
Acara makan keluarga begitu hangat, apalagi ada Glen yang selalu bermain dengan si kembar, anak usia sepuluh tahun itu begitu menyukai sepupunya.
"Sepertinya kalian harus memberikan adik untuk Glen." Ucap Bimo yang duduk disofa single, sedangkan Alisa bersebelahan dengan Gio suaminya, disebelah Alisa ada Sena dan Aaron, mereka berempat duduk di sofa panjang. Sedangkan Alexa dan Ren duduk di sofa cukup dua orang.
"Masih proses kak, kalau masalah membuat itu sudah setiap hari." jawab Glen yang mendapat tatapan mata dari istrinya Alisa.
"Ya, ya..kalian masih muda seharusnya memikirkan keturunan yang banyak." Bimo terkekeh. "Tidak seperti aku yang tidak memiliki saudara, jadi..yak sepi." Ungkapnya dengan santai. Menjadi anak tunggal juga tidak enak. Semua beban dan tanggung jawab dia sendiri yang memukulnya.
"Ya, memang tidak enak. Papa benar." Arron yang juga anak tunggal dan cucu tunggal menimpali.
Dirinya juga merasa hidupnya terkekang dan masa remaja hanya dihabiskan untuk belajar dunia bisnis di usianya yang masih muda, dan itu sering menyebutnya kabur-kaburan.
Alexa hanya menyimak, dirinya termasuk juga anak tunggal tapi dia bukan dari kelaurga kaya raya seperti mereka.
"Pengennya sih, gitu tapi kalau Tuhan belum kasih mau gimana. Nyetak sama ngadon udah tiap hari." Celetuk Alisa membuat mereka tertawa.
"Bibi mungkin kurang bahan jadi tidak gampang jadi." Ledek Sena dengan tertawa.
"Kamu pikir bikin donat kurang bahan." Alisa melirik keponakanya sinis.
"Ya mungkin, buktinya Glen segede itu belum punya adik." Sena cekikikan.
"Sayang.." Aaron memperingati Sena, agar tidak jahil.
"Halah, kamu aja yang beruntung langsung punya kembar. Liat aja besok aku akan punya kembar cewek biar kamu gigit jari." Alisa mengerucutkan bibirnya sebal, dan berdiri menghampiri putranya yang sedang bermain dengan kedua bayi gembar yang asih bermain di atas karpet bulu ditemani pengasuh.
"Kamu suka sekali membuat bibimu kesal." Bimo geleng kepala. Putrinya itu sejak kecil suka berdebat dengan Alisa. Mereka sudah seperti anjing dan kucing. Berbeda dengan Ren yang selalu membuat Alisa gemas.
.
.
Pagi ini Alexa dan Ren seperti biasa pergi ke kantor bersama. Alexa masih diijinkan ke kantor sampai usia kandungannya berumur tujuh bulan, dan Ren tidak menginginkan Alexa masuk kerja lagi.
Alexa pun menurut, wanita itu kini menjadi penurut setelah satu Minggu di tinggal suaminya gara-gara berselisih.
Padahal karena memang Ren ada pekerjaan yang harus di selesaikan dan tidak berniat meninggalkan Alexa dalam keadaan yang kurang baik. Dan itu memberi pelajaran untuk Alexa agar tidak egois.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai tujuh, Alexa lebih dulu keluar.
__ADS_1
"Aku kerja dulu Mas." Alexa terseyum.
Ren memajukan tubuhnya, mencium kening dan melumatt bibir merah Alexa sekilas.
"Ya, hati-hati. Nanti siang kita makan di luar." Ren mengusap kepala Alexa pelan. Beruntung tidak ada yang melihat acara Ren yang melumatt bibir Alexa. Jika ada pasti mata mereka sudah tercemar tak bersih lagi.
"Oke." Alexa pun tersenyum, dan melambaikan tangan setelah Ren masuk kembali ke dalam lift.
Memasuki ruangannya Alexa disambut dengan wajah cemberut Mita. Wanita kepala tiga itu menatap Alexa dengan wajah masam.
Alexa yang masih ingat, hanya melengos wanita hamil itu pura-pura marah karena ulah Mita kemarin pagi.
"Lexa, jangan potong gaji dong, aku kan gak sengaja. Nomor kamu kepencet." Mita menghampiri kursi Alexa. Semalaman dirinya tidak bisa tidur karena memikirkan gajinya yang akan di potong.
Mita yang ketakutan dikiranya benar mencoba untuk membujuk Alexa.
"Ayodong jangan gitu lah, kita kan bestie. Kamu sudah aku anggap adik sendiri." Mita masih memohon wanita beranak dua itu tidak akan bisa diam sebelum Alexa membatalkan ucapanya.
Gesya hanya diam, menahan tawa. Mana mungkin Alexa tega berbuat seperti itu. Menyakiti hewan saja dia tidak berani.
Alexa pura-pura sibuk, biarkan saja Mita merasa bersalah. Alexa hanya menahan tawa.
Mana mungkin dia tega memangkas rezeki orang. Mitanya aja yang baperan dan usil, Syukurin.
"Lex, maafin ya. Apapun deh akan aku turuti asal jangan dipotong gaji aku ya." Mita terus membujuk.
Mendengar ucapan Mita, tiba-tiba Alexa punya ide.
"Boleh, asal mbak mau nuruti permintaan aku." Alexa menatap Mita dengan senyum, senyum penuh arti.
Jam istirahat jika semua difisi tujuh makan di kantin, kini semua nampak masih duduk di kursinya masing-masing. Kecuali Alexa yang sudah berdiri menunggu di pintu bersama suaminya.
"Sayang kenapa kamu tega sama temen kamu." Ucap Ren yang tidak habis fikir dengan istrinya yang mengerjai Mita.
"Biar mbak Mita kapok, lagian main-main kok sama ibu hamil." Alexa terseyum lebar ketika melihat Mita yang baru saja keluar dari pintu lift berjalan mendekatinya.
Wajah Mita yang masam berubah menjadi senyum paksa, gara-gara keusilannya, Alexa membalasnya.
"Nah, berhubung mbak Mita sudah datang kalian boleh minta jatah kalian ke mbak Mita. Tenang aja semua gratis hanya saja." Alexa melirik Mita yang sudah memonyongkan bibirnya. "Mbak mita yang akan membayar."
"Lexa..!!" Mita melotot.
__ADS_1
"Heee, becanda. Semua aku yang traktir, tapi maaf loh mbak sudah ngerepotin." Alexa tersenyum dan mencium pipi Mita.
"Emmmm, Lexa gemes." Mita mencubit kedua pipi Alexa, membuat mereka tertawa.
Ren hanya geleng kepala, ibu hamil memang banyak tingkahnya.
"Ayo." Ren mengandeng tangan istrinya untuk keluar kantor, mencari makanan yang Alexa mau.
Rujak cingur?
Entah makanan apa itu, dan Ren tidak tahu makanakan sejenis itu.
"Mas aku mau rujak buah."
Ren menoleh ke arah istrinya, "Rujak cingur?"
Alexa menggeleng, keduanya masih berada di dalam lift. "Tidak, aku ingin rujak buah dicampur eskrim."
Dikira rujak buah biasa, tapi ini?
Ren geleng kepala, ingin protes takut bayinya ileran, mau marah takut ngak dikasih jatah. Mau diturutin permintaan semakin aneh, gak diturutin dikira gak sayang.
Wes Ance wong wedok selalu bener.😂
"Apapun, asal jangan minta yang tidak ada di dunia ini." Ren pasrah dengan senyumnya.
Alexa semakin melebarkan senyum, beruntung memiliki suami seperti Ren, dan dicintai oleh suaminya
"Tidak akan, karena aku yakin kamu tidak akan bisa mendapatkannya." Alexa tertawa, terkadang suaminya itu terlalu baik hingga dirinya lupa untuk tidak terlalu mendominasi dan menang sendiri.
"Hm, setelah ini aku dapat apa?"
Mereka keluar dari lift, menuju lobby mobilnya sudah terparkir didepan lobby.
"Hmmm, apa ya.." Alexa nampak berpikir.
Ren membukakan pintu untuk sang Istri. "Satu ronde di dalam mobil." Bisik Ren ketika Alexa baru saja duduk.
Alexa membulatkan kedua matanya.
Brak
__ADS_1
Ren langsung menutup pintu mobil.