Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part149


__ADS_3

"Jadi Mas yang membeli pabrik pak David?" Tanya Alena pada Bimo yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur.


"Iya sayang." Ucapnya. matanya masih dengan fokus pada tab di tangannya, karena dirinya sedang mengecek email dari Daniel tentang pekerjaan nya di Jakarta.


"Apa tidak jauh dari Jakarta jika mas membeli pabrik disini." Tanya Alena lagi yang sudah berdiri di samping suaminya.


Bimo mengajak Alena untuk menginap di hotel yang Ia tempati. Dan dengan tidak berperasaan dirinya mengusir Yuda ketika pria itu sedang asik terlelap di ranjang nya.


Yuda yang merasa kesal dan tak bisa membantah pun, memilih memesan kamar sendiri.


"Tidak sayang, Aku pasti akan mencari orang yang bisa dipercaya untuk mengelola pabrik itu." Bimo tersenyum menatap istrinya.


"Em.."Alena hanya mengangguk. "Kapan mas akan pulang ke Jakarta." Tanyanya yang sudah duduk di pangkuan Bimo, setelah pria itu menyelesaikan kegiatanya dan menaruh tabletnya di atas meja.


"Kapan kamu mau ikut." Bimo mencium perut Alena sayang. "Mereka pasti senang melihat kamu sedang mengandung, percayalah semua sudah baik-baik saja." Ucapnya mengapa Alena untuk menyakinkan.


Dirinya tahu jika Alena masih merasa takut dan ragu untuk kembali ke Jakarta.


"Apa Mama akan menerimaku?" Ucapnya lirih.


Tersenyum membingkai wajah Alena yang selalu membuat nya rindu." Tentu saja, Mama akan menerima kehadiranmu dan cucu-cucu nya."

__ADS_1


Alena tersenyum, tangannya meraih tangan Bimo yang masih di pipinya. "Kapanpun kamu kembali aku akan ikut." Senyum tulus mengembang dari bibirnya, membuat dada Bimo berdebar.


"Terima kasih." Kecupan dalam Bimo berikan di keningnya.


"Apa aku boleh mengunjungi mereka lagi." Bimo tersenyum tipis tipis menatap Alena yang tersipu malu.


"Kenapa harus malu, sekarang ada mereka di dalam sana, jadi aku harus minta ijin dulu sama mamanya."


Alena malah tertawa mendengar ucapan Bimo." Kamu ada-ada aja Mas." Memukul bahu Bimo pelan.


"Baiklah, papa akan jenguk kalian, ini adalah hukuman untuk Mamamu yang sudah meninggalkan papa selama delapan bulan." Bimo bicara di atas perut buncit Alena.


"I love you." Bimo langsung mellumat bibir Alena dalam, sapuan lidahnya menyusuri area bibir Alena.


Menyesap dan mellumat benda kenyal itu seakan tak kan pernah bosan, bahkan ingin lagi dan lagi.


Menyusupkan lidahnya kedalam mulut Alena mengapsen setiap rongga dan meng-obrak abrik nya di dalam sana.


"Mas..engh.." Alena meleguh ketika dirinya merasakan tubuhnya semakin panas mendapat sentuhan tangan dan bibir basah Bimo di sekujur tubuhnya, karena dirinya kini sudah polos tak menggunakan apapun.


"Ahh.." Alena mendessah ketika dua bukitnya di remas dan dipilin bersamaan, rasanya begitu geli dan membuat candu.

__ADS_1


"Engh..sah..Mas aku gak kuat." Ucap Alena, kepalanya mendongak untuk melihat Bimo di bawah sana.


Tusukan lidah hangat nya terasa menggelitik hingga dirinya tak kuasa akan meledakkan sesuatu dari dalam tubuhnya.


"Mas..argh.." Alena mengerang keras ketika miliknya berkedut kencang.


Napasnya memburu dengan dada naik turun, wajahnya basah oleh keringat.


Cup


Bimo mengecup kening Alena. "Mau posisi seperti apa?" Tanya nya dengan mata yang sudah penuh gairah, karena miliknya di bawah sana sudah tegang sejak tadi.


"Em.." Alena merasa malu, tapi sedetik kemudian dirinya bangkit dan duduk di atas tubuh suaminya.


"you are so hot dear.." Ucap Bimo membuat Alena tersenyum nakal.


"Service for papa twins...." Alena menggigit bibir bawahnya terlihat sangat seksih di mata Bimo.


"Alright...my beloved wife.." Bimo tersenyum puas melihat Alena yang begitu agresif.


"Ah.." Keduanya mendessah bersama ketika penyatuan itu datang. Bergerak untuk mendapat kenikmatan keduanya terus mendessah dan menggerang bersamaan. Kamar hotel itu terasa panas bahkan AC yang menyala tak mampu mendinginkan gairah keduanya yang sedang mereguk kenikmatan dunia.

__ADS_1


__ADS_2