Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part114


__ADS_3

"Sayang sudah siap semua." Tanya Bimo yang kembali bertanya untuk memastikan sang istri.


"Sudah Mas." Alena tersenyum lebar wajahnya nampak bahagia karena hari ini adalah keberangkatan mereka pergi ke Paris untuk berbulan madu.


"Tolong urus perusahaan selama saya tidak ada, dan papa akan menggantikan saya selama pergi." Ucap Bimo kepada Daniel.


"Baik tuan." Daniel pun mengangguk patuh.


Dirinya tidak menyangka jika Alena yang selama ini pendiam dan bekerja sebagai Office girl di kantor menjadi istri bosnya.


Daniel tidak akan percaya jika Bimo tidak menyuruhnya untuk membuatkan pasport untuk Alena, meskipun Daniel tahu Bimo sudah menikah namun dirinya belum tahu jika Alena lah yang menjadi istri bosnya itu.


"Ayo.." Bimo menggenggam tangan Alena untuk memasuki bandara, karena keberangkatan pesawat mereka akan terbang sepuluh menit lagi.


"Ck. aku kira cupu ternyata suhu, diam-diam bergerak mendapatkan bis CEO." Daniel menatap punggung kedua pengantin yang akan berbulan madu dengan senyum.


.


.


.

__ADS_1


"Papa kenapa ada disini?" Tanya Leina yang tiba-tiba masuk kekantor Bimo dengan Siera, berniat mengajak putranya untuk kembali makan siang, namun malah suaminya yang Ia dapatkan duduk di ruangan putranya.


"Tentu saja bekerja, memang apa lagi." Rendy berdiri dari kursinya, menghampiri Leina dan mengajaknya duduk disofa.


Dirinya hanya tersenyum sekilas kepada Siera tanpa menyapa.


"Bekerja? Yang benar saja papa bekerja, memangnya Bimo kemana?" Tanya Leina yang memang tidak tahu jika putranya itu pergi ke Paris.


Rendy hanya menghela napas. "Bimo sendang berusaha membaut tender besar di Paris mah." Ucap Rendy ambigu. Dirinya tidak ingin membuat istrinya kesal dan apalagi ada orang lain diruangan itu.


"Tender besar? kapan dia pergi."


"Bahkan anak nakal itu tidak memberi tahu aku jika pergi ke Paris." Leina kesal, dirinya merasa putranya sekarang semakin menjauh saja darinya.


"Mama terlalu sibuk dengan teman baru mama, sehingga tidak pernah perhatian dengan anak dan menantu kita." Rendy mengelus punggung istrinya.


Siera yang merasa tersindir hanya diam dengan perasaan kesal, ternyata papanya Bimo juga berpihak dengan wanita sialan itu.


"Papa jangan sok tahu ya, Bimo nya aja yang udah di cuci pikiranya oleh wanita itu untuk menjauhi aku." Leina tak terima dikatai demikian.


"Ya, terserah Mama yang jelas untuk satu Minggu kedepan tidak udah mengganggu anak kita, karena dia pasti sibuk dengan proyek baru yang akan merubah hidupnya kelak." Rendy tersenyum dan kembali berjalan menuju meja kerjanya.

__ADS_1


"Dasar anak dan bapak sama-sama nyebelin nya." Leina geram dan kesal.


"Sudahlah Tante lebih baik kita pergi belanja, atau ke salon, sudah lama Siera tidak pernah belanja dengan Tante."


"Baiklah, kepala Tante serasa mau pecah jika mengingat wanita itu." Leina keluar dari ruangan suaminya setelah berpamitan.


.


.


Dibelahan bumi lain, dua insan yang baru saja sampai di kota Paris tersenyum lebar, apalagi melihat Alena yang begitu semangat ketika pertama kali kakinya menginjak di negara Paris.


"Emm.." Alena menghirup napas dalam dengan mata terpejam.


"Kamu suka?" Tangan Bimo melingkar di perut rata istrinya, kini keduanya sudah sampai di apartemen yang pemandangannya menghadap ikon kota Paris yaitu menara Eiffel.


"Hem.." Alena mengangguk. "Sangat suka sayang, terima kasih."


Wajahnya nampak selalu tersenyum melihat indahnya kota yang di bilang tempat paling romantis untuk berbulan madu.


Keduanya hanya menikamati waktu sorenya di apartemen karena Alena merasa lelah dan sedikit mengalami jet lag, karena baru pertama kali pergi dengan naik pesawat dan lebih dari enam belas jam berada di dalam pesawat.

__ADS_1


__ADS_2