Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part111


__ADS_3

"Mama.." Bimo yang baru keluar dari kamarnya mendapati mamanya yang duduk di sofa ruang kerjanya.


Leina tersenyum melihat putranya.


"Mama kesini mau ajak kamu makan siang." Ucapnya mendekati Bimo yang masih berdiri.


"Boleh, sekalian Bimo ajak Alena." Jawabnya dengan mengambil gagang telpon untuk menghubungi Alena dari pantry.


Leina hanya memutar bola matanya malas, namun dirinya tidak melarang Bimo untuk mengajak Alena.


"Mama hanya sendirian?" Tanya nya lagi setelah meletakkan gagang telepon.


"Hm..papa kamu sibuk dengan urusannya, Mama bosan." Ucap Leina.


Leina sengaja tidak memberi tahu suaminya jika akan makan bersama putranya.


"Papa sudah pensiun tapi masih saja sibuk."


"Ya, itulah papamu."


Tak lama pintu ruangannya diketuk dan Alena masuk dengan sudah berganti pakaian.


Leina menatap malas melihat menantu yang tak diharapkan itu muncul didepanya.


"Sayang, kita makan di luar dengan Mama." Ucap Bimo merangkul pundak Alena.


Alena hanya mengangguk menatap sekilas ibu mertuanya, namun Leina seolah enggan untuk menatapnya.


'Sabar Len..'


"Mas, kamu duluan..gak enak kalau diliat banyak karyawan." Ucap Alena mengingatkan Bimo.


Sejauh ini Alena selalu menolak jika Bimo ingin membuatkan pesta pernikahannya dan mengumumkan kepada keryawan kantor nya, karena Alena masih ingin merebut hati ibu mertuanya untuk menerima dirinya lebih dulu. Dirinya tidak ingin membuat keluarga Bimo malu karena pasti akan ada berita miring tentang Mama Bimo yang belum bisa menerima dirinya.


Bimo yang mengerti maksud istrinya pun mengiyakan meskipun dirinya tidak yakin akan menutupi pernikahannya di publik semakin lama.


Karena dirinya ingin menunjukan istrinya di khalayak ramai penjuru kota.


"Baiklah..ayo ma." Bimo menyuruh Mamanya agar lebih dulu masuk kedalam lift.


"Bagus deh kalau tau diri." Bisik Leina ketika sampai di depan Alena, dan hanya bisa didengar oleh Alena saja.


Alena hanya diam, dengan hati begitu nyeri namun dirinya harus bersabar dan kuat menghadapi mertuanya dengan segala kata pedas dan cemoohnya.

__ADS_1


Baginya seorang ibu harus dihormati terlepas ibu kandung ataupun bukan, Alena akan tetap menghormati Leina sebagai ibu dari suaminya.


Alena hanya tersenyum dan melambaikan tangan ketika suami dan mertuanya memasuki lift dan pintunya akan segera di tutup.


Alena menggunakan lift karyawan biasa sehingga tiba di lobby kantor lebih lama dari pada menggunakan lift khusus Presdir.


"Ck. lama banget sih istri kamu itu." Ucap Leina kepada Bimo.


Leina menggerutu kesal, harus menunggu di dalam mobil. "Kalau bukan karena akan mempertemukan mereka ogah aku harus bersama gadis itu." batin nya.


Leina yang memiliki rencana mengajak Bimo dan Siera makan bersama di sebuah cafe yang sudah dirinya tentukan.


"Maaf Mas, menunggu lama." Alena duduk di kursi penumpang samping suaminya.


"Gak pa-pa sayang.." Bimo menepuk kepala Alena sekilas.


Dan hal itu tambah membaut Leina semakin tak suka. Entah ada apa dengan hatinya.


Dua puluh menit mobil Bimo terparkir di sebuah cafe yang Mamanya sebutkan.


"Ayo teman Mama sudah menunggu." Ucap Leina menarik lengan Bimo.


Bimo yang ingin menggandeng Alena pun tak bisa karena Mama nya dengan cepat menariknya.


Melihat kejadian itu Alena hanya tersenyum masam, Jika bukan karena menghormati suami dan mertuanya dirinya tidak akan mau di ajak jika hanya tak di anggap.


"Ayo.." Alena yang melihat itu pun tersenyum tangannya meraih tangan suaminya dan menggenggamnya.


Jadi di depan Leina menarik tangan Bimo, di belakang tangan Bimo menarik Alena, bisa di bayangkan keadaan mereka berjalan. wkwkw


"Siera.."


Deg


Kaki Alena berhenti melangkah dan membuat Bimo menoleh ke kebelakang.


Dirinya juga tidak menyangka jika teman yang di maksud Mamanya adalah Siera, rasanya dirinya sangat malas.


"Tante." Siera tersenyum lebar dan berdiri menyambut pelukan hangat Leina.


"Aduh udah lama ya nunggunya." Leina menyapa Siera begitu hangat, berbeda ketika bertemu Alena.


"Ngak kok Tan, aku juga baru selesai pemotretan terus kesini." Siera menatap Bimo sekilas dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Namun hanya mendapat tatapan datar dan dingin dari pria itu.


"Oya.. sini nak duduk, kita makan siang bersama ya." Leina menyuruh Bimo duduk di samping kursi Siera.


"Kita duduk meja lain saja mah." Ucap Bimo yang menarik Alena ke meja yang kosong.


"Eh.. Mas." Alena menjadi bingung.


"Loh, kok gitu? jangan dong sayang kita kan mau makan siang bersama, kalo pisah bukan bersama namanya." Ucap Leina sambil menatap tajam Alena agar mau membujuk Bimo untuk tetap duduk bersama dirinya.


Alena yang melihat itu seketika menjadi ragu. "Mas.." Alena menggelengkan kepalanya. "Kita duduk disana."


Bimo menatap wajah istrinya kesal, dirinya berniat menjaga perasaan istrinya dan tidak mau duduk bersama wanita lain.


"Sayang.." Wajah Bimo mengisyaratkan agar Alena mempertimbangkan ucapanya.


"Tidak baik menolak ajakan Mama." Ucapnya dengan senyum, tangannya mengelus lengan suaminya.


Bimo menghela napas kasar, meskipun dalam hatinya beruntung memiliki istri yang memiliki sifat demikian namun dirinya juga kesal karena Alena terlalu baik dan memikirkan perasaan orang lain.


Mau tidak mau Bimo duduk di meja yang sama dengan Mama dan juga Siera, tapi dia duduk di samping Alena dan Mamanya.


Leina hanya menghela napas dan tersenyum canggung kepada Siera yang sudah berharap jika Bimo mau duduk di samping nya.


Tak lama pramusaji membawakan pesanan yang sudah Siera pesan ketika dirinya datang, namun hanya ada tiga makanan yang Siera pesan.


"Maaf aku tidak tau kalau kita berempat." Ucap Siera dengan wajah bersalah.


"Gak pa-pa sayang, biarkan dia pesan sendiri selera makanya" Leina dengan santainya berucap, tidak memikirkan perasaan Alena.


Tangan Bimo terkepal dengan erat, emosinya sudah naik ketika melihat hanya ada tiga makanan yang tersusun di meja, itu berarti Alena tak dianggap ada.


Alena yang tahu jika suaminya menahan amarah, tangannya terulur menyentuh tangan Bimo di bawah meja.


"Tidak apa-apa nona saya pesan sendiri." Ucap Alena sopan.


"Tidak usah sayang, kamu makan punya ku saja." Dengan telaten Bimo memotong stik daging miliknya dan memberikan kepada Alena ketika daging itu sudah terpotong kecil-kecil.


Alena merasa terharu hatinya menghangat seketika, ketika sempat merasa nyeri atas perlakuan mereka yang tak menganggapnya. "Terima kasih." Seketika senyum manis terpatri di bibir keduanya, Alena Dejavu dengan perlakuan Bimo yang sudah pernah Ia dapatkan.


"Makanlah, aku ketoilet sebentar." Bimo mengelus pipi Alena sekilas. Dan beranjak untuk pergi ketoilet.


Leina dan Siera menjadi penonton kemesraan mereka berdua menjadi geram.

__ADS_1


Prang..


Belum sempat Alena menyuapkan makanan kedalam mulutnya, makanan itu sudah jatuh kelantai bersama piring yang pecah.


__ADS_2