
Keterpaksaan bukanlah suatu alasan untuk tidak menerima orang yang sudah membuat kita terluka. Tapi keterpaksaan mampu membuat kita merasa menjadi orang yang begitu dicintai ketika kita bisa membuka hati untuk pasangan kita.
Jangan jadikan keterpaksaan adalah biang masalah ataupun kesalahan karana sudah terjerat oleh suatu hubungan pernikahan.
Cobalah untuk membuka hati dan menerima keadaan dengan lapang dan ikhlas, maka keterpaksaan di awal akan menjadi sebuah pernikahan yang begitu indah dan bahagia jika kita bisa menerima nya dan melaksanakannya dengan ikhlas.
Alexa tersenyum ketika Ren membukakan pintu mobil untuknya.
Mereka memasuki lobby dengan bergandengan tangan, gosip Alexa yang tersebar adalah kekasih sang CEO, tidak tahu saja mereka jika Alexa adalah Nyonya di perusahaan itu.
Ren menggenggam tangan sang istri sampai di depan pintu lift presedir.
"Mas aku naik lift khusus karyawan saja ya." Ucap Alexa yang merasa tidak enak karena banyak pegawai lain yang menatap kearahnya.
Mereka hanya iri melihat Alexa yang bisa menggaet bos mereka.
"Kenapa?" Tanya Ren menatap Alexa dengan kening mengkerut.
__ADS_1
"Kamu tidak lihat mereka sejak tadi menatapku." Ucap Alexa berbisik.
Ren pun melirik sekitar. "Biakan saja." Ren malah dengan senagaja menarik pinggang Alexa.
"Mass.." Alexa mendelik menatap suaminya kesal.
Ren hanya tersenyum dan menarik Alexa masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Di dalam Ren malah mendekatkan wajahnya pada wajah Alexa, padahal pintu lift belum sepenuhnya tertutup membuat karyawan yang masih melihatnya berteriak histeris.
"Ya ampun, pasti di dalam sana sangat hot." Ucap dari salah satu mereka.
Mereka semua tidak percaya jika bos yang mereka kenal begitu panas ketika dengan pasangannya.
.
.
"Selamat bekerja, dan semangat." Ucap Alexa tersenyum dan mengusap sudut bibir Ren yang terdapat warna merah lipstik miliknya menempel karena sudah akan sampai di lantai tujuh.
__ADS_1
Ren hanya tersenyum, dan bergantian membersihkan bibir Alexa yang belepotan, tapi tidak menggunakan jari.
"Emph.." Alexa meleguh ketika bibir nya kembali di serang dengan kasar dan menuntut. Bahkan jari Ren menekan tombol lift agar sampai di lantai sepuluh.
Ren menekan tengkuk Alexa agar ciuman mereka semakin dalam membuat Alexa terlena dengan cumbuan bibir suaminya.
"Mas..engh." Alexa mendesis ketika tangan Ren meremat kedua miliknya dengan kuat.
Ting
Ren melepas bibirnya ketika mendengar pintu terbuka, dan Ren masih waras jika dirinya tidak ingin memberi contoh yang tidak baik di dalam lift.
Wajah Alexa merah padam, gairahnya naik namun harus di hempaskan dengan keadaan.
Ren mengulum senyum, dirinya juga menahan hasrat yang sudah membumbung tinggi, " Mau di lanjutkan." Bisik Ren dengan napas memburu.
Alexa hanya menunduk untuk menormalkan detak jantung dan pernapasannya.
__ADS_1
Mungkin ini mendekati masa preodenya karena Alexa merasakan jika akhir-akhir ini dirinya selalu cepat terpancing gairah dengan sentuhan sang suami, terkadang Alexa menginginkannya jika mereka sedang tidak melakukannya, dan itu membuat Alexa malu dan gengsi jika memintanya lebih dulu, dan Alexa memilih untuk menekan hasratnya.
Ren yang tidak mendapat jawaban, menarik langsung tangan Alexa, tidak peduli jika para bawahnya melihatnya, yang jelas jika di ruanganya Ren bebas melakukan apa saja.