
Hari mulai gelap, seiring dengan awan hitam yang mulai merangkak menutup bintang yang bersinar.
Petir menyambar dengan kilatan yang membuat semua orang memilih diam di dalam rumah.
Alexa menatap jendela besar kamar apartemen miliknya, yang mulai turun hujan.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam tapi dirinya belum bisa memejamkan matanya, pikiranya hanya tertuju pada suaminya.
Apa kabar Ren yang di sana, apakah pria itu melewati harinya dengan baik, dan apakah pekerjaan sumainya selesai dengan baik. Sudah lima hari terhitung Ren pergi, dan sejak itu Alexa tidak mendapat kabar dari suaminya, pesan terakhir yang dia kirim pun tidak di baca oleh Ren. Alexa membuang jauh-jauh pikiran negatifnya dia lebih memilih mendekatkan diri kepada sang pencipta dan berdoa untuk keselamatan suaminya.
Meskipun hatinya selalu risau, tapi Alexa selalu membuat dirinya merasa baik-baik saja, karena sekarang dia tidak sendiri melainkan ada kedua buah hatinya.
Alexa mengelus perutnya, tersenyum menatap perutnya yang semakin bulat, Ini adalah bulan ke lima usia kandungannya, dan lusa adalah jadwal dirinya kontrol. Alexa berharap jika lusa suaminya sudah pulang, karena bulan-bulan sebelumnya Ren selalu menemaninya untuk melakukan kontrol bulanan.
"Sepertinya kalian merindukan papa." Alexa mengelus perutnya yang sejak tadi bergerak, kedua putrinya sedang aktif di dalam sana, biasanya jika sedang seperti ini, Ren selalu mengelusnya untuk menenangkan keduanya.
__ADS_1
"Sabar sayang, sebentar lagi papa pulang." Ucapnya lagi, dengan menahan sesak di dada. Alexa mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.
Berjalan menuju ranjang, Alexa merebahkan diri dengan hati yang gundah, rindu yang dia pendam selama hampir seminggu membuatnya kian sesak.
.
.
Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, sejak tiga jam tadi ditutup untuk semua penerbangan, Ren yang seharusnya terbang di jam lima sore tidak jadi dikarenakan cuaca buruk, dan karena itu dia harus menunggu selama cuaca sudah kembali baik untuk terbang.
"Bos." Juno mengambil alih koper yang Ren bawa. Juno yang mendapat kabar jika bos-nya akan sampai petang pun menunggu tapi tidak jadi, dan kini pria dengan wajah batalnya itu menjemput Ren di bandara pukul dua dini hari setelah mendapat kabar mendadak.
"Apa istriku baik-baik saja." Tanya Ren yang sudah duduk di kursi penumpang samping Juno.
"Baik, nona mejalani hari seperti biasa." Jawab Juno sambil menghidupkan mesin mobilnya.
__ADS_1
Ren hanya mengangguk, dirinya berharap Alexa baik-baik saja dan melakukan aktifitas seperti biasa penuh dengan semangat.
"Sepertinya anda pulang lebih cepat dari waktu yang diperkirakan." Tanya Juno yang senang melihat bosnya sudah kembali pulang ke Jakarta.
"Ya, semua dipermudah dan ada orang baik yang bisa di andalkan." Ren mengingat Yudi, dan pertolongan Tuhan yang mempermudah urusanya, sehingga dirinya bisa pulang lebih cepat.
"Apakah mereka yang korupsi sudah tertangkap." Tanya Juno lagi yang tahu masalah itu. Karena dirinya lebih dulu yang mendapat laporan sebelum memberi tahu bos-nya.
"Ya, tadi pagi mereka bertiga ditangkap sedang berpesta narkoba, di salah satu bar pelosok kota Bali. Dan semua bukti sudah aku selesaikan hanya tinggal sidang dan sudah aku wakilkan pada Yudi sebagai saksi dan didampingi pengacara kita disana." Tutur Ren bercerita. Dia memang menyerahkan pada Yudi, di bantu pengacara handal miliknya yang sengaja datang dari Jakarta. Ren mempercayakan semuanya kepada mereka, karena dia sudah tidak bisa lama-lama jauh dari Alexa tanpa kabar sama sekali.
Setelah dua puluh menit mobil Juno sampai di basement apartemen Ren, pria itu membantu mengeluarkan koper milik bosnya.
"Terima kasih, sudah merepotkan." Ren mengambil alih koper yang juno bawa. "Pulanglah, akhir bulan bonus akan di kirim." Setelah mengatakan itu Ren pun pergi meninggalkan Juno yang tersenyum lebar kegirangan, matanya yang mengantuk berubah terang mendengar kata bonus.
"Gue bisa cepet kamar di Kemala kalau begini." Ucap Juno senang, dirinya berniat akan melamar kekasihnya bulan depan.
__ADS_1