
Pukul dua siang tamu yang Leina undang berdatangan kerumah putranya, atau tepatnya rumah Alena karena memang rumah itu milik Alena dan Leina tidak tahu itu.
"Duh jeng, rumah anak jeng bagus juga ngak kalah bagusnya sama rumah jeng Leina." Ucap teman Leina yang bernama Susi.
"Aduhh..terima kasih loh udah mau datang kesini, karena kebetulan saya sedang berada disini." Leina menyapa dan menyambut beberapa teman sosialitanya dengan wajah senang, ada sekitar delapan orang yang datang.
"Wah kalau begini sih pasti banyak gadis yang mengejar anakmu jeng Leina, udah tampan mapan kaya lagi." Ucap teman Leina lainya dengan meminta pendapat para sahabatnya.
"Iya betul itu jeng, coba aja kalau saya punya anak gadis pasti sudah saya jodohkan dengan anak jeng Leina."
Leina hanya tertawa menanggapi ucapan teman sosialitanya.
"Duh..jeng kalau soal itu mah saya udah pilih calonya." Ucap Leina lagi.
"Yahh..padahal saya ingin mengenalkan anak jeng dengan keponakan saya loh." ucap salah satu dari mereka yang nampak kecewa.
"Sebentar lagi pasti dia datang."
Dan benar tak lama suara mesin mobil berhenti di depan, selang berapa menit suara perempuan menyapa mereka.
"Siang Tante, siang semuanya." Siera datang dengan penampilan begitu cantik dan anggun nya, dirinya tersenyum manis untuk menyapa teman mamanya Bimo.
"Nah, jeng-jeng kenalin ini calon mantu pilihan saya." Leina merangkul lengan Siera.
__ADS_1
"Pantes saja jeng Leina tidak mau yang lain, ternyata calon menantunya model terkenal." Ucap mereka yang mengetahui jika Siera adalah seorang model.
"Iya dong, saya juga kan harus memilih yang cocok dan serasi." Ucap Leina dengan bangganya.
Mereka semua mengangguk setuju.
"Yasudah ayo kita makan bersama." Leina menyuruh semua temanya untuk mengikutinya kemeja makan.
"Wahh jeng, sepertinya menu hari ini lengkap dan beda dari biasanya." Ucap Susi yang memperhatikan hidangan di atas meja dengan banyak masakan dan menu lainya.
"Ahh..jeng Susi tau saja, memang hari spesial karena sedang berada di rumah anak saya."
Mereka semua duduk di tempat masing-masing dan mulai mencicipi hidangan makanan yang tersaji.
"Iya loh,,, kalau begini caranya diet saya bisa gagal hari ini."
Mereka semua tertawa mendengar itu. Memang Leina akui jika masakan Alena begitu enak dan lezat bahkan dirinya belum pernah mencicipi makanan seenak ini.
"Siapa yang memasak semua ini jeng, pasti pesan dari restoran mahal ya." Tanya Susi pada Leina.
"Bukan jeng, ini hasil masakan pembantu disini..kebetulan dia pintar masak dan sebagainya, biasa jeng lihat semua di meja hasil masakan pembantu di rumah ini." Ucap Leina dengan entengnya.
Di balik dinding Alena menahan sesak didada, ketika mendengar ucapan sang mertua. Alena yang susah payah ingin mengambil minum kebawah, ternyata malah mendengar ucapan mertuanya yang begitu melukai hatinya, apalagi bisa Alena lihat jika disana juga ada Siera yang sedang ikut tertawa.
__ADS_1
Alena menahan Isak tangisnya namun air matanya tak bisa Ia tahan, berjalan perlahan meninggalkan tempat yang membuat dadanya sesak, Alena tertatih menuju kamar nya kembali.
Alena pikir ibu mertuanya tidak akan sampai hati mengganggap nya pembantu, apalagi di depan teman dan Siera.
Berderai air mata, Alena kembali merebahkan tubuh lemas nya di tempat tidur, dengan Isak tangis yang sejak tadi dirinya tahan.
Sejak tadi dirinya menahan sakit di perutnya wajahnya nampak sekali pucat, bibir yang biasanya ranum kini menjadi pucat. Mengambil ponsel di atas meja Alena melihat ada pesan masuk dari suaminya.
Jangan lupa makan sayang, biar tenaga mu pulih, hari ini aku ada kunjungan keluar kota, tadi aku sudah menelpon mama untuk memberi tahu mu.. Jangan telat makan ya... salam sayang dari suami yang mencintaimu...
Alena tersenyum dengan tangisnya, suara isak tangisnya terdengar sesak.
Sudah pukul empat sore dan biasanya Bimo akan segera pulang, tapi melihat pesan yang suaminya kirim pasti Bimo akan pulang malam, apalagi keluar kota.
Tring
Satu pesan masuk ke ponselnya, Alena segera membuka nya.
Len Mbak ijin bawa Alisa ke saudara mbak yang sedang ada acara, jika tidak bisa pulang kami akan menginap, mas Fandy juga sudah menyusul kami,, kamu jaga diri baik-baik ya..
Pesan dari Mirna membuat Alena semakin menangis. Dirinya ingin meminta tolong kepada Mirna tapi malah Mirna tidak pulang, meminta tolong Gina itu tidak mungkin. Yuda Alena sama sekali tidak memiliki nomor Yuda.
"Tuhan kuatkan aku." Alena kembali memejamkan matanya berharap agar waktu cepat berlalu, dirinya tidak kuat jika harus seperti ini, merasakan sakit di tubuhnya dan juga hatinya.
__ADS_1
Meskipun di depan orang terlihat baik-baik saja, tapi hatinya tidak ada yang tahu, betapa rapuhnya Alena ketika orang yang sangat berarti untuk suaminya tidak pernah menganggapnya ada. Apalagi untuk menerimanya Alena tidak yakin jika dirinya bisa mengambil hati mertuanya.