Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part150


__ADS_3

Alena Sudah siap dengan pakaian rapinya niatnya hari ini dirinya akan berpamitan dengan Weni untuk pulang ke Jakarta esok.


Melihat ke ranjang pria yang tadi malam sudah Ia buat puas pun masih terlelap, setelah bangun ketika subuh, dan Bimo kembali melanjutkan tidurnya.


Alena tersenyum, berdiri dari kursi meja riasnya mendekati Bimo yang masih tidur tengkurap.


"Sayang...Sudah siang." Alena mengelus rambut Bimo.


Tidak ada reaksi dari Bimo membuat Alena gemas. "Lelah banget ya, sampe gak ngerespon di panggil."


Alena menunduk untuk mencium pelipis suaminya, lalu berbisik di telinga nya. "Papa twins ayo bangun, nanti mama tinggal loh." Ucap Alena dengan terkikik sendiri.


Benar saja Bimo langsung membuka matanya dan duduk di hadapan Alena.


"Kamu mau kemana sayang." Bimo dengan muka bantalnya menatap Alena lekat.


"Pergilah, ngapain nungguin orang tidur kaya kebo." Alena berucap dengan nada di buat kesal.


"Ck, jangan bercanda, jangan tinggalin aku lagi." Bimo meraih pinggang semelehoi Alena yang tidak ramping lagi, dan memeluknya.


"Mandi gih sana, aku mau ke kedai sekalian mau pamit sama Bu Weni Mas, besok kan kita pulang ke Jakarta." Alena mengusap kepala Bimo yang berada di samping perutnya.


"Baiklah." Bimo pun menurut dan langsung beranjak menuju kamar mandi.


"Lihatlah papa mu nak, begitu takut jika Mama tinggalkan." Alena mengelus perut nya. "Takdir mama siapa yang tahu."

__ADS_1


.


.


Keduanya sampai di kedai di jam sepuluh siang, setelah banyak drama dari Bimo yang masih ingin berduaan dengan dirinya. Padahal jelas Alena akan bersama dirinya karena mereka akan pulang ke Jakarta bersama.


"Ibu.." Alena memanggil Weni ketika sampai di dalam dan melihat Weni berada di meja kasir.


"Nak, kamu baru sampai." Tanya Weni yang melihat Alena dengan tersenyum.


"Iya Bu, maaf Alena kesiangan karena_" Alena menatap tajam Bimo di belakangnya yang terlihat biasa saja tanpa rasa bersalah.


Weni tang mengerti hanya tersenyum tipis. "Tidak apa, lagian sudah biasa ibu sendiri sebelum ada kamu." Weni mengelus perut Alena. "Apa mereka baik-baik saja." Weni melirik kedua orang yang saling melirik satu sama lain itu.


"Baguslah, tidak apa sering-sering berhubungan ketika usia kandungan semakin mendekati persalinan karena itu salah satu upaya untuk mempermudah jalan lahir si kembar nanti." Weni bicara tanpa rasa malu, berbeda dengan tersangkanya yang sejak tadi wajah mereka sudah merah menahan malu.


"Ibu.." Alena merasa sangat malu, apalagi ini di kedai pasti ada orang lain yang mendengarnya.


Bimo hanya diam dengan gaya cool nya, menutupi rasa malunya dengan sikapnya yang cuek.


"Tumben ada apa nak, kok ngajakin ibu ngobrol, ada yang penting." Tanya Weni ketika sudah duduk berhadapan dengan Alena dan Bimo.


Alena menatap Bimo sekilas dan melihat pria itu mengangguk.


"Begini Bu, Lena mau pamit sama ibu, kalau besok Lena akan pulang ke Jakarta." Alena meremat tangan Weni lembut yang berada di atas meja. "Lena minta maaf jika Lena sudah menyusahkan ibu dan berbuat salah, tanpa pertolongan ibu Lena tidak tahu bagaimana nasib Lena." Alena menatap sendu Weni yang hanya diam, belum merespon ucapnya.

__ADS_1


"Lena berterima kasih banyak sama ibu, karena sudah di ijinkan untuk membantu ibu disini." Lanjutnya lagi setelah menguasai dirinya yang mulai terbawa suasana sedih.


Bimo mengelus punggung istrinya, untuk menguatkan perasaanya. "Saya juga mengucapkan banyak terima kasih sama ibu, karena sudah menolong istri saya." Bimo juga berkata dengan tulus berterima kasih pada Weni.


"Ibu tidak berhak untuk melarang kamu pergi Lena, meskipun kamu sudah ibu anggap sebagai Putri ibu sendiri, dan ibu juga berterima kasih karena berkat kamu kedai ibu jadi ramai dari sebelumnya." Weni menjatuhkan air matanya dirinya merasa sedih ketika Alena akan kembali ke Jakarta dengan suaminya.


"Kapan kalian akan pergi." Tanya Weni setelah mereka saling terdiam dengan perasaan sedih.


"Besok pagi kami akan berangkat." Jawab Bimo yang masih memeluk bahu istrinya dari samping.


"Baiklah kalau begitu, ibu hanya bisa mendoakan kalian semoga selalu baik-baik saja di sana dan selalu bahagia."


Alena tersenyum dan memeluk Weni dengan erat. "Terima kasih Bu."


"Dan jaga cucu-cucu ku dengan baik, dan kamu sebagai suami adalah tanggung jawab-mu untuk menjaga istri dan anak-anak mu apapun keadaanya." Weni menatap Bimo dengan serius.


"Saya janji Bu, akan menjaga mereka semua, karena mereka adalah hidup mati saya." Bimo berkata dengan tegas.


Weni hanya mengangguk dan memeluk Alena kembali.


"Jangan luapkan ibu di sini ya, jika ada waktu mainlah kesini, ibu akan selalu menunggu kedatangan kalian." Weni mengusap air matanya.


"Iya, Bu Alena tidak akan melupakan ibu disini."


Bimo merasa bahagia, beruntung karena istrinya di kelilingi orang-orang baik di manapun dia berada dan itu membuatnya merasa harus semakin menjaga Alena. Dirinya tidak ingin kedua kali nya di tinggalkan oleh Alena cukup sekali dunianya sempat berhenti.

__ADS_1


__ADS_2