Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Bertemu teman


__ADS_3

Brak


Pintu ruangan Ren terbuka lebar membuat Alexa mundur dengan cepat.


"Sayang, aku mohon jangan tinggalin aku." Jihan yang diseret Ren keluar masih saja merengek untuk dikasihani.


"Sudah aku bilang, jangan pernah tunjukan wajah kamu di hadapanku lagi." Ren menatap tajam Jihan dengan menghempaskan yanganya yang dirangkul Jihan.


"Apa salah aku sayang, aku cinta sama kamu." Jihan mengeluarkan air matanya untuk menarik perhatian Ren kembali, meskipun ada orang yang melihat dirinya tidak malu yang penting bisa mendapatkan Ren kembali.


"Cih, cinta apa yang kamu bilang, bercinta dengan pria lain." Ren menatap Jihan sinis. "Sekarang pergilah sebelum aku berlaku kasar padamu." Ren menghindar ketika Jihan ingin meraihnya kembali dan dirinya lebih memilih menarik tangan Alexa untuk dia bawa masuk keruanganya.


"Ren, tunggu Ren kenapa kamu bawa wanita murahan itu."


Brak


Jihan yang kaget langsung diam ditempat ketika pintu besar yang hampir saja menghantam wajahnya. "Ah, wanita sialan.!!" Jihan mengumpat kasar dengan napas naik turun, susah-susah dirinya menyamar agar bisa masuk ke gedung kantor milik Ren, tapi usahanya sia-sia jika Ren malah memilih wanita lain.


"Liat saja apa yang akan aku lakukan." Jihan tersenyum menyeringai, lalu pergi meninggalkan gedung dengan perasaan kesal dan marah.

__ADS_1


"Sayang, kenapa wajah kamu masam begitu?" Ren menyentuh wajah Alexa. Kini keduanya duduk di sofa.


Alexa hanya diam dengan wajah datarnya, dirinya masih kesal dan malas untuk bicara.


Ren menatap wajah istrinya dengan lekat. "Kamu tahu kan kalau aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Jihan, dan kamu juga tahu kalau aku sangat mencintaimu." Ren menyentuh kedua tangan Alexa, membuat Alexa menatap wajah suaminya yang awalnya membuang muka. "Percayalah." Ren mengecup tangan sang istri.


Alexa hanya menghela napas, dirinya percaya jika sang suami tidak mungkin berbohong, tapi kedatangan Jihan hari ini cukup membuatnya kesal. Apalagi nenek sihir itu berani menganiayanya.


"Baiklah, aku percaya." Ucapnya dengan menampilkan senyum.


"Meskipun banyak Jihan yang lain, percayalah hanya Alexa yang aku mau." Ren memeluk tubuh sang istri.


.


.


"Cih, awas saja kalau ketemu gue lagi, gue bakalan kasih dia pelajaran."


Prang

__ADS_1


"Auwss..Panas." Maura yang mengomel tidak melihat jalan, dan dirinya menabrak seseorang yang sedang membawa makanan panas.


"Lu kalau jalan bisa gak sih pakai mata." Orang yang ditabraknya bicara dengan nada emosi.


Maura mendongak, dan dirinya melihat wanita yang sangat dia kenal. "Jihan, Jihan Ameera?" Ucap Maura dengan wajah tak percaya.


Jihan membulatkan kedua matanya, ketika melihat sahabat lamanya. "Maura, Maura Putri." Dan Maura pun mengangguk.


Mereka saling berpelukkan, "Ya, ampun gue gak nyangka bisa ketemu lu lagi." Maura berucap dengan memeluk Jihan, dirinya sudah bertahun-tahun kehilangan komunikasi dengan Jihan semenjak Jihan pindah sekolah.


"Sorry, gue yang menghilang tanpa kabar."


Mereka pun duduk di meja yang kosong disebuah cafe.


Jihan dan Maura adalah teman sekolah dulu, sebelum Jihan memutuskan untuk pindah sekolah karena kedua orang tuanya, dan Jihan satu sekolahan dengan Birendra. Jihan yang dulu memang gadis ramah dan baik, seiring berjalanya waktu dan kehidupan yang menuntutnya, makan jadilah Jihan yang sekarang.


"Gila lu tambah cantik dan glowing aja sih." Ucap Maura antusias.


"Bisa aja lu, gue kerja demi memenuhi kebutuhan gue dong." Jihan tersenyum menyeringai menatap Maura dengan penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2