Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Seperti yang di katakan Arron, setelah seharian di apartemen Sena. Pria itu tidak menampakan batang hidung nya lagi. Di pabrik pun Aaron atau lebih di kenal dengan Ryan itu ternyata sudah resign.


Seharian di apartemen Sena di buat sakit kepala oleh tingkah pria gila itu, ada saja yang membuatnya tidak bisa mengusir nya dari apartemen.


Meskipun dalam hati Sena juga terhibur dengan kelakuan Aaron yang begitu pecicilan tidak sesuai dengan tubuh besar dan umurnya yang lebih tua darinya.


"Sen-sen... jangan pasang wajah seperti itu, biasa saja sudah membuatku terpesona..apalagi melihat wajah imut mu seperti itu, jantung aku gak kuat sayang.."


Sena yang mendengar gombalan Aaron hanya bisa mengelus dada dan tidak memperdulikan, tapi lama-lama membuatnya tak tahan juga.


"Jika kamu tidak mau pergi, maka jangan salahkan aku jika milik mu itu tinggal tunas." Sena mendelik menatap bawah perut Aaron.


"Astaga, kenapa semua menginginkan aset milik ku sebagai ancaman, apa kamu mau melihatnya dulu sayang, sebelum menjadi tunas?" Aaron menaik turunkan alisnya untuk menggoda Sena.


"Cih.. produk lokal aja bangga..." Sena melengos ketika melihat wajah Aaron yang begitu mesum.


"Lah..belum tahu, udah menghujat duluan.." Aaron berjalan mendekati Sena, dengan senyum iblis Aaron membuka ikat pinggangnya.


"Bisa kamu lihat apakah dia produk lokalan?" Aaron langsung berdiri di depan wajah Sena yang sedang duduk. reflek Sena langsung menutup matanya ketika melihat ikat pinggang Aaron terlepas.


"Dasar pria gila mesum..!!" Sena berteriak sekerasnya, membuat Aaron tertawa terbahak-bahak.


"Kak, kak Sena..!" Kemal menyentak lengan Sena, ketika wanita itu tak merespon panggilannya.


"Kakak melamun?"


"Em.." Sena cepat-cepat menggeleng.


"Sepertinya ada yang mengganggu pikiran kakak, apa kak Sena merindukan Om Bimo dan Ren."


Kemal hanya menebak, karena sejak dirinya masuk ke ruangan, Kemal melihat Sena yang sedang melamun.


"Mungkin, karena sudah satu bulan lebih aku belum bertemu papa." Ucap Sena mengiyakan apa yang Kemal pikirkan.


Padahal dirinya membayangkan kejadian di apartemen nya seminggu lalu, ketika pria mesum dan gila itu berada bersamanya seharian.


Meskipun tidak terjadi apa-apa, dan mereka pun bukan pasangan tapi Sena melihat ketulusan dan kebaikan Aaron.

__ADS_1


"Kak kau melamun lagi..?"


"Ya Ar.." Ucap Sena sepontan.


"Ar? siapa Ar..?" Tanya Kemal memincing.


"Ah..itu..em teman kakak yang di Jakarta." Sena nampak gugup, merutuki dirinya sendiri kenapa bisa keceplosan.


"Lusa Weekand, dan Senin tanggal merah, apa kak Sena mau pulang ke Jakarta?" Tawar Kemal, karena memang weekend ini lumayan tiga hari libur.


"Eh.. aku tidak tahu jika Senin libur?" Sena melihat kalender di atas mejanya. "Ya..tuhan benar." Ucapnya sambil terkekeh.


"Kakak terlalu sibuk, jadi lupa segalanya."


"Kamu benar Mal." Sena hanya tersenyum tipis. "Baiklah, aku akan berikan kejutan untuk papa dan Ren."


.


.


"Bagaimana tuan, apa bisa kami mengajukan kontrak kerja sama?" Tanya pria muda dengan pakaian jas rapi.


Pria itu menghela napas lelah, dirinya sudah berusaha membuat proposal yang lain dari pada yang lain, tapi tidak bisa juga mendapatkan kerja sama yang di sepakati oleh kakeknya.


Aaron pun hanya pasrah, dirinya membenarkan ucapan sang kakek jika menaklukan Bimo Bagaskara adalah hal yang sulit.


"Apa anda sudah yakin tidak bisa menerima proposal kerja sama ini, padahal keuntungan untuk perusahaan anda cukup besar loh." Ucap Aaron lagi untuk menyakinkan.


Bimo hanya menggeleng, tubuhnya Ia sandarkan di punggung kursi.


"Saya akui, ide yang kamu buat cukup menarik dan pasti akan membuat bisnis itu maju pesat." Ucapnya santai menatap pria muda di depannya, sebenarnya dirinya sudah sangat takjub melihat isi proposal perjanjian kerja sama itu, ide yang Aaron tuangkan begitu brilian dan cemerlang, tapi dirinya sudah terikat janji dengan seseorang, untuk tidak memudahkan pria muda itu begitu mudah mendapat persetujuan.


"Lalu kenapa anda masih menolaknya?" Ucap Aaron sedikit geram dan frustasi. Karena ini adalah pokok misi dari kerjasama sang kakek. Dan jika berhasil dirinya akan bebas untuk melakukan apapun.


"Ada satu poin penting yang tidak ada di dalam berkas itu, dan sayang sekali karena itu saya tidak bisa menerima." Ucapan Bimo hanya Alibi saja, entah apa maksud dan tujuan orang itu untuk tidak menerima kontrak kerja dengan pria di depannya ini, padahal ide yang di tuangkan nya pun begitu memuaskan.


"Baiklah, mungkin saya akan bekerja keras lagi untuk menambahkan poin penting itu." Aaron berdiri, di ikuti asisten nya. "Saya permisi, lain kali pasti saya akan datang lagi, jika sudah menemukan poin penting yang seperti anda katakan tadi." Ucap Aaron sedikit ketus.

__ADS_1


Birendra yang sejak tadi hanya diam menahan tawa, melihat pria yang sedang menahan kesal di depan papanya itu.


"Baiklah, semoga kamu bisa menemukannya." Ucap Bimo datar.


Mereka saling berjabat tangan, Aaron pun keluar di antar oleh Ren.


"Terimakasih atas kunjungan anda kemari tuan Lewis." Ucap Ren hormat, dengan menunduk.


"Hm.." Tanpa wajah ramah Aaron segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol agar segera tertutup.


"Bahahaha.." Ren meledakan tawarnya ketika pintu lift itu benar-benar tertutup rapat.


Plak


"Kamu kesurupan Ren.." Aileen yang berada di belakang Ren, memukul kening pria itu.


"Apa'an sih kak, sakit tau." Ucapnya menatap Ai sengit.


"Lah, kamu tiba-tiba ketawa kenceng gitu, kan dikira kesurupan Ren." Aileen tanpa rasa bersalah malah membaca mantra dan mengusapkannya kewajah Birendra.


"Kak Aii..!!" Teriak Ren murka, dengan wajah menahan amarah.


"Duh, banteng serigala ngamuk." Aileen yang melihat wajah murka Ren segera berlari menyelamatkan diri.


"Dasar Aileen sedeng." Ren mengumpat.


Bimo duduk di kursi kebesarannya dengan memandangi bingkai foto yang selama dua puluh tiga tahun ini menemaninya bekerja.


Foto pernikahannya yang masih sama, ada benda tespec di dalam bingkai foto mereka.


"Kenapa takdir begitu cepat memisahkan kita sayang." Jemarinya mengelus wajah Alena di bingkai foto itu. "Bahkan aku tidak diijinkan mengenal dan menjagamu lebih lama." Air mata menggenang di pelupuk matanya.


"Seandainya waktu bisa aku putar, aku lebih memilih menggantikan dirimu."Tak kuasa membendung, air matanya jatuh juga. "Anak-anak kita butuh seorang ibu, mereka sama sekali tidak merasakan bagaimana rasanya di sayangi seorang ibu, meskipun banyak orang yang menyanyangi mereka..percayalah mereka begitu kuat hanya untuk membuatku agar tidak sedih." Bimo memeluk bingkai foto itu ke dekapannya dengan mata terpejam mengalir air mata.


Di balik pintu, dada Ren begitu sesak melihat dan mendengar kesedihan yang papanya rasakan.


Selama ini mereka selalu melihat sisi kuat dan tegar sang ayah, tanpa mereka tahu ternyata papa mereka menyembunyikan kesedihan itu dari mereka.

__ADS_1


"Papa, Ren janji tidak akan membuat papa kecewa." Ren menghapus air matanya. "Ren dan kak Sena akan selalu ada untuk papa, terimakasih sudah menggantikan Mama selama ini..kalian adalah orang tua terhebat kami."


__ADS_2