Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Diaz dan Gesya


__ADS_3

"Tolong berhenti, apa salah kami." Ibu Gesya sudah menangis sesenggukan dengan memeluk satu putranya.


Tiba-tiba datang dua preman dan mengobrak abrik isi rumahnya, dan ibu Gesya tidak tahu siapa orang itu. Karena tidak merasa memiliki hutang pada rentenir atau apapun, dan kini mereka dengan seenaknya mengobrak abrik isi rumahnya hingga berantakan dan rusak.


"Bilang sama putrimu itu, jauhi tuan Diaz, jika tidak maka kalian tanggung akibatnya." Preman itu menatap tajam ibu Gesya, menendang apapun yang ada didepan dan berlalu pergi.


"Ibu siapa mereka." Tanya adik Gesya yang ketiga, masih duduk disekolah dasar.


"Ibu tidak tahu nak, ayo kita bereskan." Ibu Gesya masih berpikir kenapa para pria itu menyebut putrinya untuk menjauhi Diaz, jadi siapa mereka?


Dikantor Diaz memang sudah tidak lagi menyembunyikan hubunganya dengan Gesya, tapi itu hanya di divisi keuangan saja. Karena Diaz dan Gesya tidak suka hubungan yang di umbar ke publis karena mereka memang bukan artis.


Hanya saja terkadang Gesya harus tahan panas karena banyak wanita yang membicarakan Diaz, mereka bergosip jika Diaz sedang menjalin hubungan dengan wanita misterius, karena memang paras Diaz yang tampan dan juga baik membuat kaum hawa menjadi terpesona dan banyak yang mengidolakannya.


"Sya, ada pak bos tuh." Mita melirik ke arah pintu, dimana Diaz yang baru saja masuk keruangan anak buahnya. Sebentar lagi jam istirahat Diaz menghampiri Gesya untuk makan siang bersama.


Gesya menoleh dan melihat Diaz menyapa rekan laki-laki diruangan itu.


Alexa sendiri sudah keluar sejak lima menit lalu, karena ada janji dengan suaminya untuk mengantarkannya ke dokter.


"Hay, sudah selesai." Diaz menghampiri Gesya dan tersenyum. Pria itu selalu menampilkan senyum manis untuk sang kekasih.


"Em.. Sudah." Gesya, membereskan meja kerjanya, siang ini mereka akan pergi ke sebuah toko perhiasan.


Diaz sudah melamar Gesya, dan meminta ijin kepada ibunya, Tapi Diaz belum memberikan Gesya cincin. Tidak perduli jika keluarganya tidak setuju, Diaz bisa menghidupi istri dan anak-anaknya kelak tanpa harus meminta kepada orang tua.


Cukup sekali Diaz di kecewakan oleh orang tuanya, dan sekarang Diaz berhak untuk memilih kebahagiaannya sendiri.

__ADS_1


"Elah, yang lagi kasmaran. Gue selalu ditinggal." Ucap Mita yang juga sedang membereskan mejanya.


"Dih, mbak tu yang selalu ninggalin aku. Sok merasa menderita." Gesya mencebik, membuat Mita tertawa.


"Hahaha, iya deh. Ayo kita keluar." Mita menggandeng tangan Gesya, berjalan lebih dulu sedangkan Diaz mengikuti mereka dari belakang bersama rekan pria lainya.


Sampainya di lobby, Mita dan Gesya berpisah. Gesya menunggu Diaz yang sedang mengambil mobilnya.


Tin


Gesya pun menoleh dan tersenyum, mendekati mobil Diaz Gesya segera naik, dia memilih menunggu didepan kantor pinggir jalan agar tidak ada yang melihat.


"Kita ke toko perhiasan dulu sayang, setelah itu kita makan siang." Ucap Diaz yang sudah kembali menjalankan mobilnya. Gesya hanya mengaguk.


"Apa Mas, tidak mau meminta restu pada keluarga Mas." Tanya Gesya dengan hati-hati, praktis sejak kejadian waktu itu Diaz tidak lagi membahas kedua orang tuanya.


Tak lama ponsel Gesya berdering.


"Ibu.."


"Halo Bu.."


"..."


"Apa? terus keadaan ibu bagaimana?" Gesya nampak panik, mendengar cerita dari ibunya.


"Iya Bu, Gesya pulang sekarang."

__ADS_1


"Mas maaf aku harus pulang, tadi ada dua preman yang mengacak-acak rumah ibu." Wajah Gesya begitu kahawatir dan panik.


"Iya, mas antar kamu." Diaz menggenggam tangan kekasihnya, mendengar ucapan Gesya membuat Diaz berpikir sesuatu. Kejadian ini sudah pernah dia dengar dan akan berkelanjutan jika tidak di hentikan.


'Mama.' Gumamnya dengan mencekram setir kemudi.


Tak lama mobil Diaz sampai di perkarangan rumah Gesya, seperti yang dikatakan ibunya, isi rumahnya berserakan diluar.


"Ibu.." Gesya keluar mobil langsung berlari menghampiri ibu dan adiknya yang sedang membereskan kekacauan.


"Nak.." Keduanya berpelukan, "Apa yang terjadi Bu, siapa mereka." Gesya menatap ibu nya sendu.


"Kita masuk dulu, bicara didalam." Ucap ibu Gesya mengajak masuk putrinya dan juga Diaz.


Keadaan dalam rumah juga kacau, tapi tidak sekacau tadi karena ibunya sudah sedikit merapikan.


"Ibu saya minta maaf." Diaz yang sudah duduk didepan ibu dan Gesya bersuara lebih dulu.


"Mas kenapa minta maaf." Gesya menatap Diaz bingung.


"Kekacauan ini pasti karena orang suruhan Mama saya."


Deg


Gesya mematung, jadi semua ini karena ibunya Diaz yang tidak suka padanya.


"Nak Diaz, lebih baik selesaikan masalah nak Diaz dulu, kami tidak ingin ada keributan. Apalagi sampai seperti ini." Ucap ibu Gesya.

__ADS_1


Diaz hanya mengaguk. "Baik Bu, akan saya selesaikan. Dan ini untuk terkahir kaki mereka menganggu ibu." Jawab Diaz sungguh-sungguh. Jika dulu dia diam karena terlambat tahu, sekarang Diaz tidak akan diam saja melihat perbuatan Mamanya apalagi sampai membuat hubunganya dengan Gesya harus kembali hancur itu tidak akan terjadi.


__ADS_2