman sosialitanya apalagi melihat rumah berantakan sudah membuatnya kesal, dan di tambah Ia menemukan Alena pingsan di dalam kamar mandi dan itu di sebabkan karena Alena tidak makan seharian.


Sungguh yang terjadi dirumahnya mampu membuat amarahnya meledak hingga tanpa sadar membentak mamanya hingga menangis.


Penyesalan tentu saja datang di akhir, Bimo menyadari sikapnya yang keterlaluan pada sang Mama, tapi dirinya juga tidak bisa melihat istrinya terus tersakiti. Jika belum bisa merestui setidaknya tidak perlu menyakiti batin Alena, wanita yang sudah Ia perjuangan kan cinta dan kebahagiaanya.


"Kamu melamun." Tanya Alena menyentuh pipi suaminya.


"Em..tidak aku hanya merindukan mu." Bimo tersenyum dan mengecup bibir Alena sekilas.


"Setiap hari masih bertemu, tapi masih bilang rindu." Mata Alena memincing melihat senyum suaminya.


"Bertemu tapi tidak melakukan apa-apa menurutku ada yang kurang, dan rindu itu bisa setiap waktu, jam dan bahkan detik." Tangan nya meraih tubuh Alena untuk dirinya peluk.


"Sekarang kamu pinter gombal." Alena mengulum senyum. Pria dingin dan cuek itu kini bisa bermulut manis.

__ADS_1


"Hanya gombal pada istri sendiri tidak dengan wanita lain." Terkekeh Bimo menciumi pucuk kepala Alena.


Keduanya sama-sama berpelukan, hatinya mulai menghangat ketika orang yang dicintainya kembali dalam pelukannya, meskipun bertemu dan bertatap muka tanpa bisa melakukan sesuatu seperti ada yang kurang menurut pria dingin yang sudah candu oleh istrinya.


__ADS_2