Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part109


__ADS_3

Alena keluar dari kamar mandi dan tidak menemui suaminya berada di kamar.


Menghela napas dalam Alena berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan suaminya.


"Alis baru pulang?" Tanya Alena yang melihat Alisa bersama mbak Mirna baru masuk ke dalam rumah.


"He'em." Ucap Alisa sambil menganggukkan kepalanya dengan wajah cemberut.


"Yasudah ganti baju dulu, kakak punya eskrim banyak nanti kita makan bersama."


"Hore..makan eskrim." Wajah Alisa seketika bahagia dan langsung berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


"Di sekolah dia selalu diikuti teman cowok yang namanya si Dodot itu, jadi dia kesal." Ucap Mirna yang mengambil air minum di dapur, ketika Alena juga berada di dapur.


"Oh..pantas saja wajahnya kesal begitu." Alena terkekeh.


"Kopi buat siapa?" Tanya Mirna melihat Alena meracik kopi di cangkir.


"Mas Bimo."


"Tidak ke kantor."


"Tidak sepertinya, yaudah aku antar kopi dulu, mbak temani Alisa makan eskrim di sana ada banyak." Tunjuk Alena pada lemari pendingin dua pintu itu.


Alena mengetuk pintu ruang kerja Bimo di lantai dua.

__ADS_1


"Masuk."


Membuka pintu setelah mendapat sahutan dari dalam.


"Kopinya Mas." Alena menaruh minuman itu di meja kerja Bimo.


Menaruh pena yang Ia pegang wajahnya mendongak menatap sang istri yang masih berdiri didepannya.


"Kenapa?" Tanya Alena yang melihat suaminya hanya diam menatapnya tanpa bicara.


"Kita undur jadwal lusa menjadi Minggu depan, yang pasti setelah tamu bulanan kamu itu pergi." Ucap Bimo dengan nada kesal.


Dirinya mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya frustasi harus menahan hasrat yang sudah di ujung tanduk. Dan berakhir dirinya harus bermain solo di kamar mandi ruang kerjanya.


Alena hanya mengangguk, dirinya masih merasa bersalah melihat wajah suaminya yang masih kesal.


"Mau apa?" Tanya Bimo yang heran, jangan bilang jika Alena ingin kembali mengerjainya setelah dirinya benar-benar sudah diubun-ubun.


Cup


Alena mengecup bibir suaminya sekilas. "Maaf." Ucap Alena setelah kembali menegakkan badannya.


Bibir Bimo mengulum senyum, entah mengapa akhir-akhir ini istrinya itu sangat manis.


Membuat dirinya semakin mencintai istrinya.

__ADS_1


.


.


.


"Kamu sakit apa Len, aku gak tau kalau kamu sakit dan dirawat." Ucap Gina dengan wajah merasa bersalah, sebagai sahabat dirinya tidak tahu jika Alena sakit hingga di rawat.


"Hanya demam, tidak udah khawatir." Keduanya sedang berada di pantry. Alena kembali masuk bekerja setelah tiga hari tidak masuk karena sakit. Dan kini Ia mulai kembali bekerja setelah berdebat lagi dengan sang suami yang belum bisa memberinya ijin masuk, meskipun begitu Alena berhasil menyakinkan suami posesifnya itu.


"Demam Samapi di rawat, gimana aku gak khawatir." Gina mencebikkan bibir nya, semua gara-gara Yuda yang selalu mengerecoki nya.


"Tidak apa-apa, buktinya aku sudah bisa disini lagi sama kamu." Alena tersenyum.


"Iss.. bos itu keterlaluan, kenapa bolehin kamu masuk kalau baru keluar dari rumah sakit." Gina menggerutu menyalahkan Bimo yang mengijinkan Alena bekerja.


"Bukan dia, tapi aku yang memaksa."


"Sama saja, kalau kamu sakit lagi gimana." Gina masih saja kesal.


Ehem


Suara deheman keras menyadarkan keduanya yang asik mengobrol.


"P-pak bos." Gina menciut dengan wajah menunduk karena takut, jika ocehannya di dengar bos sekaligus suami dari sahabatnya itu.

__ADS_1


Alena hanya tersenyum dan menggeleng, melihat Gina menjadi ciut, padahal tadi semangat untuk membicarakan suaminya itu.


__ADS_2